Matinya Burung-Burung

Adalah seorang kawan, yang sudah saya anggap sebagai abang (Hai, Bang Hengki Rumah Kaca) yang memperkenalkan karya penulis Amerika Selatan pada saya. Buku fiksi pertama yang saya baca berjudul “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” karya Luis Sepulveda. Novel (atau novelet?) ini sangat singkat dan ceritanya sebenarnya sederhana. Latar belakang kehidupan yang diangkat juga sangat sederhana.

Beberapa bulan kemudian, Abang saya itu juga menyarankan saya membeli buku kumpulan cerita penulis-penulis Amerika Latin, “Matinya Burung-burung.” Lama buku ini mengendap di rak buku, hingga dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk membacanya.

Matinya Burung-Burung

Saya benar-benar salut dengan penulis-penulis Amerika Latin. Cerita mereka sederhana, bukan menggambarkan konflik yang demikian rumit, tapi justru dalam kesederhanaan plot dan penokohan itu, banyak kerumitan yang terpendam. Apakah karena terlalu rumit maka ia menjadi terlihat sederhana?

Namanya juga kumpulan cerita sangat pendek, ceritanya ya memang ada yang pendek ada yang teramat sangat pendek! Misalnya cerita berjudul Minimus 3 (Jose Lira Sosa) yang memuat dua kalimat,

“Segalanya bergerak. Tak ada yang diam karena itu bertentangan dengan hakikat alam semesta, kata sang filsuf sambil meringkuk nyaman di sofa favoritnya.”

Jpeg

Atau cerita berjudul Dinosaurus karya Augusto Monterroso, yang hanya berisikan satu kalimat saja,

“Ketika ia terbangun, dinosaurus itu masih ada di sana.”

Betul-betul cerita yang bangke sekali. Cukup satu atau dua kalimat, tapi menohok langsung ke ulu hati.  Cerita Minimus 3 misalnya, dalam dua kalimat itu saja, penulis sedang menyindir kebanyakan dari kita yang sibuk bercuap-cuap dari kejauhan, mengomentari tentang satu persoalan, dengan segala idealisme yang dimiliki atau dipelajari. Pejuang jempol, kalau saya boleh katakan. Mereka yang masturbasi pikiran dan hanya masturbasi pikiran saja. Tapi, di sisi lain, betulkah orang yang tidak bergerak secara fisik juga tidak bergerak? Padahal berpikir sendiri pada hakikatnya adalah pergerakan berbagai impuls listrik di dalam otak? Padahal selama manusia masih hidup, seluruh hal yang ada di dalam tubuhnya ikut bergerak? Apakah dia tak berkontribusi apa-apa?

Cerita Dinosaurus, yang dengan kurang ajarnya hanya berisi satu kalimat, juga bisa membuka ruang diskusi yang menarik. Siapa “ia” yang dimaksud? Dinosaurus itu digunakan untuk mengumpamakan apa? Tidak terjadinya perubahan kah? Atau tentang kondisi sosial yang meski tahun berubah, perkembangan teknologi semakin maju, tapi tetap sama atau malah mundur ke belakang. Apakah dinosaurus yang dimaksud adalah sosok seseorang yang menakutkan? Yang bercokol lama dalam suatu sistem pemerintahan atau sistem sosial?

Satu dua kalimat jahanam yang akan membuat pembaca berpikir. Bahkan bila pembaca malas berpikir pun ia masih bisa dinikmati sambil lalu. Belum lagi cerita-cerita teramat singkat yang ada di kumpulan cerita “Matinya Burung-burung” ini. Cerita-cerita di dalamnya berlatarbelakang kondisi sosial yang mirip dengan kondisi sosial di negara kita. Sehingga tidak akan terlalu sulit untuk terhubung ke dalam cerita tersebut.

Karena kumpulan cerita ini, saya disarankan oleh teman-teman untuk membaca novel-novel karya beberapa penulisnya yang katanya lebih menggila lagi. Saya cukup tertarik. Nanti bila ketemu bukunya, tentu akan saya baca. Mungkin tidak segera, tapi pasti.

Selamat Hari Kartini

Hari ini adalah salah satu hari yang akan dipenuhi dengan perdebatan. Dari zaman saya SMP sampai sekarang sudah mau osteoporosis begini, setiap tanggal 21 April, selalu ada yang berdebat tentang Hari Kartini. Dan materi ributnya itu lagi itu lagi. Sinetron Tersanjung yang sampai delapan tahun aja (eh, apa sepuluh tahun ya?) masih ada variasi (walaupun sedikit sekali) ceritanya, ini materi debat tentang Hari Kartini nggak jauh-jauh dari :

  •  Mengapa harus Kartini yang diangkat? Memangnya Kartini itu ngapain? Cuma bisa nulis-nulis aja kok. Udah gitu dia dipoligami lagi! Apa kontribusi dia bagi perjuangan? Kenapa nggak pejuang wanita yang ikut perang dalam kemerdekaan yang dijadikan simbol?!
  • Kenapa perayaan Kartini itu selalu simbolik? Buat apa pakai kebaya-kebaya segala?

