Thoughts

Antara Cabai, Ibu-ibu, dan Komentar Pak Amran

Netizen sedang meradang akibat komentar Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang menganjurkan ibu-ibu untuk mengurangi aktivitas bergosipnya selama lima menit dan menggantinya dengan menanam cabai. Perempuan-perempuan meradang, tidak terima dituduh penggosip. Komentar Pak Amran ini dianggap sangat misogynistik sekali.

Siapa sih yang tidak terpeleset dalam kegiatan membicarakan orang lain? Saya rasa sekarang ini sebagian besar dari kita pernah melakukannya, tidak peduli laki-laki dan perempuan. Harus diakui kalau manusia, terutama manusia-manusia di Nusantara yang sifat komunalnya masih kental, sangat suka membicarakan orang lain alias bergosip. Aktivitas bergosip sebenarnya tidak kenal jenis kelamin. Bagaimana dengan Pak Amran? Apa maksudnya beliau bicara seperti itu? Izinkan saya menerawang.

Barangkali, maksud Pak Amran adalah aktivitas menanam cabai tidak memerlukan waktu yang lama, tinggal menyemai biji, siram-siram sedikit, dan tunggu lah hingga tanamannya tumbuh. Ketimbang mengeluh sana-sini, kenapa tidak setiap rumah menanam cabai? Toh hasilnya bisa digunakan sendiri, ya kan? Pak Amran melontarkan komentar tadi di hadapan ibu-ibu dengan harapan para ibu memanfaatkan pekarangannya untuk menanam kebutuhan makanannya sehari-hari. Ajakannya bagus sebenarnya, hanya saja berbalut kalimat seperti itu, ya wajar membuat beberapa orang meradang.

Daripada membahas unsur misogyni dari komentar Pak Amran tadi, saya ingin melihat lebih jauh. Katakanlah 126 juta ibu-ibu ini menanam dua tanaman cabai saja di pekarangan rumahnya. Tanaman cabai itu, berdasarkan pengalaman orang tua, sangat produktif dalam menghasilkan buah. Sementara kebutuhan cabai untuk masakan rumah tangga sehari-hari tidak terlalu banyak. Dan cabai juga tidak tahan lama berada di kulkas, lama-lama dia akan busuk. Kalaupun dikeringkan (untuk cabai merah), penggunaannya pun sangat terbatas. Tidak banyak masakan yang menggunakan cabai merah kering atau bubuk cabai merah kering.

Pertanyaannya, ke mana sisa cabai ini akan dibawa? Dibuang? Diolah jadi makanan tertentu? Apakah 126 juta ibu-ibu ini punya waktu, kemampuan, dan dana untuk mengolah buah cabai menjadi produk makanan jadi? Bila diolah menjadi produk makanan jadi (sambal botolan misalnya), akan dijual ke mana produk ini? Seberapa banyak pasar mampu menerima produk olahan cabai yang dihasilkan 126 juta ibu-ibu yang menanam cabai tadi (katakanlah diolah secara berkelompok di tiap desa/kelurahan)?

Bila 126 juta ibu di Indonesia menanam cabai, dan kebutuhan cabai harian untuk rumah tangga terpenuhi dengan sendirinya, bagaimana dengan hargajual cabai yang ditanam petani? Apakah usaha rumah makan atau industri produk makanan olahan cukup untuk mengamankan harga jual cabai di pasaran, bila ibu-ibu sudah tidak membeli cabai lagi?

Saya mendukung penanaman kebutuhan dapur di pekarangan rumah, hanya saja untuk tanaman seproduktif cabai, sayang kalau akhirnya buahnya terbuang percuma bila tidak ada skema peningkatan nilai tambah pada buah cabai. Skema peningkatan nilai tambah ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas warga.

Entahlah, itu hanya sedikit hal terlintas di benak saat membaca reaksi netizen terhadap komentar Pak Amran. Bagaimana dengan Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s