Thoughts

Hakim yang Bukan Hakim

Dulu, waktu Aa Gym sangat tenar (sekitar tahun 90-an akhir atau 2000-an awal) tiba-tiba terbersit dalam benak saya yang kala itu mendengar ceramah subuhnya (sambil menikmati makan pagi), “Suatu hari Aa Gym akan jatuh dan dibenci banyak orang.” Entah kenapa pula terlintas pikiran semacam itu, tiba-tiba saja ia muncul. Barangkali saya eneg dengan kecentilan jamaah perempuan yang kegatelan bila bertanya atau berkomentar soal Aa Gym. Barangkali saya adalah semacam turunan ke sekian dari Shaman yang sakti mandraguna.

Hingga tiba suatu ketika terdengar kabar Aa Gym berpoligami. Ketika semua orang kecewa, mencaci, marah, bahkan meninggalkan pengajiannya, saya selow saja. Oh, pikiran saya bertahun lalu itu terbukti. Saya tidak kaget dan kembali melanjutkan hidup. Tatkala orang-orang menyalahkan Aa Gym (yang selama ini selalu menggadangkan keluarga yang bahagia dan solid, tapi sebenarnya tidak pernah berjanji untuk tidak berpoligami, if only people would really listen), saya malah mencibir para jamaah itu.

Dulu waktu figur Aa Gym begitu terkenal, apa pun perkataan Aa Gym dianggap benar. Ia dipuja ke manapun ia pergi. Ia dijadikan contoh. Begitu ada hal yang tidak sesuai harapan, Aa Gym dilepehkan begitu saja (kayak gebetan yang sudah selesai dimanfaatkan). Apa yang Aa Gym bilang, terlepas dari benar atau salah, selalu dikaitkan dengan status poligaminya. Aa Gym keliru dalam memberikan analogi, eh yang diserang status poligaminya. Bukan kekeliruan logika berpikirnya yang diserang. Barangkali kalau Aa Gym bilang kotorannya berwarna merah, itupun akan dikaitkan dengan poligami! Luar biasa.

Kejadian serupa berulang pada motivator kondang Mario Teguh. Persis saat saya menonton acaranya di sebuah stasiun televisi swasta, saya berpikir, “Yak, ini orang bakalan jatuh.” Agak ngeri-ngeri sedap, yha? Dan sejak itu saya tidak pernah nonton acara Mario Teguh lagi. Entahlah, orang macam saya tidak mempan dengan motivasi jenis apa pun.

Tentu saya agak terperangah ketika membaca beberapa berita soal anak Mario Teguh yang tidak diakuinya. Loh kok bisa bener lagi (sudah boleh buka lapak ramal, belum?). Bagi saya, urusan Mario Teguh dengan anaknya adalah urusan internal mereka. Adapun itu dibawa ke publik, ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Bagian yang menjijikkan adalah para polisi moral yang sibuk mengomentari Mario Teguh. Layaknya peribahasa, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” para polisi moral ini mudah sekali mengomentari dan menghakimi Mario Teguh. Padahal urusan jelasnya apa juga nggak tau pasti.

Persis sama yang terjadi dengan Aa Gym. Ceramah-ceramahnya dihina dan dikaitkan dengan moralnya. Kajian-kajian Mario Teguh pun mulai disinggung-singgung dan dikaitkan dengan kasus yang baru saja terjadi ini. Seolah-olah semua yang dikatakan salah.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Padahal tinggal bikin aja susu rasa blueberry kek, apa gitu. Kan tetap bisa dinikmati? Padahal esensi susu tidak akan rusak hanya dengan ketumpahan nila, hanya penampakan berubah. Rasa dan bau juga belum tentu berubah. Susu akan tetap menjadi susu meskipun ketumpahan nila, telor, atau kopi. Apakah kehakikian susu berubah ketika ketumpahan nila?

Apakah ceramah-ceramah Aa Gym dan kajian-kajian Mario Teguh menjadi sampah ketika kita merelasikannya dengan perbuatan mereka? Apakah perkataan orang yang tidak kita sukai lantas sepenuhnya salah? Apakah tidak ada setitik kebenaran di sana? Apakah tidak ada makna yang dapat kita ambil? Begitu piciknya kah diri kita hingga tak mampu melihat yang substantif? Begitu dangkalnya kah kita hingga hanya mampu mencerna sesuatu yang tampak di permukaan?

Ada peribahasa dalam Bahasa Aceh yang mengatakan kurang lebih begini, “Kalau seseorang sudah kita sukai, salahnya pun kita maafkan. Kalau seseorang sudah kita benci, kebaikannya pun kita anggap buruk.”

Dan dengan subyektivitas seperti itu, kita merasa pantas mengangkat diri menjadi polisi moral, satpam Tuhan, yang mampu menghakimi siapa pun dan kesalahan apa pun.

Bukankah yang seperti itu tidak pada tempatnya?

 

Advertisements

3 thoughts on “Hakim yang Bukan Hakim

  1. Well, we are human, nobody free from bias, and everybody is bystander. Do you know why a motivator such Aa Gym and Mario Teguh sell? Because people- human living in a realistic interaction, a realistic interaction tend to keep bad things and ignoring good things. Reality of human interaction sucks, painful, and bias, so we ( the market, human society), demand for any positivity supplement, an external motivation, and both of them supply it, with price.

    Science is great, scientist isn’t that great. A scalable object could be deviated by delusional subject, believe me. One of the delusional idea of man, is a scale of man itself. A moral standard, an ‘ Akhlaqul karimah’ scale, where human enable to judge other, by rigid measurement.

    1. Completely agree with your opinion, especially the last part. The idea to standardize behaviour to achieve such concept is beyond my belief. Even God (in my own opinion) doesn’t ask us to become moral police for other people. The first thing we have to do is becoming moral police for ourselves, since we are the first party who can overlook our wrong doing. And that’s what I’ve been seeing clearly these past few years.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s