 Dari jaman harga bensin masih dua ribu sampai sekarang sudah tujuh ribu, itu-itu saja yang diributkan.  Okelah kalau masyarakat protes mengapa Kartini yang diangkat. Sampai ada yang menduga apa karena kedekatan dia dengan orang Belanda, sahabat penanya itu. Yang di luar Jawa mungkin lebih sensitif lagi, dengan menganggap bahwa dijadikannya tanggal lahir Kartini sebagai suatu bentuk peringatan perjuangan perempuan adalah hal yang Jawasentris. Yang mana mungkin saja benar, karena Pak Harto lah yang mencanangkan hari tersebut.

 Tapi ini sudah tahun 2016. Masa iya materi ributnya masih dua poin itu melulu? Yang terpancing ribut juga perempuan lagi. Lalu terciptalah dua golongan perempuan di tanggal 21 April, yang sinis dan yang membela. Apa nggak bosan setiap tahun, di tanggal 21 April, mengritik perayaan Hari Kartini yang sangat mengutamakan simbol? Yang membuat perjuangan perempuan tidak maju-maju karena fokus pada simbol?

 Lho, Mbakyu, yang merayakan secara simbolisme itu ya masyarakatmu juga, orang-orang di sekelilingmu juga. Mbakyu sudah berbuat apa supaya masyarakat kita, yang dari zaman nenek moyang nyembah pohon sampai sekarang nyembah Tuhan Yang Maha Esa, sangat mementingkan simbol. Kita sudah berbuat apa, Mbakyu, untuk menyadarkan keluarga kita (yang paling dekat), anak didik kita, teman-teman kita agar tidak mementingkan simbol?

 Teman-teman yang dari tahun ke tahun selalu mengisi Hari Kartini dengan lebaran opini “kenapa bukan para wanita pejuang yang kita peringati, malah kartini yang Cuma nulis saja?” apakah bisa menjawab apabila ditanya sejarah hidup Laksamana Malahayati, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, dan pejuang wanita lainnya di Nusantara?

 Yang di luar Jawa dan ribut tentang Jawanisasi pemerintah dengan mencanangkan peringatan hari lahir Kartini, apakah sudah mengajarkan pada anak-anak kita sejarah tentang pahlawan perempuan dari daerahnya masing-masing? Atau Cuma mengeluh dan beralasan tidak ada waktu atau tidak ada dalam bagian kurikulum sekolah?

 Apakah teman-teman juga sudah membaca kumpulan surat-suratnya Kartini? Apakah teman-teman juga mengetahui bagaimana situasi sosial di zaman Kartini hidup? Bagaimana keadaan keluarganya? Bagaimana kiprah saudara-saudaranya Kartini? (saya baru baca loh, ternyata keluarga kartini ini memang peduli sekali soal pendidikan dan kesejahteraan sosial terutama perempuan)

 Teman-teman perempuan yang mencibir Kartini yang menentang poligami tapi mengalami poligami itu sendiri, apakah sudah memahami mengapa Kartini mau menjalani itu? Apakah mungkin di zaman itu, seorang Kartini menolak perintah ayahnya?

 21 April mungkin akan lebih berwarna bila lebih banyak lagi kegiatan atau perjuangan perempuan diangkat ke dalam liputan dan tulisan-tulisan. 21 April juga mungkin akan lebih berwarna bila dijadikan sebagai momentum untuk membahas permasalahan terkini yang melibatkan kaum perempuan. Masalah pernikahan anak, keterwakilan suara perempuan di parlemen (dan apakah benar jumlah yang dimaksud itu betul-betul terlibat dalam berbagai proses di lembaga perwakilan rakyat kita), masih kentalnya budaya patriarki di berbagai daerah, kekerasan seksual, tingkat pendidikan perempuan, kesehatan reproduksi, waktu cuti melahirkan, biaya bulanan tempat penitipan anak yang sangat mahal bagi ibu-ibu yang bekerja, dan sebagainya.

 Mudah-mudahan hari ini saya juga lebih banyak membaca artikel-artikel tentang kehebatan perempuan-perempuan di Indonesia yang melakukan perubahan baik skala kecil maupun besar. Karena mereka, bagaikan Kartini, tak berhenti meskipun berada dalam keadaan yang terbatas.

 Meminjam perkataan Ayah Pidi Baiq, Kartini dan seluruh wanita yang bergerak melakukan perubahan, adalah mereka yang memiliki pikiran melangit dan hati yang selalu membumi.

 Salam hormat saya untuk para perempuan di mana pun mereka berada.

 —-

Ps: saya akui, di suatu ketika saya masih sangat naif, saya juga terlibat dalam perdebatan tak berfaedah di tanggal 21 April. Keterlibatan saya itu karena saya tidak tahu dan sangat bodoh sekali. Saya begitu naif untuk berpikir bahwa hal yang penting hanyalah perlawanan secara fisik terhadap penjajahan, terhadap orang asing.  Tak terpikirkan oleh saya di masa itu, bahwa perlawanan terhadap penjajahan, oleh kelompok kita sendiri, juga perlu dilakukan. Tak terpikirkan pula oleh saya, melawan penjajahan itu dimulai dari berpikir. Saya juga tak mempertimbangkan kondisi Kartini di masa itu.

