Thoughts

Guru Juga Manusia

Guru juga manusia, ia tak luput dari kesalahan. Salah dalam metode mengajar, menyampaikan materi, bersikap, mengambil keputusan, bertindak, bertutur kata, dan barangkali dalam setiap aspek kehidupannya ia pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, guru, yang juga manusia itu, haruslah berlapang dada menerima teguran.

Bila guru adalah manusia, dan manusia tak luput dari kesalahan, maka guru seyogyanya menyadari bahwa sesekali ia akan tersandung. Berbekal kesadaran itu, sepatutnya ia juga tak berlindung di balik ‘keagungan’ profesinya untuk menghindari dari kritikan. Berbekal kesadaran bahwa ia adalah manusia yang tak akan terhindarkan dari kesalahan, maka ia tak akan naik pitam bila muridnya bertanya atau mempertanyakan tingkah lakunya.

Guru bukan perpanjangan tangan Tuhan, apalagi Pemilik Ilmu. Oleh karena itu, guru tak baik [menurut saya] menyimpan ilmu dari murid-muridnya. Ia tidak MahaTahu. Kebetulan saja, ia sedikit lebih cepat mencari informasi dibandingkan dengan anak didiknya. Ia juga harus terus memperbaharui ilmu yang dimiliki. Dunia berubah, dan guru harus mengikuti perubahan tersebut layaknya manusia lainnya.

Guru bukanlah sumur ilmu. Ia hanya manusia yang kebetulan lebih dulu menemukan jejak-jejak menuju sumur ilmu itu. Karena itulah guru adalah penunjuk arah, agar anak didik sendiri yang bergerak menuju sumur ilmu yang tak habis-habis itu. Guru juga bukanlah pelita dalam kegelapan, tapi ia lah orang yang menyalakan pelita-pelita kecil di dalam masing-masing anak didiknya dan berupaya menjaga agar pelita itu tetap menyala.

Guru bukanlah pengajar, ia juga pembelajar. Bila guru hanya sebagai pengajar, maka ia berhenti belajar. Guru pembelajar adalah guru yang bersama-sama dengan anak didiknya belajar, sama-sama mencari ilmu, baik di dalam maupun di ruang kelas. Oleh karena itu, ruang dan kesempatan anak didik untuk bertanya tak boleh dibatasi. Pertanyaan tak bisa dijawab, tak mengapa, bisa dicari jawabannya lalu didiskusikan bersama. Bukankah itu lebih menarik?

Bila manusia dianjurkan sering-sering bercermin untuk mempelajari dirinya sendiri, begitu juga dengan guru. Guru bercermin diri untuk menilai dan memperbaiki dirinya, cara mengajarnya, kekurangannya. Bagaimanapun juga, ia akan memberikan warna pada anak didiknya. Warna apa yang ingin ia goreskan hanya bisa dilihat dengan cara bercermin diri.

Guru juga manusia, jangan sungkan untuk memberikan masukan dan kritik kepadanya. Perlakukan ia layaknya kita memperlakukan manusia lainnya. Hormati ia, bila ia memang pantas diberikan penghormatan.

Selamat hari Guru, para Guru Pembelajar 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s