Thoughts

Catatan Diskusi “Perkuliahan atau Perkulian”

education

Jum’at kemarin saya menghadiri diskusi menarik tentang pendidikan di ICAIOS. Penyaji, Bapak Sulistyanto Soejoso, adalah anggota Majelis Pendidikan Jawa Timur. Beliau menyampaikan kritik terhadap arah pendidikan kita. Saya bersama seorang teman datang terlambat karena hujan deras saat itu. Untunglah diskusi belum berjalan lama, jadi kami tidak tertinggal begitu banyak.

Beberapa hal yang Pak Sulis sampaikan pernah saya baca melalui akun Twitter beliau (@SS_DPJatim). Beliau menekankan perbedaan antara orang yang bersekolah dan berpendidikan. Saat ini kita menganggap berpendidikan berarti bersekolah, atau sebaliknya, yang bersekolah sudah pasti berpendidikan. Padahal tidak begitu. Orang yang tersekolahkan hanya memiliki ijazah, tanda bahwa dia menyelesaikan sekolahnya. Sementara orang yang berpendidikan ditandai dengan kemampuan bernalar dan pola pikir yang baik.

Orang yang bersekolah, bahkan hingga menempuh pendidikan doktor sekali pun, belum tentu berpendidikan. Sementara ada orang yang berpendidikan tapi dia tidak menempuh jalur sekolah formal. Sehingga menurut Pak Sulis, kita harus mengembalikan sekolah sebagai tempat mendidik, bukan hanya tempat memberikan ijazah.

Salah satu yang saya catat dalam diskusi ini adalah tuntutan pendidikan abad 21 adalah pembentukan karakter, integritas, dan kreativitas. Ketiga hal ini tidak dapat dicapai hanya dengan memberikan materi, namun dengan cara-cara dalam belajar yang membangun kreativitas, karakter, hingga integritas pada anak didik. Pak Sulis kemudian memaparkan kompetensi yang diharapkan diberikan pada jenjang-jenjang sekolah formal yang ada saat ini. Berikut saya tuliskan ulang paparan beliau:

– Setara SD: mandiri belajar
– Setara SMP: mandiri sosial
– Setara SMA: mandiri merancang masa depan
– Setara S1: mandiri finansial
– Setara S2: memiliki kemampuan berkontribusi pada masyarakat
– Setara S3: menjadi inspirator dan motor penggerak perubahan

Karena tuntutan pendidikan saat ini sudah sedemikian rupa, maka tuntutan terhadap guru pun menjadi bergeser. Guru bukan lagi hanya cakap dalam menguasai ilmu yang akan diajarkan. Guru diminta agar cakap dalam menciptakan atmosfer yang menggairahkan siswa untuk belajar & membangun kompetensi, cakap memotivasi & menginspirasi, dan cakap membaca gelagat anak didik. Oleh karena itu, tantangan seorang guru adalah bagaimana dia membangkitkan gairah siswa untuk belajar, membuat siswa menjadi mandiri, dan melibatkan siswa menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada.

Selama kurang lebih satu jam saya menyimak diskusi ini, banyak hal melintas di kepala. Bukan kali ini saja saya menyimak isu-isu pendidikan. Sejak ada aksi Tolak UN beberapa tahun lalu, saya sudah menyimak pendapat-pendapat mengenai pendidikan terutama dari Pak Iwan Pranoto dan Mas Bukik. Jujur saja, itu juga yang membuat saya bercermin mengenai pendidikan (pada umumnya) dan metode pembelajaran yang saya gunakan.

Saya  mengajar di pendidikan tinggi, tapi tantangan yang dihadapi kurang lebih sama dengan rekan-rekan guru (meskipun tentu saja tantangan terbesar ada pada guru di pendidikan dasar dan menegah). Tantangan-tantangan yang saya hadapi selama tiga tahun mengajar misalnya merangsang mahasiswa untuk ingin mencari tahu dan mandiri dalam mencari sumber bacaan, membangun budaya berpikir kritis/bernalar, percaya diri terhadap buah pikirannya, dan (ini yang sampai sekarang belum bisa saya bangun) menjadi bagian dari solusi permasalahan di masyarakat.

