Thoughts

Catatan Pelatihan (2): Patriarki

patriarchy examples

Pada catatan sebelumnya saya sempat menyinggung apa itu patriarki. Patriarki adalah sistem sosial di mana laki-laki memiliki otoritas dan kontrol terhadap perempuan. Patriarki harus dibedakan dengan patrilineal, di mana patrilineal adalah sistem keturunan yang berasal dari garis keturunan ayah. Di dunia ini, umumnya masyarakat menganut sistem patrilineal meskipun ada beberapa suku yang menggunakan sistem matrilineal (suku Khashi di India Utara dan Pariaman di Minang). Hanya saja, baik dalam masyarakat yang menggunakan sistem patrilineal atau matrilineal sekalipun, relasi kekuasaan yang berjalan tetaplah menganut sistem patriarki.

Telah disinggung sebelumnya bahwa patriarki adalah sistem sosial yang berurusan dengan kekuasaan dan pengendalian kekuasaan, di mana pemegang kuasa adalah laki-laki. Kita bisa melihatnya dalam berbagai aspek kehidupan kita. Di rumah, ayah atau saudara lelakilah yang mengambil keputusan untuk keluarga. Di kantor, perempuan sering kali terpinggirkan dari jabatan pemimpin atau bayaran yang didapat perempuan lebih kecil daripada laki-laki. Dalam pertanian, yang dilatih untuk menggunakan traktor dan alat mesin lainnya adalah laki-laki.

Dengan menggunakan berbagai doktrin dan imajinasi, perempuan ditundukkan dalam sistem ini, dan perempuan sendiri pun menganggap dirinya diuntungkan atau terselamatkan bila mengikuti sistem. Patriarki sudah begitu mendarah daging dan mengkristal dalam peradaban kita, sehingga ia dianggap hal yang lumrah. Karena itulah ketika feminis menantang kekuasaan patriarki, tentu saja ia yang dianggap sebagai orang aneh tidak tahu adat. Tak jarang kita lihat, perempuan bahkan lebih patriarch daripada laki-laki?

Ketika membicarakan patriarki, kita harus melihat ia sebagai sebuah sistem. Sistem tidak akan berjalan tanpa institusi-insitusi yang mendukung. Keluarga, agama (terutama agama samawi/modern), institusi pendidikan, institusi hukum, institusi ekonomi, institusi politik, media, negara, dan bahkan NGO sekalipun adalah institusi-institusi yang menjaga keberlangsungan patriarki. Negara misalnya hanya mengakui dua jenis kelamin saja. Media mempromosikan standar kecantikan tertentu atau melakukan sterotyping gender. Pengusaha mainan memproduksi mainan-mainan yang meneguhkan kristalisasi gender.

 

patriarchy everywhere

Ada tiga kontrol utama laki-laki terhadap perempuan dalam sistem patriarki: kontrol produktif, kontrol reproduktif, dan kontrol seksualitas. Dalam kontrol produktif, laki-laki (ayah atau suami) menentukan jenis pekerjaan apa yang boleh dimiliki oleh perempuan atau sekadar dia boleh bekerja atau tidak. Bahkan ketika istri atau anak perempuan bekerja, dan ada tugas tambahan/lembur dari kantor, ayah/suamilah yang paling pertama mengeluh dan mengomel. Di beberapa keluarga, gaji perempuan pun diambil oleh ayah/suami. Tak jarang istri punya gaji lebih tinggi dari suami tapi uang mingguan/bulanan lebih rendah daripada rekan satu kantor yang bergaji lebih rendah.

Dalam sistem patriarki, perempuan lah yang harus menggunakan alat kontrasepsi. Bukankah sering kita dengar kasus-kasus penyakit menular seksual atau kehamilan akibat laki-laki tidak mau menggunakan kondom (dengan seribu alasan)? Selain itu hak aborsi perempuan juga sebenarnya diatur laki-laki dengan alasan moral, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus dihadapi perempuan tersebut di kemudian hari. Bahkan di beberapa suku atau ras, ayah atau saudara laki-laki lah yang menentukan kapan perempuan dalam keluarganya dinikahkan, dan berapa jumlah anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut (pernah dengar kan curhatan semacam “saya sih udah capek hamil, tapi suami masih mau nambah lagi”?). Inilah yang disebut kontrol reproduktif.

