Thoughts

Catatan Kecil tentang Pendidikan

monitor-news-2016

Seorang teman mengajak saya dan beberapa teman lain menonton film dokumenter “Most Likely to Succeed” (2015). Film dokumenter ini berlatarbelakang satu sekolah unik “High Tech High” yang berada di San Diego, California. High Tech High didirikan karena keresahan seorang pemilik perusahaan yang tidak menemukan kandidat karyawan yang ia inginkan. Ia kemudian menghubungi rekannya, seorang dropout universitas yang akhirnya mengajar siswa-siswa sekolah dengan metode yang tidak konvensional.

Kurikulum di sekolah High Tech High berbeda dari sekolah konvensional lainnya. Siswa tidak belajar satu mata pelajaran terpisah dari mata pelajaran lain berdasarkan jadwal tertentu. Yang tergambarkan dari film dokumenter ini, pada masing-masing tingkatan, siswa belajar suatu tema tertentu yang menggabungkan berbagai aspek mata pelajaran di dalamnya. Sejarah dipelajari bersama dengan Fisika, atau Biologi dengan mata pelajaran lain.

Mengapa metode pembelajaran yang dipilih seperti itu? Kurikulum dan metode pembelajaran yang saat ini diterapkan di Amerika Serikat(dan banyak negara) adalah metode pembelajaran yang dirancang saat era industrialisasi berkembang pesat. Tujuannya hanya satu, mencetak lulusan-lulusan yang siap kerja, siap digunakan di pabrik-pabrik (terdengar tidak asing, bukan?). Kurikulum yang ada bukannya mengembangkan minat belajar anak, tapi membatasi ruang lingkup belajar agar sesuai dengan keperluan industri.

Namun, banyak pendidik progresif yang kemudian menyadari, kurikulum seperti ini tidak tepat. Pendidikan harusnya membebaskan jiwa baik si pendidik maupun yang dididik. Pendidikan seharusnya menimbulkan minat belajar yang tinggi. Pendidikan harusnya meningkatkan potensi yang dimiliki si anak. Kurikulum yang ada sekarang justru mencetak robot-robot yang memiliki kemampuan yang ‘sama’. Sesuai dengan permintaan industri.

Padahal, disebutkan juga dalam film dokumenter ini, pekerjaan-pekerjaan di pabrik akan diambil alih oleh robot atau sistem intelejensia buatan. Dalam film ini dicontohkan sistem intelejensia buatan Deep Blue yang di tahun 1990-an berhasil mengalahkan grand master catur dunia dan pemenang tetap kuis Jeopardy di Amerika. Baru-baru ini, sistem intelenjensia buatan milik Google, mengalahkan Grand Master Catur Jepang (Go). Sistem intelejensia buatan bahkan bisa diminta untuk membuat artikel dengan keakuratan tinggi dan tata bahasa yang sangat rapi.

Lalu apa yang tersisa untuk manusia? Inilah pertanyaan besar yang menghantui kita sebenarnya. Perkembangan teknologi sangat pesat dalam satu dekade terakhir, tapi sistem pendidikan kita justru kuno. Sekarang saja, kita bisa membaca beberapa laporan atau berita yang mengabarkan banyaknya sarjana lulusan perguruan tinggi yang tidak mendapat pekerjaan. Sering kita mendengar keluhan kalau para lulusan tidak kreatif, tidak inovatif, tidak bisa bekerja sama dalam kelompok, egois, tidak punya kemampuan komunikasi, dan sebagainya. Inilah akibat dari kurikulum dan metode pembelajaran kuno.

Setiap anak itu unik. Ki Hadjar Dewantara, Iwan Pranoto, Sulistyanto Soejoso, Bukik Setiawan, Najeela Shihab, dan berbagai pendidik lainnya menyepakati hal ini. Karena setiap anak itu unik, maka sistem pendidikan harus mengakomodir keunikan mereka. CEO High Tech High, Larry Rosenstock, mengatakan “Kita semua belajar dengan cara yang berbeda.”

Salah satu argumen menarik yang disampaikan dalam film dokumenter ini adalah, “Dalam kehidupan nyata saat ini, semua orang punya akses informasi yang sedemikan banyak dan luas. Dalam kehidupan nyata, kita harus bekerja sama dengan orang lain. Lalu mengapa kita menempatkan siswa dalam lingkungan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang akan mereka hadapi di luar sana?”

