Resensi

Tentang Bekisar Merah

bekisar-merah-cover

Setelah menyelesaikan 3 pekan diklat, hal yang pertama kali ingin saya lakukan adalah membaca cerita fiksi. Entah karena alasan apa, pokoknya ingin baca novel. Banyak novel-novel yang belum saya baca, dan dari semuanya, saya pilih Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.

Selama membaca Bekisar Merah saya seringkali dibuat gregetan. Gregetan karena tokohnya yang terlalu nrimo, pasrah, dan kurang berinisiatif untuk menyelesaikan masalahnya. Misalnya Lasiyah yang menjadi tokoh pusat cerita ini, dia digambarkan sebagai perempuan yang lugu, polos, dan tidak jelas apa maunya. Karakternya yang seperti itu menyebabkan dia terbawa aliran hidup yang entahlah. Ya, entahlah. Satu kata yang cukup sering muncul di dalam cerita.

Begitu juga Kanjat, tokoh lain yang kelak menjadi suami Lasiyah. Kanjat sendiri meski digambarkan berperawakan gagah (bila badan tegap, kumis, dan bulu tangan dijadikan ukuran), perilakunya sendiri mbalelo. Ini tidak yakin, itu bingung. Sikapnya pun lebih banyak entahlah.

Memang novel Bekisar Merah menitikberatkan tentang kehidupan Lasiyah yang menjadi gula-gula pejabat di Jakarta. Lasiyah yang polos tapi cantiknya aduhai itu sangat diminati untuk dijadikan pemanis dan kebanggaan sebagai gandengan. Jadi, titik berat cerita ini adalah bagaimana Lasiyah diombang-ambing sebagai perhiasan, dari tangan yang satu ke tangan yang lain.

Sebenarnya meski titik berat cerita ini adalah tentang Lasiyah, ada beberapa hal menarik yang dibahas oleh Ahmad Tohari. Misalnya tentang permainan kekuasaan di kalangan pejabat, lobi-lobi politik (yang mungkin terjadi saat itu dan masih terjadi saat ini), dan sikap pejabat/calon pejabat demi mendapatkan kekuasaan. Ada adegan menarik saat Pak Handarbeni mengatakan pada supirnya kalau Republik Indonesia ini sebenarnya republik-republikan, bentuknya saja republik, tapi sistem kekuasaannya masih dijalankan ala priyayi Jawa.

Bagian ini membuat saya terkekeh geli. Hampir seumur hidup saya yang pendek ini, ungkapan “Negara ini kan negaranya orang Jawa” sering saya dengar. Membaca adegan Pak Handarbeni yang bilang seperti itu, ya jelas membuat terkekeh. Meskipun kalau mau ditarik lebih luas, negara ini masih kental nuansa pemerintahan ala kerajaan. Geli saya.

Ah, mari kembali ke tujuan tulisan ini. 

Sebagai novel, Bekisar Merah memang tidak terlalu dalam menggali karakter dan permasalahan setiap tokoh utamanya. Namun, saya sendiri merasa ada yang nyata dalam cara Ahmad Tohari bercerita. Memang itulah realita, kadang tidak terlalu dalam. Kadang keluhan, ya, hanya keluhan lalu kembali menjalani hidup. Kadang kendala yang dihadapi, bila itu bentuknya polisi tidur atau lubang di jalan, ya cukup dilewati saja. Dipikirkan sih, tapi tak mampu membuat seseorang berbuat sesuatu tentang itu.

Karakter tersebut tergambarkan pada cara seorang Kanjat menghadapi masalah, baik itu masalah sosial yang membuatnya murung atau di akhir, masalah yang menerpa Lasiyah yang telah menjadi istrinya. Galau, bingung, kesal, ya cukup sampai di situ. Kanjat hanya bersikap entahlah. Begitu masalah besar muncul, baru Kanjat mengambil tindakan. Sebelumnya, entahlah.

Sikap nrimo sendiri bukan hanya ditunjukkan oleh Lasiyah sebagai tokoh utama, tapi juga Darsa, Eyang Mus, dan segenap penduduk kampung Karangsoga. Sikap nrimo mereka tunjukkan entah itu saat hasil penyadapan nira berkurang, nilai jual gula rendah, bahkan saat pohon kelapa yang menjadi sumber mata pencaharian mereka ditebang demi pembangunan bernama listrik masuk desa.

Itulah sikap yang mungkin masih kita jumpai di sebagian besar masyarakat. Nrimo bahwa semua rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Semua kejadian sudah digariskan oleh Tuhan. Sikap ini yang jelas tergambar di karakter penduduk Karangsoga. Sikap yang dilepehkan oleh priyayi semacam Pak Handarbeni, yang mengatakan sikap nrimo itulah yang sengaja diajarkan pada masyarakat rendahan supaya mereka tak banyak menuntut.

Meskipun saya agak kesal dan gregetan selama membaca Bekisar Merah, tapi akhirnya saya mengerti. Ahmad Tohari nampaknya tidak berusaha melambungkan angan-angan melalui ceritanya. Tidak pula menghadirkan kisah yang romantis-romantis amat, atau tragis berlebihan.

Dalam Bekisar Merah, ia menghadirkan kehidupan nyata dalam lembaran-lembaran cerita. Tentang orang-orang yang memang sudah terdidik untuk bersikap nrimo, tak mempertanyakan sedikit pun mengapa nasibnya buruk. Tentang orang-orang yang tak mampu berbuat meski hasratnya menggelora, orang-orang yang tak ingin menyusahkan orang lain. Tentang orang-orang yang serakah dan sewenang-wenang. Tentang kita, di kehidupan nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s