Thoughts

Perlunya Membaca Kritis

 

critical-readingBegitu melimpahnya informasi yang hadir melalui gawai kita, seolah-olah kita berenang dalam lautan informasi tersebut. Setiap menit ada saja artikel atau tulisan atau status di akun media sosial yang kita akses. Dari berbagai informasi yang diterima itu, muncul satu pertanyaan. Apakah semuanya benar? Apakah semuanya menyampaikan fakta tanpa ada tendensi lain di baliknya?

Itulah mengapa diperlukan kemampuan berpikir kritis, melibatkan pemilahan informasi-informasi yang sampai, hingga menilai apakah informasi tersebut masuk akal atau tidak, dan layak atau tidak untuk diteruskan atau dijadikan acuan. Namun, sebelum sampai ke sana, ada satu tahapan yang sering dilupakan oleh orang, bahkan pelajar sekalipun. Membaca dengan kritis. Membaca kritis dan berpikir kritis adalah dua proses yang saling beriringan. Berpikir kritis tidak dapat dicapai bila seseorang tidak mampu membaca dengan kritis.

Apa itu membaca dengan kritis? Apakah mempertanyakan seluruh bagian tulisan, mengkritik seluruh bagian tulisan termasuk ke dalam kegiatan yang disebut dengan membaca kritis? Apakah yang dimaksud dengan membaca kritis cukup dengan membaca secara perlahan dan hati-hati?

Membaca Kritis Bukan Sekadar Membaca Perlahan

Membaca kritis adalah kegiatan membaca dengan aktif, reflektif, hati-hati, dan analitis. Membaca kritis berarti pembaca mampu merefleksikan isi  dan maksud tulisan dengan memeriksa struktur dan gaya penulisan, bahasa yang digunakan, juga ide-ide yang disampaikan.

Seorang pembaca yang kritis akan aktif mengenali dan menganalisis tulisan mulai dari topik yang disajikan, ide utama tulisan, gaya bahasa yang digunakan penulis, cara penulis membangun argumen, data dan ilustrasi yang menjadi pendukung argumen, hingga respons emosi apa yang berusaha dibangun oleh si penulis.

Membaca dengan kritis membantu kita untuk memahami suatu tulisan dengan menyeluruh. Dengan membaca kritis, kita melatih diri untuk mengenali tujuan si penulis, mengenali bias-bias yang muncul dalam tulisan, dan memahami nada atau arah emosi yang ingin dimunculkan penulis.

Bagi pembaca kritis, tidak setiap teks mengandung nilai pengetahuan. Pembaca kritis dapat mengidentifikasi pola-pola yang muncul dalam tulisan, baik itu informasi, nilai, asumsi, dan bahasa yang digunakan. Elemen-elemen tersebut saling bertautan dalam membentuk suatu artikel, yang sering kali mengaburkan maksud utama si penulis. Oleh karena itu, pembaca kritis mampu mengenali suatu teks lebih dalam, bukan hanya soal fakta yang disajikan, namun juga maksud si penulis

Sebagai contoh, ada dua orang (yang satu adalah pembaca kritis, yang lain tidak) diminta untuk membaca buku sejarah yang sama. Si pembaca tidak kritis akan mengakui semua informasi yang tersaji dalam buku tersebut sebagai fakta sejarah. Sementara pembaca kritis yang membaca informasi serupa tidak akan tergesa mengatakan bahwa yang ia baca adalah fakta sejarah. Pembaca kritis akan memahami apa yang dibacanya sebagai suatu informasi dari perspektif lain yang perlu dibandingkan dengan informasi-informasi lain dari topik yang sama.

Contoh lain yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, misalnya soal vaksin. Begitu ada artikel yang menyebabkan vaksin menyebabkan autisme, pembaca tidak kritis akan mentah-mentah mempercayai artikel tersebut. Bahkan hanya dengan melihat adanya nama seseorang yang ditulis sebagai tenaga kesehatan dengan embel-embel ‘telah melakukan penelitian’, pembaca tidak kritis akan menganggap informasi yang disajikan sebagai fakta. Tidak demikian dengan pembaca kritis.

Pembaca kritis akan memeriksa keseluruhan artikel, mulai dari paragraf pembuka, ide utama yang disampaikan di tiap paragraf, hingga gaya bahasa penulisnya. Apakah gaya bahasa yang digunakan provokatif dan kontradiktif misalnya. Bila iya, mengapa penulis menggunakan gaya bahasa seperti itu. Apakah memang ingin menimbulkan respons emosi tertentu pada pembacanya yang notabene adalah orang tua (dalam contoh artikel vaksin). Lebih lanjut lagi, pembaca kritis akan memeriksa kebenaran informasinya, misalnya mencari betul-betul nama orang yang disebut dalam artikel, mencari jenis penelitian yang dimaksud, dan melakukan cross-check (pemeriksaan silang) dengan artikel-artikel tentang vaksin lainnya.