 Untunglah saya lekas sadar bahwa banyak hal yang perlu dilihat sebelum kita menilai dan menghakimi sesuatu. Banyak hal yang tak sesederhana apa yang terlihat.

Betina Berotak Jantan

005159900_1460537813-2016413_demo_tolak_semen_fsg_10

(gambar diambil dari sini)

Beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan oleh berita sembilan orang ibu dari Kendeng datang ke Jakarta dan memasung kaki mereka di depan Istana Negara. Berita mengenai hal tersebut bisa dibaca di tautan berikut (ada banyak berita tentang Kartini Kendeng dengan aksi mereka memasung kaki di dalam semen, silahkan mencari di Google).

Kesembilan ibu ini datang dari Kendeng untuk meminta Pak Jokowi menghentikan proyek pembangunan pabrik semen di Kendeng. Berbulan-bulan ibu-ibu ini berjuang agar proyek tersebut dihentikan. Kesembilan ibu ini mewakili saudara-saudara mereka menuntut keadilan demi lahan sawah mereka yang terancam kering apabila pabrik semen tetap dibangun.

Aksi mereka beberapa hari yang lalu menuai berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk dari netizen yang mulia. Ada yang simpati bahkan empati dengan kesembilan ibu tersebut, dan ada pula yang mempertanyakan motif ibu-ibu tersebut melakukan aksi yang membahayakan seperti itu. Tuduhan juga muncul bahwa ada LSM yang merancang aksi tersebut. Komentar tak mengenakkan tentu saja ikut muncul, tak mau kalah.

Dari seluruh reaksi netizen yang mulia, yang paling membuat saya geram adalah komentar yang mempertanyakan mengapa harus ibu-ibu yang berjuang ke Jakarta dan melakukan aksi yang membahayakan kesehatan dan keselamatan nyawa mereka. Juga ada yang mempertanyakan mengapa para suami tidak melarang istri mereka melakukan hal tersebut. Ada lagi yang berkomentar bahwa harusnya ibu-ibu tetap berada di dalam ranah domestik. Wah, sungguh saya sangat geram sekali. Celakanya, yang berkomentar seperti itu adalah perempuan juga! Beku otak saya mendadak ketika membaca komentar mereka.

Kegeraman saya memuncak ketika membaca berita hari Sabtu ini tentang tanggapan aktris yang memerankan tokoh Cinta, Dian Sastro, mengenai aksi kesembilan ibu-ibu dari Kendeng tersebut. Dian Sastro pun memiliki pendapat yang sama dengan netizen yang mulia: kok ibu-ibunya yang berjuang? Lelakinya ke mana sehingga harus para ibu yang maju ke depan? Padahal harusnya ibu-ibu cukup di ranah domestik saja.

Apakah mereka sebelum berkomentar seperti itu sudah mencari tahu mengapa para ibu yang maju di Kendeng sana? Mengapa kesembilan Ibu yang kemarin beraksi itu nekat ke Jakarta dan melakukan aksinya meskipun sudah dicegah oleh banyak orang? Apakah mereka setidaknya sebelum memberikan komentar, membuka laman Google dan mencari tahu tentang Kendeng? Tidak!

(bagi Anda yang penasaran mengapa sih ibu-ibu ini sampai senekat itu, Anda bisa membaca tulisan bernas dari Mbak Kalis Mardiasih yang dimuat di laman Mojok dengan judul : Mengapa Kita Barus Berpihak Pada Aksi Dipasung Semen)

Sakit kepala saya.

Bila Kartini bisa saya hubungi sekarang juga, dan saya menceritakan apa yang terjadi, saya kira Kartini akan menangis. Seandainya saya bisa chatting dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati di grup Whatsapp bernama Pejuang Wanita Aceh, barangkali mereka akan bersumpah serapah. Kalau saya bisa Skype dengan Christina Martha Tiahahu, bisa jadi dia mengusap kening karena sakit kepala tak tertahankan.

Bagaimana mungkin para perempuan tersebut berkomentar seperti itu? Mereka yang menikmati kebebasan berpendapat, mencari nafkah, berseliweran ke sana dan ke mari, yang tidak dipingit di dalam rumah, mengatakan bahwa ibu-ibu sebaiknya tidak mencampuri urusan politik dan kembali ke ranah domestik saja? Dian Sastro yang mantan anggota DPR, yang jelas-jelas pernah berada dalam ranah politik praktis, berani betul mengatakan agar kesembilan Kartini Kendeng tersebut kembali ke ranah domestik?

Ini sungguh seperti materi Stand Up Comedy yang tidak lucu! Berpuluh-puluh tahun perempuan di Indonesia ini memperjuangkan haknya. Untuk mendapat pendidikan, pekerjaan, mewakili kaumnya di parlemen, dan setelah sedikit yang kita bisa dapat, kita diminta untuk kembali ke ranah domestik?

