Lihat ke Atas dan Lihat ke Bawah

Posted in Life, Thoughts on October 16, 2009 by Laila

Seringkali kita mendapat nasehat, entah itu dari orang tua atau dari teman, bahwa untuk dalam hal tertentu (biasanya prestasi) kita harus melihat ke atas. Maksudnya bukan nengokin genteng rumah, atau plafon yang bocor disana-sini atau malah memandangi langit sampe kejatuhan kotoran burung :p. Bukan…maksudnya adalah kita harus melihat orang-orang yang sukses sebelum kita, atau teman yang lebih sukses daripada kita. Tujuannya apa? Supaya kita termotivasi untuk meraih kesuksesan yang sama, supaya kita termotivasi untuk melakukan sesuatu hal dengan bersungguh-sungguh hingga menjadi sukses.

Di suatu saat yang lain, kita juga diberikan nasehat agar jangan lupa melihat ke bawah (biasanya dalam hal rezeki, dan kesehatan). Bukan ngeliatin lantai yang udah dua bulan nggak dipel, atau memandangi jalanan yang lubangnya udah segede kubangan kerbau, atau malah sengaja jalan sambil nunduk sambil berharap ada duit jatuh. Nggak gitu juga. Kita disuruh melihat ke bawah supaya rajin bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan pada kita, dan sudah kita capai selama ini. Diharapkan dengan begitu, kita juga nggak lupa untuk membantu mereka yang keadaannya lebih memprihatinkan dibanding kita.

Tapi…menurut gw, nggak mutlak untuk hal-hal tertentu kita harus melihat ke atas dan untuk hal-hal lain kita harus melihat ke bawah. Nggak bisa hanya satu gerakan. Kebayang nggak sih, kalau kita selalu melihat ke atas, atau ke bawah, apa nggak keseleo tuh lehernya?? Tengadaaah terus, lama-lama kan sakit leher. Atau nunduuuk terus, keknya lama-lama kepalanya jadi pusing, kan?

Gerakan yang secara harfiah kalau dilakukan hanya dalam satu posisi bisa bikin penyakit. Sama juga dengan nasehat-nasehat yang kita dapatkan itu. Kalau Cuma dilakukan untuk hal-hal tertentu saja, bisa bikin penyakit juga. Penyakit jiwa! Kalau kita terlalu sering melihat orang sukses, mengambil standar kesuksesan mereka, tanpa pernah melihat bahwa di sekeliling kita banyak banget orang yang pas-pasan, standar, bahkan terbelakang, bisa-bisa kita nggak akan pernah bersyukur. Terus aja berusaha sukses, pokoknya dalam kepala “berhasil, berhasil, berhasil,” *kayak dora ya*. Intinya, kita jadi terlalu ambisius. Coba deh tengok sekali-sekali ke sekeliling. Ternyata banyak orang yang biasa-biasa aja. Bukannya mereka nggak ambisius, tapi mereka emang Cuma segitu aja kemampuannya. Atau, mereka emang nggak demen-demen amat jadi orang super sukses, karena dalam kepala mereka, sukses adalah hal yang didefinisikan dengan kalimat yang lain.

Jangan karena terlalu sering melihat orang sukses, terus ambisius pengen jadi sukses, akhirnya jadi stress! Terus-terusan kerja sampai lupa sama keluarga. Lupa dengan kebahagiaan individu. Sekali-kali *jangan keseringan juga, entar malah jadi sombong*, liat juga mereka yang prestasinya biasa-biasa saja. Dengan begitu, mungkin ya kita bisa jadi lebih rendah hati. Ambisi tetap dijaga tentunya *jangan gara-gara ngeliat ke ‘bawah’ malah jadi bersantai-santai juga, sama ngawurnya itu* tapi jangan sampai ambisi mengambil alih kehidupan kita.

Sama halnya kalau kita melihat ke bawah. Iya sih, kita jadi rendah hati, berempati, ikut prihatin dengan mereka yang keadaannya kurang. Tergerak hati kita untuk ikut membantu. Tapi, sekali-sekali, lihat juga ke atas. Lihat mereka yang kualitas hidupnya bagus. Yang sehat selalu, yang rezekinya berlebih *tapi nggak sombong orangnya, dan suka membantu sesama*. Kalau kita melihat ke bawah lalu kemudian kita bersyukur, lihat juga ke atas untuk berusaha lebih baik lagi. Kita lihat tayangan televisi yang menayangkan mereka yang memiliki penyakit tertentu dan nggak ada biaya. Lihat juga pasangan lansia yang di usia senja mereka, tubuhnya segar bugar. Kita lihat saudara-saudara kita kondisi keuangannya kurang mampu. Lihat juga orang-orang yang kondisi keuangannya berlimpah dan dia bisa banyak beramal dengan kelimpahannya tersebut.

