Thoughts

Selamat Ulang Tahun, Ibu Kartini

Jpeg

Hampir setiap tahun, di hari kelahiran R.A. Kartini, ada berbagai perayaan dan bahasan. Ada yang merayakan dengan cara pawai menggunakan baju daerah (biasanya anak TK atau SD). Ada yang menggunakannya untuk membahas pelbagai isu menyoal pemberdayaan perempuan dan emansipasi. Ada yang mengangkat profil perempuan-perempuan hebat di daerah masing-masing.

Ada juga sekelompok orang yang kerjanya protes. Mulai dari alasan hari lahir beliau dijadikan hari peringatan nasional sampai kritik tentang bagaimana seharusnya merayakan hari lahir Kartini yang benar. Sebagian orang malah bertindak lebih jauh dengan mencemooh peran dan kehidupan Kartini dan membandingkannya dengan pejuang wanita Nusantara lain.

Hari lahir Kartini menjadi polemik. Kartini menjadi polemik. Ada yang fokus membahas hal bermanfaat, ada juga yang sebaliknya. Kali ini saya tidak hendak membahas keduanya. Saya hendak membahas apa yang saya peroleh setelah membaca kumpulan surat Kartini.

Baru-baru ini saya menyelesaikan membaca kumpulan surat-surat Kartini dalam buku “Emansipasi” yang diterbitkan Jalasutra. Timbul perasaan haru saat membaca surat-surat beliau. Tergambar jelas keresahan seorang Kartini muda, yang meskipun anak bangsawan, namun pikirannya berusaha lepas dari penjara kebangsawanan dan adat istiadat.

Dalam beberapa surat di tahun-tahun awal (1899-1901), Kartini begitu menggebu ingin melakukan perubahan. Begitu besar keinginannya untuk mengubah keadaan. Ia geram terhadap berbagai masalah yang mengganggu pikirannya. Beberapa kritik dituangkan terhadap adat dan kebiasaan masyarakat Jawa saat itu. Kartini muda barangkali tak berbeda jauh dengan anak-anak muda sekarang yang resah menghadapi persoalan sekitar.

Yang menarik bagi saya, Kartini fokus pada satu hal yaitu pendidikan. Dari 119 surat yang terdapat dalam buku tersebut, ia membicarakan pentingnya pendidikan bagi bumi putera di hampir sebagian suratnya. Bagi Kartini, cahaya yang akan menerangi kegelapan adalah pendidikan. Adat istiadat yang menurutnya keliru, kebiasaan yang menurutnya tidak tepat, hanya dapat diubah dengan jalan pendidikan.

Masyarakat yang terdidik adalah kunci peradaban. Kartini muda sudah menyadari hal itu. Kebodohan, kesombongan, arogansi, sikap ‘ikut-ikutan’ tanpa memahami esensi dapat dienyahkan dengan cara memberikan pendidikan. Dengan begitu, menurut Kartini, bangsanya bukan hanya menjadi lebih cerdas dan beradab, tapi mampu mengatur dirinya sendiri.

Di tengah harapannya itu, perempuanlah yang ia pandang mampu menjadi penggerak perubahan. Alasan Kartini ‘sederhana’. Perempuan suatu saat akan menjadi ibu. Ia adalah pendidik pertama, sejak anak keluar dari rahimnya. Maka untuk menciptakan masyarakat yang terdidik, perempuan terlebih dahulu harus dididik sedemikian rupa. Alasan tersebut kemudian hari dikembangkan lagi sesuai dengan bertambahnya pemahaman Kartini. ‘Ibu’ yang dimaksud bukanlah ‘Ibu’ biologis saja. Seluruh perempuan adalah ‘Ibu’ bagi lingkungannya. Terlepas dari status perkawinan atau sudah memiliki anak atau belum.

Karena perempuan adalah ‘Ibu’ bagi komunitas, maka ia bertanggung jawab untuk melahirkan generasi terdidik. Generasi yang cerdas secara ilmu dan memiliki budi pekerti. Generasi yang mampu mendobrak adat istiadat yang keliru. Generasi yang tidak buta mengikuti adat atau ajaran agama, tapi berbakti dengan cinta kasih. Untuk mencapai hal itu, Kartini berkeras, pendidikan harus diberikan kepada perempuan. Mengapa perempuan?