Apa yang disampaikan oleh Pak Sulis kemarin kembali mengetuk benak saya. Banyak hal yang harus saya benahi dalam metode pembelajaran yang saya gunakan. Tiga tahun mengajar dan saya masih mencari-cari formula yang pas. Apalagi, tiap angkatan memiliki karakter yang berbeda-beda, dan tiap mahasiswa punya karakter yang berbeda juga. Ini juga tantangan tersendiri untuk mampu mengenali mereka. Seperti kata Pak Sulis, guru harus mampu membaca gelagat.

Ada satu hal yang secara pribadi menambah semangat saya. Pak Sulis dengan tegas mengatakan, “Jangan mematok target. Lakukan apa yang bisa dilakukan. Jangan banyak menuntut ini dan itu.” Terkadang saya sendiri terlalu fokus pada target, sehingga seringkali patah arang di tengah jalan, karena merasa apa yang saya lakukan percuma atau salah. Saya tidak fokus pada prosesnya, baik itu pembelajarannya atau diri saya sendiri yang sedang berproses.

Sementara perihal tuntutan, bagi saya pribadi, bukan berarti menuntut itu salah. Tapi kalau suatu kebaikan/proses tidak dilakukan hanya karena tidak ada yang menuntut atau tuntutan tidak dikabulkan, rasanya memang keliru. Akhir-akhir ini saya baru menyadari, bahkan dalam kesempitan apa pun, ada hal yang sebenarnya dilakukan, meskipun sedikit. Memang dibutuhkan kreativitas dan keberanian untuk melakukannya (yang sayangnya kadarnya cukup kecil dalam diri saya), tapi bisa. Pasti bisa.

Di akhir diskusi, Pak Sulis kembali mengingatkan agar pendidik tidak terjebak dalam masa lalu. Mendidik harus sesuai dengan perkembangan zaman. Mendidik siswa, harus disesuaikan dengan kebutuhannya di masa depan nanti. Oleh karena itu, cara mendidik pun disesuaikan dengan kebutuhan di masa depan. Bukan soal kecakapan dia dalam menghapal ilmu atau rumus, tapi bagaimana siswa mampu membangun konsep berpikir dan bernalar yang baik, hingga tidak terjebak dalam pusaran arus informasi yang besar. Juga tentang bagaimana dia menemukan solusi-solusi dari berbagai masalah, bahkan menciptakan hal baru (inovatif) untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan kecanggihan teknologi saat ini, kurangnya informasi sudah bukan jadi alasan lagi. Saya bisa berbagi dengan siapa pun. Tidak hanya soal status kehidupan pribadi, tapi juga ide dan pertanyaan. Begitu juga dengan pengajar dan pendidik lainnya. Informasi-informasi tentang pendidikan, metode pembelajaran, dan permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar bisa diselesaikan bersama-sama. Anda bisa menginspirasi saya, begitu juga sebaliknya. Komunikasi antar sesama pendidik bisa dibangun dengan baik (dan ini sudah terlaksana di beberapa kota di Indonesia).

Pendidikan adalah soal manusia, baik guru dan muridnya. Pendidikan bukan mencetak robot-robot siap pakai, tapi menjadi sarana pengembangan diri manusia-manusianya untuk mencapai kemampuan tertinggi yang dimilikinya. Pendidikan bukan soal ranking atau IPK tinggi, tapi apakah siswa mampu bernalar dan mengambil keputusan dengan baik berdasarkan cara pandang yang komprehensif. Pendidikan bukan soal menjawab paling panjang, tapi tentang kemampuan menjelaskan agar semua orang bisa paham. Pendidikan tidak berhenti ketika sekolah selesai, dia terus terjadi setelahnya.

Saya, meskipun berprofesi sebagai pengajar (belum berani menyebut diri sebagai pendidik), juga bukan orang yang berhenti belajar. Saya sendiri masih belajar, masih mendidik diri saya sendiri sambil berusaha menularkan ide dan semangat belajar pada adik-adik mahasiswa yang saya ajar. Mudah-mudahan selalu ada perbaikan dan kemajuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s