Yin and Yang

Dunia ini diciptakan dengan keseimbangannya.

Lihat ke atas, lihat juga ke bawah.

Ambisi dan syukur.

Yuk, menyeimbangkan diri…

*gw juga belum bener-bener bisa menyeimbangkan diri. Tulisan ini gw buat juga untuk mengingatkan diri sendiri. Gw masih belum baik-baik amat jadi orang, jadi siapapun yang baca tulisan ini, ketemu gw suatu hari nanti, ingetin gw juga untuk seimbang yak*

Disgust

Posted in Thoughts on October 10, 2009 by Laila

Gw memang sedang merasa jijik, kesal, dan marah. Kenapa? Jadi, baru tadi gw tau kalau putri yang berasal dari NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) terpilih menjadi Putri Indonesia tahun 2009 *soalnya gw kan nggak demen nonton TV nih, jadi aja telat berita*. Malam sebelumnya (pada saat acara berlangsung), gw tau dari plurk temen gw, kalo si putri dari Aceh ini menjawab dengan sintingnya kenapa dia membuka jilbab. Alasan dia adalah karena rambut adalah mahkota keindahan wanita, jadi buat apa ditutup-tutupi dan didukung oleh Meutia Hatta.

Gw sampe ternganga saat membaca plurk temen gw itu! Dan gw lebih ternganga lagi waktu tau dia jadi Putri Indonesia. Gimana nggak? Berarti dia akan ikut kontes Miss Universe kan? Berarti dia akan pake swimsuit kan?!! Itu martabat provinsi NAD yang menyandang hukum syariat islam mau dikemanakan?? Meskipun si qory (nama putri indonesia asal NAD) ini gw yakin nggak berdomisili di Aceh, tapi tetep aja dia membawa/menggunakan nama Aceh saat ikut kontes.

Gila apa dia?!! Dia tau nggak sih, di Aceh sana ya, DPRD dan Pemerintah Daerah sedang sibuk bikin qanun jinayat (kalo gak salah nih namanya) atau semacam peraturan syariat yang mengatur macam-macam hal. Mulai dari masalah kecil sampe yang sedang diperdebatkan adalah hukuman rajam untuk mereka yang berzina. Di Aceh sana ya, WH atau wilayatuh hisbah (satpol syariah) juga merazia para wanita yang nggak pake jilbab, atau yang pake jilbabnya nggak bener. Di Aceh sana ya, masih sibuk berbenah banyak hal.

Gw nggak bilang orang Aceh itu super alim. Tapi, kalo emang dia merasa dari Aceh, mbok ya nyadar gitu loh… situ tu bawa2 nama aceh, liat dong disana itu isu sensitifnya apa. Dan gw bener-bener nggak ngerti sama juri yang akhirnya memutuskan dia menang.

Halooo, para juri! Seorang perempuan, yang melepas jilbabnya hanya karena menurut dia rambut itu adalah mahkota keindahan perempuan dan tidak patut ditutup-tutupi, artinya cuma satu hal :

DIA NGGAK PERCAYA DIRI!

Kalau memang dia dianggap memiliki 3B (Brain, Beauty, Behaviour), jelas-jelas perempuan yang punya pandangan seperti itu adalah perempuan yang nggak merasa dirinya cantik dalam kondisi apapun, nggak punya sikap (karena dia dengan mudah terombang-ambing), dan nggak punya otak (karena dia nggak berpikir!).

Kalau memang dia seorang PUTRI, dia bangga dengan siapa dirinya. Kalau tadinya dia berjilbab, dia bangga dengan apa yang dia kenakan. Bukan karena rambut mahkota keindahan dan sebagainya. Alah, bullshit! Bilang aja emang nggak mau pake jilbab, kan nggak susah. Bilang aja belum ada panggilan hati, semua orang juga akan mengerti. Nggak perlu bikin alasan yang justru bikin semua orang tau kalau dia nggak punya sikap.