Apakah perempuan tidak boleh memperjuangkan haknya, termasuk hak untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera? Apakah perempuan harus berpangku tangan ketika kehidupan keluarganya terusik? Apakah perempuan tidak boleh berpendapat? Apakah perempuan tidak boleh menjadi pencetus pergerakan? Tidak boleh terlibat dalam pergerakan apapun? Atau perempuan cukup belanja-belanji sambil menggosip? Begitu kah?

Mereka lupa bahwa sejarah negara kita sendiri jelas mencantumkan perempuan-perempuan hebat yang terlibat dalam perjuangan. Dari Sabang sampai Merauke, baik yang sudah tercatat resmi dalam dokumen sejarah maupun yang belum. Kerajaan-kerajaan di Nusantara punya sejarah pemimpin wanita dalam kerajaan, pejuang-pejuang wanita yang turut terlibat melawan penjajah. Menurut netizen yang mulia dan Dian Sastro, apakah para lelaki dan suami di zaman itu (yang jelas-jelas belum mengenal yang namanya kesetaraan hak perempuan) berpangku tangan dan sengaja menyorong-nyorongkan perempuan untuk berperang? Apakah mereka lepas tangan? Atau mereka berjuang bersama?

CgARjnDUUAI5LnV.jpg large

9 Kartini Kendeng

Saya sangat geram dengan pernyataan “ke mana suami mereka kok tidak melarang?” atau “di mana para lelaki sampai ibu-ibu yang harus melakukan aksi seperti itu”, serta “sudah ibu-ibu lepas saja dari area politik, kembali ke urusan domestik saja.” Kalau yang mengatakannya lelaki, saya mungkin tak akan segeram ini. Sudah tidak aneh bila laki-laki yang berucap begitu. Tapi, perempuan? Perempuan yang mengucapkan itu? Terlebih lagi perempuan yang “berkoar-koar” soal kesetaraan dan bahkan telah menikmati kesetaraan yang diperjuangkan oleh parah perempuan pendahulu?

Itulah yang saya sebut sebagai “Betina berotak Jantan” di mana seorang perempuan memiliki cara berpikir yang masih lekat dengan patriarkisme. Perempuan yang masih menganggap bahwa urusan perempuan hanyalah urusan domestik saja. Urus rumah, urus keluarga, urus anak, dan memenuhi kebutuhan seksual lelakinya. Celakanya para betina berotak jantan ini adalah mereka menikmati kebebasan dalam banyak hal. Sekolah tinggi, pekerjaan bagus, bebas berkumpul dan berpendapat di mana saja.

Betina berotak jantan inilah yang akan sangat mempersulit pergerakan perempuan. Karena cara berpikir mereka masih sangat patriarki sekali, meskipun mereka berkata tidak. Mereka memandang perempuan hanya terbatas pada tugas-tugas yang ‘sesuai kodrat’ yaitu urusan domestik. Mereka juga memandang bahwa perempuan itu harus memiliki cara bersikap tertentu, tidak perlu muncul ke permukaan, atau bahkan maju ke depan dalam urusan-urusan yang menurut pandangan mereka adalah urusan laki-laki. Betina berotak Jantan ini seperti musuh dalam selimut. Alih-alih mendukung pergerakan perempuan, mereka lah justru yang akan memperlambat terjadinya perubahan. Bahkan mereka juga yang bisa memberikan senjata bagi para penentang pergerakan perempuan.

Dalam kasus Ibu-ibu Kendeng, mereka lupa bahwa perempuan dan alam itu hubungannya sangatlah dekat. Ketika alam dirusak, maka sumber pencaharian mereka juga akan terganggu, yang nantinya juga mengganggu kesejahteraan keluarga mereka. Dari tulisan Mbak Kalis Mardiasih dan video Ekspedisi Indonesia Biru “Samin Vs Semen” kita bisa mengetahui mengapa akhirnya ibu-ibulah yang bergerak dan maju ke depan. Bukan karena para lelaki tak mampu atau berongkang-ongkang kaki. Bukan.

Saya menyadari, Ibu-ibu dari Kendeng mungkin tidak akan ambil pusing dengan komentar para betina berotak jantan mengenai aksi mereka. Bagi mereka yang penting pembangunan pabrik semen dihentikan agar mereka bisa kembali bertani dengan rasa aman, bisa menghidupi keluarga dengan baik.

Namun, bagi saya pribadi, sudah terlalu sering saya membaca dan mendengar tentang betina berotak jantan ini. Dalam keluarga, mereka lah yang akan tetap menularkan pikiran pada anak-anak mereka bahwa perempuan cukup mengurus urusan domestik saja. Dalam urusan administratif, bila betina berotak jantan menjadi pengambil keputusan, dia akan mengeluarkan aturan-aturan yang justru memberatkan dan membatasi perempuan. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Saya tidak ingin kita mundur berabad-abad ke belakang.

Saya tidak akan memberikan saran apapun bagi para betina berotak jantan. Saya hanya meminta satu hal, tolonglah merenung. Apabila perempuan cukup mengurusi hal-hal berbau domestik saja, apakah mungkin ada sejarah mencatat pemimpin perjuangan dan pemimpin kerajaan yang berjenis kelamin perempuan?