Melatih Diri Membaca Kritis

Kemampuan membaca kritis adalah kemampuan yang mutlak dimiliki oleh kita semua. Bahkan kemampuan ini sudah seharusnya diajarkan mulai dari pendidikan dasar. Sayangnya, bila melihat hasil tes PISA dan survei kecakapan literasi dewasa pada tahun 2015, kemampuan membaca kritis masyarakat Indonesia baik di usia setingkat SMP maupun dewasa muda rendah sekali. Namun, tidak ada kata terlambat dalam belajar. Kita dapat melatih diri sendiri untuk lebih kritis dalam membaca suatu tulisan. Ada beberapa tahap untuk membaca kritis yang saya himpun dari berbagai situs yang membahas topik ini.

Tahap awal membaca kritis melibatkan pengenalan tulisan dalam aspek teknis tulisan. Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi aspek-aspek teknis tulisan seperti keberadaan awal, tengah, akhir tulisan; penggunaan ilustrasi untuk menjelaskan ide; penggunaan bukti; gaya bahasa yang digunakan; dan sistematika penulisan dalam menyampaikan gagasan (keteraturan dan kelogisan).

Dalam tahap ini, saya juga merasa pembaca perlu untuk menempatkan tulisan yang dibaca pada tempatnya. Artinya, pembaca harus menyadari betul kapan tulisan itu dibuat dan latar belakang si penulis. Ketika pembaca mampu menempatkan tulisan sedemikian rupa, ia akan lebih objektif dalam membaca, dan tidak akan terlalu terbawa emosi dalam membaca gagasan-gagasan yang disampaikan oleh si penulis.

Tahap berikutnya yaitu mengenali dan mendeskripsikan jenis aspek-aspek yang tertuang dalam tulisan. Pembaca diminta untuk mengenali jenis contoh dan ilustrasi yang digunakan, bukti apa yang disajikan dan berasal dari mana bukti tersebut, terminologi apa yang digunakan dalam topik yang dipilih penulis, gaya bahasa yang digunakan, dan efek emosi apa yang ditimbulkan oleh tulisan. Dalam tahap ini, pembaca sudah bisa membuat penilaian apakah contoh dan ilustrasi yang disajikan tepat, terminologi yang dipakai sesuai, gaya bahasanya lugas atau bertele-tele, dan pada bagian apa saja emosi pembaca muncul, serta emosi jenis apa yang muncul.

Tahap terakhir adalah menganalisis apa yang sudah ditemukan di dua langkah sebelumnya. Pembaca menganalisis perspektif apa yang digunakan oleh penulis ketika ia menyusun tulisan, asumsi apa yang ia bangun, dan bagaimana seluruh elemen-elemen tadi membentuk suatu tulisan yang utuh. Pembaca juga mengevaluasi logika tulisan, ide pendukung yang disajikan penulis untuk memperkuat argumennya, hingga dampak emosi yang ditimbulkan.

Pembaca kritis diminta untuk mengenali pola-pola emosi yang muncul ketika membaca artikel. Bila ada ide-ide yang dirasa bertentangan dengan ide yang dimiliki pembaca, kemudian dilihat pola apa yang timbul. Terakhir pembaca kritis diminta untuk membandingkan tulisan yang dibacanya dengan tulisan lain dengan topik yang sama. Tujuan dari membandingkan ini adalah untuk melihat berbagai perspektif dalam topik sejenis. Nantinya ini menjadi dasar bagi pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi.

Membaca kritis bukan lagi suatu pilihan saat ini dan di masa yang akan datang. Bahkan kemampuan membaca kritis bukan hanya ditujukan bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan formal saja. Membaca kritis adalah suatu kebutuhan mutlak agar kita tidak mudah disulut oleh berita-berita bohong atau tulisan-tulisan yang memprovokasi. Membaca kritis juga melatih kita untuk menghargai pola pikir dan cara pandang orang lain yang berbeda dengan kita (atau kelompok). Dengan membaca kritis kita dilatih (dan melatih diri sendiri) untuk tidak lebih berkepala dingin dalam menanggapi suatu isu.

 

Advertisements

One thought on “Perlunya Membaca Kritis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s