Pernyataan dia merendahkan perintah Tuhan! Hanya demi sebuah kontes kecantikan dia merendahkan Tuhan di depan umum?? Hebat banget… pantaslah dia jadi pemenang. Mungkin itu yang dilihat sama juri. Bagaimana kecantikannya yang aduhai dan sikap serta otaknya yang mampu merendahkan Tuhan!

Kalo sampe dia bener-bener ikut kontes miss universe, dengan swimsuitnya…hell, gw harap banyak yang protes dan mendemo dia. gw harap dia kena batunya. gw harap dia dicekal atau apapun. gw nggak minta dia dapet hidayah, karena sudah banyak orang yang berharap Allah memberikan dia hidayah. Gw cuma pengen dia kena batunya. Dan supaya semua orang bisa belajar.

Terlalu marah sampe kemarahannya menjadi rasa jijik…

Love is Depressing

Posted in Life on October 3, 2009 by Laila

Ada teman, patah hati…sampai sekarang masih trauma kalau ada yang bilang sayang sama dia, atau janji-janji buaya air asin.

Ada teman, mau nikah bentar lagi. Calon pasangan hidupnya tiba-tiba jadi sering uring-uringan.

Ada teman, yang kadang masih khawatir dengan sebuah hubungan dan masih mencari dan terus berusaha memahami hubungan antara sepasang anak manusia.

Depressing.

Love is depressing. Depressing me, absolutely.

Finally, Bandung lagi!

Posted in Life on October 2, 2009 by Laila

Eugh…nyaris dua bulan gw menghilang dari Bandun dan hijrah sementara ke kota kelahiran. Gila, gw kangen banget sama Bandung! Super duper kangen! Kenapa? Karena yah jelas lah ya, I’ve spent almost whole of my life here, in Bumi Parahyangan. Lidah gw pun udah ikut lidah Sunda, demennya lalap!

Deket-deket minggu terakhir sebelum gw kembali ke Bandung, gw bener-bener kangen berat sama kota ini. Kangen suasananya, kangen makanannya, kangen temen-temen.

Akhirnya gw kembali menginjakkan kaki di sini. Fuh… mari bermain! *eh, minggu depan udah kuliah deng :P * Nanti gw akan post beberapa foto selama gw disana *walaupun lebih sering ada di rumah, gw sempet ngambil beberapa foto*

Sekarang, mau kangen-kangenan dulu sama temen-temen!!

Leave Him, if…

Posted in Life, Thoughts on August 8, 2009 by Laila

1. Pacar/calon pasangan hidup lu mulai menggeledah handphone, dan nanya-nanya soal sms yang dikirim temen, sms yang lu kirim, telepon yang lu terima, panggilan yang lu lakukan dan sebagainya *baik dengan cara halus maupun kasar*. HALO…orangtua lu aja nggak pake geledah-geledah barang pribadi lu, siapa dia berani geledah-geledah?!!

2. Pacar/calon pasangan hidup lu mulai nulis komen-komen bernada merendahkan dan curiga di akun FB, Friendster, Twitter, atau Plurk punya lu. Kurang ajar banget tuh laki! Judulnya cinta tapi kok tega menghina lu di depan seluruh dunia?! Cinta macam apa tuh??

3. Pacar/calon pasangan hidup lu mulai merendahkan aktivitas yang biasa lu lakukan, membuat lu merasa nggak berguna, tolol, bodoh. Kalo orang yang bener-bener mencintai pasangannya, dia akan mendukung penuh apa yang pasangannya lakukan, aktivitas pasangannya, hobinya, mimpinya, harapannya. Mungkin bentuk dukungannya nggak secara langsung, tapi nggak juga dengan membuat pasangannya merasa worthless, atau mengata-ngatai kalo apa yang dilakukan pasangannya itu nggak guna. Seriously, kalo calon pasangan hidup lu kayak gini, LEAVE HIM RIGHTAWAY!

4. Pacar/calon pasangan hidup lu mulai mengancam akan memukul lu, atau bahkan berani memukul. Laki-laki yang udah berani main pukul ke perempuan, sudah sepantasnya dipenjara menurut gw! Gila aja, perempuan itu yang akan melahirkan anak-anak dia entar, masa dia pukul-pukul? belum lagi dia akan memberi contoh buruk pada anak-anak. Cikal bakal KDRT itu.