Tolonglah renungi itu saja.

ps : video rangkuman aksi #DipasungSemen bisa dilihat di sini

Menulislah

Tulisan ini sudah berminggu-minggu mengendap di komputer saya. Mungkin ini saatnya untuk memunculkannya di permukaan. Selamat membaca.

Sabtu pekan lalu, klub buku yang saya ikuti mengadakan diskusi dengan tema perusakan lingkungan. Tulisan ini tidak akan membahas isi diskusinya, melainkan satu penggalan kecil yang terucap dalam diskusi sore itu. Ada pendapat menulis itu bukanlah sebuah bentuk perjuangan. Pendapat serupa juga pernah saya dengar dari kenalan dan kawan yang lain. Sehingga tidak bisa  diklaim ketika seseorang sudah menulis maka ia telah turut serta dalam perjuangan.

Memang yang disebut dengan perjuangan atau perlawanan yang nyata adalah apa yang terjadi di lapangan. Pun juga tidak semua penulis menulis berdasarkan pengalaman pribadi di lapangan. Beberapa (atau malah banyak) menulis berdasarkan hasil pengamatan menggunakan sedotan dari atap genteng rumahnya. Beberapa lain menulis berdasarkan hasil melamun sambil pup di pagi hari. Maka pendapat yang mengatakan bahwa menulis bukanlah suatu bentuk perjuangan yang nyata, cukup masuk akal. Karena tulisan saja seringkali tak mampu mengubah suatu keadaan.

Akan tetapi, tulisanlah yang mampu menggerakkan sebuah perlawanan atau perjuangan. Melalui tulisan sebuah ide atau gagasan dapat disebarluaskan. Melalui tulisanlah kita bisa ‘meracuni’ isi kepala orang lain. Tulisan sejak dulu kala adalah sebuah media propaganda. Saya baru baca satu buku yang ditulis Sukarno, tapi dari buku itu saja saya sudah bisa paham mengapa Sukarno menulis. Tulisannya dijadikan alat propaganda, dan huff.. Sukarno adalah pencuci otak yang ulung bila kita nilai dari tulisan-tulisan beliau. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang ditakuti penguasa itu? Atau tulisan-tulisan Tan Malaka yang kalau dibaca lagi membuat kita berpikir, apanya sih yang bikin penguasa takut banget? Tulisan adalah alat propaganda baik secara langsung atau tidak langsung, disadari ataupun tidak. Tulisan adalah pencetus pergerakan.

Memang betul, tak jarang sebenarnya menulis itu dilakukan sebagai bentuk masturbasi eksistensi saja. Yang penting setiap minggu sudah mengunggah satu tulisan di situs pribadi, atau ada beberapa tulisan yang dimuat di surat kabar lokal atau bahkan di laman website yang lagi hits. Sialnya, kita merasa bangga karena sudah melakukan hal-hal tersebut. Setelah menulis (termasuk setelah bicara dan berdiskusi), kita merasakan orgasme yang sangat hebat, mengawang-ngawang sampai ke langit ketujuh, merasa pencapaian hidup sudah terpenuhi. Padahal, itu baru satu langkah awal. Masih banyak langkah lain yang harus dilewati.

Tak heran bila para praktisi di lapangan sering mencibir penulis atau mereka yang doyan sekali masturbasi di berbagai ruang diskusi. Karena tak ada aksi setelahnya. Selesai menuangkan ide, selesai pula urusan mereka. Sementara praktisi di lapangan sudah banjir keringat, berdarah-darah mengatur ini dan itu, menggerakkan massa dan mungkin berusaha melakukan perlawanan. Yang menulis ongkang-ongkang kaki saja. Apa nggak dicibir?

Saya ingat kata-kata Cak Nun dalam sebuah tulisannya, “Orang (termasuk saya) sibuk omong untuk omong itu sendiri. Diskusi untuk diskusi itu sendiri. Seminar, pentas puisi, pidato, bertanya kepada pembawa makalah untuk omong itu sendiri. Omongan sebagai manifestasi tunggal dari eksistensi seseorang.”

Kembali ke persoalan tulis menulis. Di bagian awal saya mengatakan bahwa tulisan menjadi pencetus pergerakan, menjadi alat bantu perlawanan. Contoh paling mudah, sekarang sedang marak kasus penyakit yang muncul kembali karena pasien tidak divaksinasi. Maka bagaimana caranya kita memberi pemahaman pada orang-orang yang merasa vaksinasi adalah hal yang tidak bermanfaat bila tak ada bahan bacaan yang mampu mereka cerna? Bagaimana caranya tim penyuluh melakukan penyuluhan dengan baik bila tidak dibekali materi yang mampu mereka sampaikan di lapangan?

Dalam banyak hal tulisan sendiri bersifat dua arah. Yang pertama memberikan ide/gagasan/informasi untuk pelaksanaan kegiatan di lapangan (terserah mau itu penyuluhan, materi ajar, atau untuk membakar semangat warga), dan yang kedua untuk melaporkan keadaan di lapangan. Bagaimana orang-orang lain mengetahui adanya suatu kasus di daerah yang jauh dari ibu kota bila tidak ada tulisan yang mengangkat masalah tersebut? Bagaimaan orang lain akan terbuka matanya bila tak membaca suatu tulisan? Bagaimana orang lain akan tergugah untuk berpikir bila tak membaca suatu tulisan?

