Thoughts

Malam Tahun Baru

Malam Tahun Baru
Yang hening dan yang bersuka ria

happy-new-year

Berbeda sekali suasana malam pergantian tahun di Banda Aceh bila dibandingkan ketika saya masih tinggal di Bandung (dan berkelana ke Jakarta). Di sini sunyi, tidak ada suara kembang api atau petasan bahkan terompet. Bukan karena warga Banda Aceh tidak suka main petasan atau kembang api (karena kalau bulan Ramadan dan malam lebaran pasti berisik sekali), tapi Pemerintah Kota melarang berbagai bentuk perayaan pergantian tahun. Jangankan acara-acara hedon ala-ala masyarakat metropolitan, pengajian refleksi pergantian tahun saja tidak diperbolehkan.

Minggu terakhir bulan Desember, saat saya membeli kopi di kedai kopi kesayangan (lebih tepatnya yang paling dekat kampus dan menjual kopi arabica), saya melihat pengumuman dari Pemerintah Kota tertempel di dinding kedai. Isinya kurang lebih menyatakan bahwa segala bentuk perayaan tahun baru tidak diperbolehkan, baik itu pengajian hingga pesta-pesta; tidak diperbolehkan memainkan kembang api, petasan, dan terompet; seluruh toko/aktivitas jual beli harus dihentikan pada pukul 23.00 WIB; dan merayakan pergantian tahun tidak sesuai dengan agama Islam dan adat istiadat Aceh.

Sambil menunggu pesanan kopi selesai, saya hanya bisa tertawa geli. Soal pelarangan perayaan malam tahun baru sih bukan hal aneh di Banda Aceh ini. Entah kenapa perayaan malam pergantian tahun selalu dikonotasikan dengan pesta hedon yang berujung maksiat. Bila beberapa tahun lalu malam pergantian tahun pernah diisi dengan pengajian dan muhasabah, sebuah kegiatan yang positif, dua atau tiga tahun terakhir rupanya kegiatan seperti itu juga tidak boleh, alasannya karena tidak islami. Padahal pengajian, lho. Apa salahnya orang bermuhasabah saat pergantian tahun?

Lebih menggelikan lagi, sangking khawatir dan tidak percayanya Pemerintah Kota pada masyarakatnya sendiri, toko/kedai/warung pun harus mengakhiri aktivitasnya sebelum jam 00.00 WIB. Sebegitu takutnya tiba-tiba ada pengunjung yang iseng menyalakan petasan/kembang api atau meniup terompet. Sebegitu tidak percayanya penguasa pada rakyatnya sendiri.

Padahal, kedai/warung di Aceh ini (apalagi warung kopi atau gerobak jualan makanan) biasanya melayani pelanggan hingga pukul 02.00 dini hari. Apalagi di akhir pekan, di mana warung kopi pasti penuh oleh pengunjung yang nonton bareng pertandingan bola. Eh, di malam pergantian tahun kemarin, yang jatuh pada hari Sabtu (dan ada pertandingan bola pula), kedai harus tutup lebih awal karena penguasa begitu ketakutan warganya merayakan pergantian tahun.

Ah, sungguh berbeda dengan Bandung dan Jakarta. Malam pergantian tahun bukan hanya soal berhedon-hedon di sana. Malam pergantian tahun jadi ajang berkumpul dengan kawan-kawan dan keluarga, flashback kejadian-kejadian selama setahun, merayakan saat-saat kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Di sana juga tidak semua orang berhedon-hedon, ada yang memilih merayakannya di rumah. Bakar jagung, bakar sosis, makan-makan bersama.

Kadang saya berpikir, apa salahnya sih merayakan sesuatu? Apa salahnya bersuka cita? Apakah untuk bersuka cita saja harus diperintahkan oleh Tuhan? Ditentukan tanggal berapa boleh bersuka cita, dan bagaimana cara bersuka cita yang diizinkan? Apakah Tuhan sediktator itu? Apakah Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan segala keberagamannya, menciptakan manusia dengan segala keunikannya betul-betul memaksa penyeragaman cara seseorang menyikapi sesuatu?

Yang mengherankannya lagi (bagi saya, perlu ditegaskan) kalau malam pergantian tahun hijriyah, kok perayaannya begitu meriah? Kenapa yang itu boleh? Apakah karena tahun yang berganti adalah tahun resminya islam? Apakah kita tidak boleh lagi merayakan atau bersuka cita akan sesuatu hal yang tidak ‘diatur’’ oleh sistem kepercayaan yang dianut/dipercayai sekelompok orang?

Entahlah. Sesuatu hal yang sederhana nampaknya semakin hari semakin rumit. Bukan karena ia memang rumit, tapi karena dirumit-rumitkan. Barangkali nanti, kita tak mampu lagi memikirkan hal yang rumit, karena kita terlalu sibuk merumitkan hal-hal yang teramat sederhana. Barangkali nanti kita tak mampu lagi merasa, karena untuk merasa saja perlu panduan operasional dan undang-undang yang mengatur.

Anyway, ocehan saya sudah kemana-mana ini. Selamat tahun baru untuk kita semua. Semoga petualangan di tahun ini lebih seru dan menyenangkan. Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s