5. Pacar/calon pasangan hidup lu ngelarang-larang lu berteman dengan teman lu yang biasanya, ngelarang lu jalan-jalan dengan temen-temen lu, ngelarang lu ngobrol dengan temen-temen cowok lu *jelas-jelas bukan ngobrol flirting*. Cinta macam apa sih yang membatasi pergaulan seseorang? mengucilkan seseorang dari sebuah komunitas? Tega banget tuh orang nyuruh pasangannya mendekem aja sendirian sementara dia boleh berteman dengan siapa saja. Dia pikir yang manusia cuma dia?!! tinggalin cowok macam begini!

6. Pacar/calon pasangan hidup melarang lu berdandan atau make baju yang rada bagus dikit karena dia curiga lu mencari perhatian lelaki lain. Heh cowok-cowok abbusive *dan semua cowok di muka bumi ini*, gw kasih tau ya! Perempuan itu kalo berdandan, make baju bagus-bagus itu kagak ada urusannya mau ngegaet laki-laki. Perempuan itu dandan untuk saingan dengan sesama perempuan lain. Semacam, “hey, gw lebih cantik daripada lu!”

Lagian, kenapa juga si laki-laki ini harus curiga?! Kecuali emang pasangan dia ada track record selingkuh. Masa lu nggak suka liat pasangan lu cantik saat berjalan dengan lu? Hah..!

Semua poin yang gw sebut di atas, kalo ada pada seorang lelaki, bisa dibilang tuh lelaki akan menyiksa istrinya saat berumah tangga. Dia akan menjadi suami yang abbusive. Gw pernah liat ini di salah satu episode Oprah Show.  Si istri bukan cuma digampar, tapi ditendang segala. Istrinya itu nggak boleh keluar rumah, nggak boleh berkarir *apalagi*, nggak boleh punya temen, disuruh di rumah aja kayak pembantu. Mending pembantu digaji, ini mah disiksa juga lagi. Sampe akhirnya istrinya itu kabur dengan bantuan petugas sosial *bahkan suaminya itu bisa memanipulasi petugas sosial*.

Dan gw kasih tau lagi, biasanya pria-pria abbusive ini sangat JAGO sekali memanipulasi. Makanya para pasangannya walaupun merasa menderita, jarang ada yang bisa mutusin si pria abbusive kekasihnya itu. Jadi, tugas para sahabat-sahabat, teman-teman lah untuk menyelamatkan perempuan-perempuan yang ada dalam cengkeraman pria-pria abbusive ini. Selain tentu saja, berdoa sama Allah supaya Allah cepet campur tangan.

Niat Baik? Nggak Cukup!

Posted in Life, Thoughts on July 14, 2009 by Laila

Kira-kira seminggu yang lalu, gw mendengar saran bisnis dari seorang pakar di sebuah stasiun radio. Dalam saran bisnis itu diceritakan bahwa kadang saat kita menerima sesuatu pemberian *apa sih kata lain yang menggambarkan orang memberikan sesuatu untuk kita entah itu karena sukarela atau kewajiban?* dari orang lain, dan pemberian itu nggak sesuai dengan harapan kita, seringkali kita mendengar nasehat dari orang yang isinya kira-kira seperti ini : “Terima aja, toh orang itu sudah berniat baik dengan memberikannya.”

Nah, kata pakar bisnis itu *gw mengaku salah, gw nggak inget sama sekali siapa nama sang bapak*, dalam bisnis, niat baik itu nggak cukup! Niat baik harus diiringi dengan usaha untuk memuaskan orang yang kita beri. Kepuasan pelanggan. Bahkan selanjutnya kita bukan Cuma memberi kepuasan pada pelanggan, not just satisfying them, but make them want to see us more and more and trust us *eh ngomong-ngomong, kalo yang ini adalah saran dari pakar bisnis lain yang gw denger di radio berbeda*.

Gw pikir saran ini nggak hanya berlaku dalam dunis bisnis aja, tapi dalam hidup sehari-hari. Ternyata, emang niat baik aja nggak cukup! Serius deh. Misalnya gini, suatu pagi gw mencoba memasak nasi goreng untuk keluarga. Niatnya baik, selain ingin menyiapkan sarapan, juga ingin membuktikan bahwa anak gadis satu-satunya di rumah ternyata nggak malas-malas amat, dan mau mencoba memasak. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata nasi gorengnya kurang garam, agak berminyak, dan sedikit kepedasan. Niatnya baik, kan? Masak untuk keluarga. Tapi, apakah niat baik gw cukup? Nggak ternyata sodara-sodara. Tentu saja keluarga gw harus tersiksa makan nasi goreng buatan gw yang banyak nggak enaknya daripada nggak enaknya. Dan pada akhirnya, nasi goreng itu jadi bersisa banyak, padahal biasanya masak dengan takaran segitu, ludes des des!