Jadi bagaimana? Berhenti atau kita lanjutkan urusan tulis menulis dan omong-omong ini?  Kita tetap perlu menulis. Kalau tidak ada yang menulis, tidak ada yang menyampaikan kabar, siapa yang akan membaca kisah yang perlu disampaikan? Bila tak ada yang menulis, bagaimana suatu gagasan bisa disebarluaskan? Bila tak ada ruang diskusi, bagaimana kita tahu bahwa pemikiran kita belum tentu benar? Bahwa ada cara lain yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah?

Barangkali kita perlu memikirkan kembali, apa tujuan kita menulis. Menuangkan rasa? Curhat? Ajang propaganda? Menyampaikan berita? Menggelitik pikiran?  Apa tujuan kita berdiskusi? Sekedar mengisi waktu sampai secangkir kopi yang kita pesan telah tandas? Melarikan diri dari cerewetnya istri dan anak-anak di rumah? Kongkow-kongkow ria dengan kawan-kawan? Karena sepertinya tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi yang sifatnya masturbatif ada baiknya dikurangi. Atau setidaknya, follow up lah apa yang ditulis atau apa yang telah didiskusikan dalam bentuk kegiatan sehari-hari.

Tulisan memang bukan bentuk perjuangan yang nyata. Tapi tulisan adalah bagian yang akan selalu bergandeng beriringan dengan perjuangan, dengan pergerakan, di manapun, kapanpun pergerakan itu terjadi.

Februari, 2016.

Menjelang 30

Waaa disuruh Ilham untuk update blog nih T_T. Katanya dalam rangka bertambahnya umur. Hahaha. Baiklah, dengan ini saya akan memulai tulisan yang berantakan (karena sudah lama tak menulis).

 *celinguk kiri-kanan, mana tau ada Polisi Syariah. Kalo ada Polisi Syariah, tolong kasih aba-aba ya, biar lapaknya dibubarkan*

Saya bosan menulis “banyak perubahan terjadi dalam setahun belakangan,” karena ternyata kalimat itu menjadi kalimat standar yang saya tulis dari tahun ke tahun. Di satu sisi saya bersyukur ternyata hidup saya bergerak, ada perubahan yang baik, ada juga yang buruk. Yah, berarti fungsi otak saya masih berjalan dengan baik. Bisa berkegiatan, bisa bermalas-malasan, dan sebagainya. Di sisi lain, kok monoton sekali refleksi setahun yang saya lakukan. Hidup berubah itu sudah pasti. Apakah jadi lebih baik atau sebaliknya. Nothing so special about it.

Saya juga agak sedikit lumayan banyak *halah* enggan menceritakan bahwa sekarang saya banyak malasnya ketimbang rajinnya (lah itu cerita! Si kampret). Selain karena blog ini mungkin dikepoin sama adek-adek mahasiswa (haaai, adek-adek gemes), juga nggak ada manfaatnya menceritakan kondisi negatif dalam tulisan (kecuali bila itu menjadi novel atau puisi atau prosa atau lirik lagu sedih yang dinyanyikan oleh Ariel Noah).

timmy birthday

Jadi saya mau cerita apa ya?

Ah, saya mau cerita tentang menjelang 30. Saya bukan tipe orang yang malu menyebut umur. Yap, sekarang usia saya sudah 29 tahun. Kalau boleh meminta, sebenarnya saya ingin segera 30 tahun saja. Entah kenapa saya berpikir, di usia 30 tahun, seseorang akan menjadi lebih stabil secara emosi, lebih bisa menikmati hidup, lebih selow.

Sayangnya, saya tidak bisa meloncati satu tahun, karena para fisikawan belum menemukan mesin waktu! Hih, menyebalkan sekali. Kan asik kalau bisa loncat ke 21 Maret 2017. Baiklah, sepertinya ini pertanda semesta bahwa saya harus menjalani usia nanggung 29 tahun ini.

Berbeda ketika pergantian usia selama beberapa tahun ke belakang, saya akan mengenang kembali apa saja yang sudah saya capai, sementara sekarang, saya justru mengingat apa saja yang belum saya lakukan.

Menjelang 30, alih-alih merasa sudah banyak makan asam garam (yang ada di Indomie Soto), saya justru merasa belum makan apa-apa. Saya banyak nggak tahunya ketimbang pahamnya. Banyak buku yang belum dibaca. Banyak waktu terbuang (salah sendiri :p).

Menjelang 30, saya paham kenapa banyak orang bijak lebih memilih diam ketimbang melibatkan diri untuk berdebat kusir. Di satu sisi saya sebel dengan sikap begitu, di sisi lain saya mengerti betapa lelahnya harus melibatkan diri dalam debat kusir.

Menjelang 30, saya akhirnya mengerti apa makna pepatah “diam itu emas.”