Harus dipahami  bahwa di lingkungan pada zaman Kartini hidup, perempuan mendapatkan kesempatan yang lebih rendah untuk bersekolah. Dalam surat-suratnya sangat jelas, keluarga Kartini sendiri merupakan anomali di kalangan bangsawan Jawa. Kakeknya menyekolahkan anak-anaknya. Ayahnya sendiri menyekolahkan anak-anak perempuannya. Suatu perbuatan yang dianggap menyimpang dari kebiasaan yang berlaku saat itu.

Kartini, yang menyecap bangku sekolah, sadar betul betapa pendidikan itu penting. Berkali-kali ia menganalogikan pendidikan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan. Pendidikan adalah jalan agar bangsanya lebih beradab, Kartini yakin betul akan hal itu.

Kartini juga sangat ingin perempuan di kalangan bangsa Jawa (saat itu) mendapatkan kemerdekaan, kesetaraan (terutama dalam pendidikan) dengan laki-laki, dan terutama diperbolehkan memilih jalan hidupnya sendiri. Menurutnya tidak ada cara lain bagi perempuan untuk memperoleh kemerdekaan tersebut selain melalui pendidikan. Pendidikan yang membuka pikiran dan melembutkan hati. Baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan lebih mandiri dan bisa meraih kemerdekaannya. Laki-laki lebih lembut hati dan mendukung pemberdayaan perempuan.

Pendidikan. Berikan pendidikan pada seluruh lapisan rakyat, bangsawan atau bukan, laki-laki dan perempuan. Harapannya hanya satu. Agar bangsanya lebih beradab. Kartini memohon agar bisa melanjutkan sekolah dengan satu tujuan, agar ia bisa kembali dan mengajar. Membuka cakrawala pikiran bangsanya sendiri.

Bila kita refleksikan keinginan dan harapan Kartini dengan apa yang terjadi saat ini, harusnya kita bertanya. Apakah keinginan Kartini telah terwujud? Meskipun kesempatan yang tersedia bagi perempuan untuk bersekolah sudah lebih banyak di beberapa daerah, masih ada sebagian masyarakat yang mengenyampingkan pentingnya pelajaran bagi para anak perempuannya.

Katakanlah anak tersebut tidak diikutsertakan dalam persekolahan formal, apakah masyarakat tempat anak itu hidup memberikan bekal keterampilan dan keilmuan bagi si anak? Apakah kita sebagai komponen masyarakat sosial bertanggung jawab untuk mencerdaskan anak-anak ini? Apakah kita mengajarkan mereka untuk mampu hidup mandiri, baik secara tindakan maupun pikiran? Atau kita hanya menyiapkan mereka menjadi budak? Lebih jauh lagi, apakah persekolahan yang ada sekarang ini betul-betul sejalan dengan konsep pendidikan yang sebenarnya? Atau hanya celengan untuk menampung uang sekaligus mesin pencetak sabun dengan ukuran seragam?

Pertanyaan lain juga muncul di benak saya. Ketika negara memberikan ruang bagi anak perempuan untuk dinikahkan di bawah umur, apakah negara juga bertanggung jawab untuk memastikan agar anak tersebut tetap terdidik atau tidak terputus proses persekolahan atau pendidikannya?

Bila Kartini dapat melihat masa sekarang, apa ya yang akan beliau pikirkan? Apa ya isi korespondensinya?

Terlepas dari semua, kini saya lebih paham gundah, keluh, dan semangat Kartini. Seratus tahun lebih telah berlalu sejak ia bercita-cita agar bangsanya terdidik. Barangkali harapannya belumlah terwujud sepenuhnya. Kami sudah bersekolah, tapi entahlah apakah kami sudah terdidik atau belum. Meskipun demikian, banyak Kartini-Kartini muda di seluruh pelosok Nusantara yang meneruskan mimpi-mimpinya. Berjuang agar bangsanya terdidik, berbudi, dan mandiri.

 

Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga kami bisa tetap menjaga nyala api harapan dalam diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s