Banyak contoh kasus lain yang menyatakan dengan jelas kalau niat baik aja nggak cukup. Misalnya saat kita nyerocos memberikan nasehat untuk teman yang sedang ada masalah. Niatnya baik emang, berushaa memberikan solusi atas masalah temen kita itu. Kacaunya adalah, ternyata temen kita nggak butuh saran dari kita. Yang ada dia malah bete denger ocehan kita. Atau misalnya waktu kita mengambil alih pekerjaan orang dengan niat supaya kerjaannya cepet beres. Niatnya sih baik, tapi seringkali orang yang pekerjaannya kita ambil alih jadi bete setengah hidup setengah mati, entah karena merasa tanggung jawabnya diambil, atau merasa nggak dipercaya untuk menangani suatu masalah / pekerjaan.

Niat baik aja nggak cukup!

Niat baik juga harus diiringi dengan usaha terbaik untuk memberikan kepuasan pada orang-orang di sekitar kita. Gua rasa sebenarnya konsep ini bukan diadaptasi dari saran bisnis, tapi bisnis lah yang mengambil konsep ini untuk diterapkan demi kepuasan pelanggan.

Hidup juga tentang saling memuaskan satu sama lain kan? Kalau sama-sama nggak puas, bisa-bisa friksi terus kita dengan orang-orang di sekitar kita.

Dan untuk memberikan suatu kepuasan, niat baik aja sama sekali nggak cukup!

Take your Chance

Posted in Life, Thoughts on July 10, 2009 by Laila


Why not, take a crazy chance

Why not, do a crazy dance

If you loose a moment

You might loose a lot

So why not, why not?

(Hillary Duff, Why Not)

Gw suka banget sama lagunya Hillary Duff yang ini. Dan hal yang ingin gw ceritakan di postingan kali ini adalah tentang berani mengambil kesempatan. Selama dua minggu gw pulang-pergi dari tempat KP ke rumah, gw menemukan bahwa cahaya matahari sore hari di jalan tol itu keren banget, dan mobil-mobil yang berjejeran di luar pintu tol itu akan menjadi obyek foto yang sangat bagus *anyway, mobilnya berjejeran nungguin lampu merah jadi hijau ya, bukannya iseng-iseng menjejerkan diri*.

Nah, jadi gw berencana untuk jeprat-jepret sambil nunggu dijemput bokap gw *gw dijemput sebelum masuk pintu tol*. Celakanya, gw selaluuu lupa bawa kamera, dan akhirnya gw piker, nggak apa-apa deh, minggu depan gw masih bisa ngambil foto. Lalu apa yang terjadi saudara-saudara yang seiman, tidak seiman, dan nggak beriman sama sekali?! Minggu berikutnya ada sebuah kondisi yang membuat gw nggak lagi dijemput sebelum pintu tol, artinya gw harus naik angkot bablas sampe RSHS. Artinya, gw nggak bisa jeprat-jepret matahari sore di jalan tol atau mobil-mobil yang berjejer nungguin lampu merah!

Sial, kampret, kejepret karet!

Coba dari kemaren-kemaren gw bawa kamera, gw pasti sudah bisa menangkap momen yang bagus itu. Belajar dari kesompretan gw minggu lalu, minggu ini gw bawa kamera kemana-mana. Mau shalat, mau ke WC, di ruangan KP, gw bawa tuh kamera. Kecil ini kan, pocket digicam, bawa aja. Dan belajar dari kesompretan gw juga, gw berusaha mengurangi banyak-banyak rasa nggak pede gw dalam hal jeprat-jepret. Gw foto bunga *make mode macro,bodo amat diliatin sama petugas gudang juga –berhubung bunganya ada di depan gudang*, foto sepupu gw dari berbagai angle, foto temen gw *yang gw paksa jadi model*, foto apapun!

Gw nggak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan melatih diri gw meningkatkan kemampuan fotografi. Biar cupu, biar hasilnya masih goring patut tapi nggak bikin w jamedud. Dan waktu gw buka-buka forum fotografi, ada salah seorang membernya yang bilang, ambil semua kesempatan yang ada, ambil semua momen yang ada, nggak usah kebanyakan mikir dan nggak pede *kalimat terakhir gw yang tambahin deng:P*.