Menjelang 30, saya menjadi lebih introvert. Bertemu dengan orang-orang rasanya menyedot energi yang sangat banyak sekali. Berjuta emosi yang ada di sekeliling saya seolah terserap kemudian terinternalisasi ke dalam diri saya.

Timmy

Menjelang 30, otak saya tambah beruap-uap kalau melihat orang berjualan agama dengan membawa-bawa urusan moralitas, tapi mengenyampingkan urusan kemanusiaan. Saya lelah melihat orang-orang berusaha menjadi Satpam Tuhan (meminjam istilahnya Cak Nun) sementara entah kenapa saya merasa, Tuhan sendiri tidak pernah melakukan rekrutmen terbuka untuk posisi itu.

Menjelang 30, saya belajar untuk tidak peduli pada beberapa hal. Tidak terlalu peduli pada beberapa hal yang lain. Lebih peduli terhadap hal-hal tertentu. Dan teramat sangat peduli pada…. Entahlah untuk yang satu itu, masih kosong.

Menjelang 30, saya masih harus belajar banyak bagaimana menendang bokong saya keluar dari zona nyaman. Selama ini saya baru mengeluarkan sebelah tungkai kaki saja, dan masih enggan untuk melesat jauh.

Dan menjelang 30, saya harus menyabarkan diri, menutup telinga, mengalihkan proses pengolahan informasi di otak, kalau ada yang berkomentar tanpa menggunakan nalar atau ada yang mengajukan pertanyaan usil pada saya. Kadang batas antara sabar dan membacok orang itu memang hanya sebatas satu kalimat pertanyaan atau pernyataan.

Menjelang 30, saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam bicara. Masih jauh dari kata paripurna, masih jauh dari apa yang panutan-panutan saya perbuat, tapi untuk yang satu ini, saya akan berusaha keras.

Nah, tulisan menjelang 30 saya sudah selesai, kayaknya. Terima kasih untuk ucapan dan do’a dari teman-teman semuanya. Terucap juga do’a untuk kawan-kawan semua dari hati yang paling dalam, agar selalu menemukan jalan pulang dan menikmati perjalanan pulang itu.

Di Balik Jendela Berdebu (cerpen lama)

Cerpen ini cerpen lama, dibuat tahun 2007, waktu saya masih sedang imut-imutnya (eh sekarang tetap imut juga sih). Entah kenapa hari ini teringat lagi cerpen ini, dan setelah setengah mati mencari-cari (karena nggak punya salinan file), akhirnya ketemu. 

Di balik Jendela Berdebu

Di antara keramaian aku melihatnya. Dikelilingi teman-temannya, tertawa bersama, lepas. Dia biasa-biasa saja, sama seperti gadis lainnya. Bahkan jauh lebih biasa. Tapi aku bisa merasakan energi luar biasa yang dia pancarkan. Dia seperti magnet yang menarikku mendekat, sejak pertama kali aku melihatnya.
Siapa dia?
Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Menatapnya dari jendela…menyeberangi aliran udara…melihatnya dari kejauhan.
Siapakah kamu sang gadis biasa?

Padahal aku hanya sekali melihat wajahnya. Hanya sekali…menatap matanya yang sedang menatapku balik. Mata yang tajam. Tegas. Mengamati. Penasarankah? Akukah yang sedang diamati? Siapa kamu pria di balik jendela berdebu? Apakah kamu yang selalu membuatku merasa sedang ditatap? Apakah itu kamu dari seberang sana?
Siapa kamu pria bermata tajam?


Hari ini wajahnya terlihat lesu. Duduk memandang orang yang lalu lalang di bawah dengan pandangan lesu. Kenapa kamu lesu? Apa yang membuat tawa lenyap dari wajahmu? Aku dapat merasakan energimu meredup. Apa yang membuatmu lesu?

Aku melihatnya lagi! Dia memandangku lagi dari balik jendela…tapi pandangannya tak setajam waktu itu. Sepertinya dia memandangiku dengan pandangan kasihan. Apa dia bisa merasakan kekesalanku? Aku kesal…tapi bingung…aku tak tahu harus berbuat apa. Hah…dia pergi dari jendela itu. Padahal…hah, aku konyol juga! Mana mungkin aku bisa bertelepati dengannya?? Padahal sepertinya dia tahu kalau aku sedang kesal…caranya memandangku sudah menjelaskan segalanya. Andai aku bisa bicara dengannya langsung.

Namanya…Nina. Aku berpapasan dengannya tadi, dan mendengar temannya memanggilnya dengan nama itu. Nina…nama yang bagus…aku ingin berkenalan dengannya…

Namanya Ardi. Ternyata temanku tahu siapa dia. Seniornya waktu SMA. Dunia memang sempit. Aneh…padahal dia sering menatapku, kenapa waktu kami berpapasan dia bahkan tidak menyapaku?? Apa yang dia lihat sebenarnya bukan aku?

Akhir-akhir ini dia sering memandangku. Lebih tepatnya mencari-cari. Tatapannya mencariku. Menembus ke balik jendela. Langsung menuju diriku. Sadarkah dia aku selalu menatapnya selama ini? Jika iya, apakah dia marah??
Sudah cukup Ardi…datangi Nina sekarang juga!