Bukannya membuat simulasi dunia nyata di dalam lingkungan sekolah, sistem pendidikan kita malah membuat “gelembung protektif” yang sebenarnya tidak menyiapkan apa pun bagi para siswa. Kenapa saya berikan tanda kutip di antara kata gelembung protektif. Karena sebenarnya kita lah yang berandai-andai bahwa kita sedang melindungi mereka. Pada kenyataannya, kita justru menjerumuskan mereka. Ketika anak-anak lulus, kita bukan mengantarkan mereka yang sudah siap untuk hidup di dunia nyata. Kita justru menendang pantat mereka dan bilang, “Noh, selamat menikmati dunia nyata.” Apakah pada hakikatnya pendidikan seperti itu?

High Tech High, dengan kurikulum dan sistem pembelajarannya yang juga unik berusaha melakukan hal tersebut. Pada tiap tingkatan, anak-anak diberikan mata pelajaran kolaborasi yang membahas suatu tema tertentu. Mereka diberikan proyek yang nantinya dipamerkan, tidak hanya pada orang tua, tapi juga pada publik. Di awal tahun ajaran, guru akan memberikan dasar-dasar yang perlu diketahui oleh para siswa. Kemudian mereka mengerjakan proyek tersebut. Guru tidak melakukan intervensi apa pun dalam proyek tersebut, kecuali bila siswa meminta saran dan arahan dari gurunya.

Hasilnya menakjubkan. Kreativitas para siswa terlihat begitu cemerlang, bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh mereka sendiri. Apa yang mereka pikirkan membosankan, ternyata tidak membosankan. Karena proyek tersebut, mereka ‘dipaksa’ untuk mencari tahu lebih banyak, bekerja sama dalam kelompok, dan berkreasi. Bahkan beberapa siswa menemukan nilai-nilai positif dalam dirinya yang selama ini tersembunyi.

Beberapa hari setelah pameran dilaksanakan, siswa diminta untuk melakukan presentasi mengenai bagian yang mereka kerjakan di proyek tersebut, apa yang mereka dapatkan, apa yang mereka rasakan, dan presentasi ini disaksikan oleh orang tua siswa. Kegagalan pun tetap dipresentasikan, dan tidak ada yang menyalahkan kegagalan tersebut atau orangnya. Pertanyaan yang muncul justru tentang mengapa bisa gagal, apa pelajaran yang dapat diambil, dan bagaimana memperbaiki kegagalan di kemudian hari.

Saya ingat sekali Pak Iwan Pranoto pernah mengatakan, “Pekerjaan yang nanti akan dimiliki oleh anak-anak saat ini, bukan pekerjaan yang tersedia saat ini. Begitu juga dengan masalah yang nanti mereka hadapi.” Kira-kira begitu, perkataan beliau dalam beberapa tweet dan status Facebooknya. Hal yang persis sama juga diungkapkan dalam film dokumenter ini.

Contoh kecil saja, orang tua kita dulu, mana pernah terpikir ada pekerjaan bernama desainer grafis? Atau pekerjaan-pekerjaan berbasis sistem informasi? Kita pun tidak tahu peluang pekerjaan seperti apa yang bisa muncul atau dimunculkan oleh anak-anak didik kita di masa depan. Begitu juga tentang permasalahan yang ada sekarang dan yang akan timbul kemudian begitu kompleks dan membutuhkan solusi yang tidak sederhana. Karena itulah, sistem pendidikan harus mendorong mereka untuk mampu menghadapi situasi apa pun di masa yang akan datang.

Bagi saya pribadi, film ini sangat menginspirasi. Saya sering berpikir, apa yang berhasil untuk saya, belum tentu berhasil untuk orang lain. Apalagi untuk anak didik saya. Pegiat-pegiat pendidikan di Indonesia juga saat ini sedang berupaya untuk mengubah sistem pendidikan kita. Bila tak bisa dilakukan top down melalui kebijakan kurikulum nasional (layaknya yang dilakukan Finlandia), maka seperti Pak Sulistyanto Soejoso katakan dalam kunjungannya ke Banda Aceh beberapa waktu lalu, kita lakukan apa yang kita bisa lakukan. Begitu juga saya. Sambil trial and error, tanya sana-sini, mudah-mudahan saya menemukan formula yang pas dalam mengajar dan menyusun kurikulum di jurusan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s