Gw akan mengambil semua kesempatan yang disodorkan pada gw… tapi bisa nggak ya gw melakukan itu dalam hal pekerjaan? Masih agak-agak nggak pede untuk banyak hal, baru bisa berani hanya untuk sedikit saja.

Jadi, inti dari bacot panjang lebar gw adalah, take your chance! Jangan kelamaan menimbang kiri kanan, menghitung untung rugi. Belum tentu kesempatan yang ditawarkan itu akan datang lagi.

Tapi…kalo nolak kesempatan, mudah-mudahan aja ada tawaran yang lebih yahud di suatu masa nanti *asal jangan kebanyakan nolak aja ya!*

Jalan-jalan

Posted in Life on July 6, 2009 by Laila

Sebenernya nggak jalan-jalan juga sih… hanya mencari beberapa barang, setelah itu bantuin Mae ngerekap rekam medik… sempet jepret sana-sini. Bagi-bagi hasil ah…

P7050043

Di atas ini adalah foto Mbak Mae di Ciwalk, dalam perjalanan balik ke kampus setelah ngider-ngider nyari mug untuk pembimbing KP *tujuan utama*, dan beli gelang-gelang *tujuan sampingan yang sama sekaP7050049 copyli nggak direncanakan*.

Kalau foto yang di sebelah ini, adalah foto dari bunga yang gw nggak tau apa namanya, jadi jangan tanya gw nama bunga ini apa, dan gw mencoba-coba foto macro, mana tau hasilnya bagus. Foto ini diambil dalam perjalanan menuju tempat parkir… .

Rabu depan, mau nyoba lagi ngambil yang banyak, mumpung nih bunga lagi subur.

P7050060 Foto yang ini diambil pas gw dan Mbak Mae ngerjain rekap rekam medik di Selasih, cafe/rumah makan *teing lah kategorina naon* di daerah cikutra sana. Mbak-mbak yang duduk persis di belakang Mae ini sedang merokok, dan euh gw gatel banget sebenernya pengen ngambil foto dia full dengan ekspresinya saat sedang merokok. Tapi malu euy minta nya… hihihi. Jadi cuma tangannya aja yang difoto, candid… .  Mbak, kalo ketemu lagi, jadi model saya ya. maklum fotografer amatiran, nggak punya modal nyewa model… . Gyahakhakhak…!

Nanti setelah KP beres, gw sama Mbak Mae mau jalan-jalan ke bonbin. Gimana hasil jeprat jepret disana? tunggu aja postingan gw tentang bonbin..yiihaaaa…libur telah tiba, libur telah tiba..hatiiiikuuuu gembiraaaa!!!!

Jenuh, Bingung, Kepalang Tanggung

Posted in Life on July 3, 2009 by Laila

Udah seminggu ini kerjaan gw nggak ada yang bener di tempat KP. Tentu saja, Pembimbing dan Bapak yang memberikan gw tugas nggak tau kalo kerjaan gw lagi nggak bener (dan akan gw revisi habis-habisana nanti). Gw bener-bener jenuh, nggak ada semangat gawe, nggak ngerti lah.

Udah jenuh, sekarang gw juga bingung dengan karir. Hebat ya… di satu titik gw bisa begitu optimis, di titik yang lain gw langsung terbanting ke dasar neraka kepesimisan yang sangat mungkin sekali gw ciptakan sendiri.

Gila, beberapa hari yang lalu gw sudah mulai mantap. Jeng jeng…yah setidaknya meski nggak mantap-mantap amat, sedikit bisa menatap masa depan. Dan hari ini *mulai semalam tepatnya*, gw lagi-lagi menatap selokan yang sama, yang terus-terusan gw pandangi sekitar setahun terakhir.

Grauk grauk…

Nggak bisa meraba masa depan sama sekali…

Nggak tau mau jadi apa, mau kemana, mau ngapain

Bisa dibilang, nggak punya tujuan. Fuh, kira-kira di selokan ini bakalan ketemu sekeping koin emas langka nggak ya??