Kontrol seksualitas dalam sistem patriarki terwujud dalam bentuk sunat perempuan, kewajiban menutup aurat, dilarangnya janda untuk menggunakan pakaian/perhiasan bagus (dalam konteks Asia Selatan), pemerkosaan (baik oleh anggota keluarga atau bukan), prostitusi, dan pornografi. Tubuh perempuan adalah obyek yang harus diatur sedemikian rupa agar memenuhi kepuasan lelaki. Seperti kita membeli perabot, ditaruh di mana dan diletakkan apa saja di atasnya, suka-suka si pembeli. Bahkan, kita juga harus memeriksa, standar kecantikan di tiap zaman itu berdasarkan standarnya siapa?

smash the patriarchy

Sebenarnya untuk melihat patriarki, tidak bisa dilihat atau dipelajari dengan melihat seratus tahun ke belakang saja. Kita harus mengorek kapan patriarki mulai ada dalam sistem sosial manusia. Apa yang menjadi dasar sistem ini muncul? Salah satu teori yang dikemukakan adalah patriarki muncul sejak manusia mengubah pola hidup dari berburu-meramu menjadi bercocok tanam. Revolusi agrikultur membuat perempuan dirumahkan dan menjadi penjaga ‘tanah’. Revolusi agrikultur juga membuat komunitas sangat focus dengan batas dan kepemilikan wilayah.

Bila merujuk teori tersebut, maka patriarki sudah muncul ribuan tahun lalu. Betapa sulitnya ia lekang dari peradaban kita. Apalagi, sejak revolusi industry, patriarki semakin membuat perempuan terpinggirkan dari ruang-ruang publik. Belum lagi dalam konteks Asia, Afrika, dan Amerika Latin (negara-negara jajahan), konsep patriarki (yang kita kenal sekarang) sebenarnya juga dibawa oleh penjajah. Konsep gender yang biner misalnya, yang melekat erat sejak penjajah mengenalkan sistem administrasi modern di seluruh wilayah jajahannya, padahal ada suku-suku yang mengenal lebih dari dua gender.

Patriarki saling dan selalu bersilangan dengan agama, politik, dan ekonomi, semua hal-hal yang membangun sistem sosial. Ia selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada masyarakat. Patriarki seratus tahun yang lalu tentu berbeda dengan patriarki di masa sekarang. Dulu, di beberapa tempat, keterlibatan perempuan di ruang publik sangat terbatas. Sekarang, perempuan bisa bekerja, tapi tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bahkan harus meminta izin dari suami hanya untuk ikut outbond kantor.

Karena patriarki telah ada sejak sangat lama, bukan usaha yang mudah untuk menghancurkan sistem ini. Iakan selalu menyesuaikan diri dengan peradaban manusia, selama ia tidak berusaha dihilangkan, maka selama itulah ia ada. Dan karena patriarki adalah sistem, maka menghilangkannya harus dilakukan dari segala arah dengan keterlibatan semua orang. Mengapa ia harus dihilangkan? Karena manusia hakikatnya adalah setara dan memiliki hak yang sama. Mengempit patriarki di bawah ketiak kita artinya melestarikan ketidakadilan.

Sebenarnya diskursus tentang patriarki ini sangat luas, terlihat banyak sekali cakupan yang masing-masing bisa dibahas terpisah. Namun, karena entry ini berupa catatan pelatihan, maka saya memadatkan tulisan. Barangkali, di entry-entry selanjutnya, saya bisa memecah bagian-bagian yang dirasa perlu untuk dibahas lebih lanjut. Tentu saja, masing-masing bagian sebenarnya telah banyak sekali dibahas oleh para rekan feminis baik di Indonesia maupun di negara lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s