“Nama gue Ardi.”
“Nina.”
“Gue sering ngeliat lu dari gedung gue…”
“Gue tahu. Gue sering liat lu mandangin gue. Eits…gue nggak ge-er ya!!”
“Perasaan lu tajam juga kalo gitu.”
“Jadi?”
“Gimana kalau gue traktir lu minum?”
“Traktir? Buat apa?”
“Ng…karena membuat lu ngerasa nggak nyaman karena tatapan gue.”
“Ya ampun gitu aja…”
“I insist…”
“Terserah deh. Lu yang maksa ya…”
“Thanks…”

Namanya Nina…teman adik kelasku se-SMA…dan kurasa…dia bukan hanya gadis biasa lagi bagiku. Mulai saat ini aku tidak hanya akan menatapnya melalui jendela berdebu ini…aku akan menatapnya lebih dekat lagi…

Namanya Ardi…sedang Tugas Akhir…makanya dia selalu berada di tempat yang sama. Makanya dia bisa melihatku. Mulai sekarang…aku rasa dia tidak hanya akan menatapku melalui jendela berdebu itu lagi…ah itu dia melambai padaku!

Bandung, 24 Maret 2007

Pikiran Melangit, Hati Membumi

Izinkanlah saya yang pandir dan sok tahu ini mengutarakan sedikit saja apa yang menjadi isi di dalam kepala saya yang tak terlalu penuh ini. Saya sedih melihat sikap segelintir akademisi yang menurut saya pribadi tidaklah sepantasnya bersikap seperti itu. Sikap yang bagaimana yang saya maksudkan? Ialah sikap yang merasa paling tahu segalanya, paling benar segalanya, berada di posisi paling tinggi dari yang lainnya. Mungkin iya, secara keilmuan seorang akademisi berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan-rekan kerjanya,. apalagi bila dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswanya. Tapi apakah perlu seorang akademisi bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dia anggap tidak mumpuni? Apa perlu menjudes-judesi mahasiswa bahkan mencecar tanpa memberikan arahan berpikir?

Tidak, saya tidak sedang membela mahasiswa. Tidak sedang berusaha mencuri hati para mahasiswa juga. Saya pernah menjadi mahasiswa, saya pernah (dan sampai sekarang pun masih) menjadi orang yang ilmunya rendah, dan saya tahu bagaimana tidak enaknya direndahkan atau diremehkan oleh orang lain. Bukan karena saya ingin ditinggikan atau dianggap memiliki kemampuan padahal kenyataannya tidak. Bukan. Tapi ada adab dan sikap dalam berinteraksi (yang mana saya sendiri masih sering keliru, masih sering blunder). Kalau mahasiswa Anda keliru dan dia tidak sadar bahwa dia keliru, bukankah lebih baik mahasiswa tersebut dipancing agar dia sadar bahwa dia keliru? Ketimbang menunjukkan kekeliruannya dengan gaya bahasa yang sinis dan raut wajah yang meremehkan? Kalau mahasiswa Anda tidak disiplin, berikan sanksi sesuai dengan tindakannya, sesuai dengan kesepakatan. Tidak perlu mengomel panjang lebar sana-sini tentang anak bangsa dan lain sebagainya, tapi si anak tidak sadar bahwa dia melakukan kesalahan.

Pada akhirnya yang diingat adalah rasa. Pada akhirnya emosi yang menguasai pikiran. Senior saya pernah berkata, manusia itu 80% insting dan 20% rasionalitas. Setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga. Bila yang dia ingat adalah rasanya dipermalukan, diremehkan, tidak dipercaya, maka ilmu/pengetahuan apapun yang Anda tanamkan, mental semuanya. Ini bukan tentang agar dianggap kece, agar dijadikan idola. Bukan. Ini adalah hal yang sederhana. Bahwa untuk membuat orang bisa berpikir jernih, maka emosinya harus dibuat tenang terlebih dahulu. Bahwa dia aman.

Boleh ilmu yang dimiliki oleh akademisi setinggi langit, tapi tetap pijakkanlah kaki di bumi. Tidak bisa ilmu selangit itu ditransfer mentah-mentah pada mahasiswa atau anak didik. Ada prosesnya. Dan bila proses itu melibatkan cara yang tidak baik bagi emosi si anak didik, transfer ilmu itu akan sulit dilakukan. Tujuan kita bukan agar anak itu tahu dalam sekejap mata. Tujuan kita adalah agar anak tersebut selalu mau mencari tahu, selalu mau belajar, bahkan bila dia sudah lepas dari institusi pendidikan formal.

Saya selalu mengingat doa surayah Pidi Baiq (yang menjadi salah satu alasan saya membuat tulisan ini, dan selalu saya ingat), “Ya Allah, mudah-mudahan sederhana, tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, dan dengan hati yang terus membumi.” Karena bila hati kita tak melekat di bumi, terbang melayang jauh ke langit, kita akan lupa bahwa di suatu masa kita pernah ada di bumi, dan butuh proses untuk melangit. Dan proses itu tidak (selalu) mudah.