-postingan merana dan bosan selama kp-

Ketika Cinta Bertasbih

Posted in Resensi on July 2, 2009 by Laila

Tanggal 21 Juni 2009 kemaren, hari dimana seharusnya gw makan mie jawa sama temen gw, Mbak M, dan bertukar gogsip setelah satu minggu kerja praktek, gw malah nonton film KCB a.k.a ketika cinta bertasbih. Entah gw kualat atau kena karma atau emang peruntungan nasib gw aja yang lagi nggak bagus, gw harus nonton film ini, karena Ibu gw entah kenapa ngebet nonton film ini. Padahal, pas film ini diluncurkan, gw sama Mbak M udah sepakat nggak akan mau nonton film yang satu ini. Ogah bener dah! Bisa-bisa gw masuk utuh, keluar-keluar bioskop jadi abu *berhubung kesindir mulu ama film yang jelas-jelas berbau agama ini*.

Tapi, gw harus merelakan hari minggu siang gw menonton film ini. Dan komentar gw soal film ini ternyata cukup mengejutkan *tadinya gw dan Mbak M berpikir selama film diputer gw akan jamedud alias cemberut dengan mulut manyun dan siap untuk memaki-maki sepenuh hati, jiwa, dan raga!*. Sepanjang film, gw lumayan banyak ketawa, tapi tentu saja bukan karena jalan cerita pemeran utamanya, tapi karena cerita tokoh figurannya yang biking gw dan keluarga *dan seluruh penonton bioskop* ngakak. Malah gw pikir, acting tokoh figurannya itu jauh lebih keren dibanding acting tokoh utama *map-maap aje ye*. Bukan Cuma itu loh, gw malah lebih mengacungkan jempol liat acting habiburrahman el shirazy nya sendiri! Terlihat sangat alami. Gyak gyak…

Garapan film ini gw akui sangat matang. Suasana mesirnya sangat terasa dan hidup. Meski beberapa perpindahan scene nggak terlalu rapi, atau misalnya backsound yang mengiringi satu scene mendadak terpotong saat pindah ke scene yang lain *yang menurut gw harusnya jangan dipotong, tetep aja ada, tapi dengan fade out, jadi mengecil suaranya saat pindah ke scene yang lain, itu bakalan terasa lebih dramatis*, atau kadang ekspresi wajah aktornya saat ngomong bahasa arab kayak orang yang lagi gigit cabe atau disuruh duduk padahal ada bisul di pantat, gw memberi apresiasi yang bagus untuk film ini.

Film ini cukup serius untuk digarap, dan menurut pendapat Bapak gw, film ini banyak pesan bagusnya *berhubung Bapak itu orangnya paling ogah nonton film anak negeri, sama seperti gw :P *, berarti sang sutradara berhasil menyampaikan beberapa pesan penting untuk para penonton *hal yang nggak gw liat di film yang diangkat dari novel pertama karya pengarang KCB *.

Nah, gw nggak akan komen soal jalan ceritanya, soalnya gw sendiri merasa ada beberapa yang nggak sesuai dengan pandangan gw, yang jelas sepanjang film, selain tertawa terbahak-bahak, gw juga membelalakkan mata tanda nggak setuju dan mencibir dengan sinis *untung gelap, nggak keliatan Bapak yang duduk di sebelah gw*.

Pokoknya mah, yang belum nonton dan berencana akan nonton, selamat menikmati saja. Nggak akan terlalu sia-sia mengeluarkan uang untuk nonton film ini *dan membeli pop corn, dan minuman untuk menyibukkan mulut selama menonton :P *.

Gw sekarang penasaran sama Garuda di Dadaku, terus sama filmnya Sandra Bullock dan Ryan Reynolds *The Proposal*.

Ps : yang lucu adalah, di tengah-tengah film gw sms-an sama Mbak M. Terus gw mendadak teringat obrolan kami minggu sebelumnya yang mencibir pengarang KCB. Soalnya gara-gara dia, semua we yang ada hubungannya dengan agama pake embel-embel cinta, dan menjamur banget. Mulai dari ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, di atas sajadah cinta, munajat cinta, entah apalagi lah. Dan Mbak M tiba-tiba nyeletuk gini : “Lama-lama ada geura judulnya di atas sajadah kita bercinta!” Bayangin nggak, gw keingetan itu di tengah film, dan nyaris ngakak padahal pas adegannya lagi nggak lucu. Bahkan celakanya, gw sampe mikir, kalo sampe ada yang bikin film itu, siapa yang jadi pemeran ya? *kata Mbak M sih, bakalan salah satu artis yang suka bikin sensasi tuh…*