Resensi

Matinya Burung-Burung

Adalah seorang kawan, yang sudah saya anggap sebagai abang (Hai, Bang Hengki Rumah Kaca) yang memperkenalkan karya penulis Amerika Selatan pada saya. Buku fiksi pertama yang saya baca berjudul “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” karya Luis Sepulveda. Novel (atau novelet?) ini sangat singkat dan ceritanya sebenarnya sederhana. Latar belakang kehidupan yang diangkat juga sangat sederhana.

Beberapa bulan kemudian, Abang saya itu juga menyarankan saya membeli buku kumpulan cerita penulis-penulis Amerika Latin, “Matinya Burung-burung.” Lama buku ini mengendap di rak buku, hingga dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk membacanya.

Matinya Burung-Burung

Saya benar-benar salut dengan penulis-penulis Amerika Latin. Cerita mereka sederhana, bukan menggambarkan konflik yang demikian rumit, tapi justru dalam kesederhanaan plot dan penokohan itu, banyak kerumitan yang terpendam. Apakah karena terlalu rumit maka ia menjadi terlihat sederhana?

Namanya juga kumpulan cerita sangat pendek, ceritanya ya memang ada yang pendek ada yang teramat sangat pendek! Misalnya cerita berjudul Minimus 3 (Jose Lira Sosa) yang memuat dua kalimat,

“Segalanya bergerak. Tak ada yang diam karena itu bertentangan dengan hakikat alam semesta, kata sang filsuf sambil meringkuk nyaman di sofa favoritnya.”

Jpeg

Atau cerita berjudul Dinosaurus karya Augusto Monterroso, yang hanya berisikan satu kalimat saja,

“Ketika ia terbangun, dinosaurus itu masih ada di sana.”

Betul-betul cerita yang bangke sekali. Cukup satu atau dua kalimat, tapi menohok langsung ke ulu hati.  Cerita Minimus 3 misalnya, dalam dua kalimat itu saja, penulis sedang menyindir kebanyakan dari kita yang sibuk bercuap-cuap dari kejauhan, mengomentari tentang satu persoalan, dengan segala idealisme yang dimiliki atau dipelajari. Pejuang jempol, kalau saya boleh katakan. Mereka yang masturbasi pikiran dan hanya masturbasi pikiran saja. Tapi, di sisi lain, betulkah orang yang tidak bergerak secara fisik juga tidak bergerak? Padahal berpikir sendiri pada hakikatnya adalah pergerakan berbagai impuls listrik di dalam otak? Padahal selama manusia masih hidup, seluruh hal yang ada di dalam tubuhnya ikut bergerak? Apakah dia tak berkontribusi apa-apa?

Cerita Dinosaurus, yang dengan kurang ajarnya hanya berisi satu kalimat, juga bisa membuka ruang diskusi yang menarik. Siapa “ia” yang dimaksud? Dinosaurus itu digunakan untuk mengumpamakan apa? Tidak terjadinya perubahan kah? Atau tentang kondisi sosial yang meski tahun berubah, perkembangan teknologi semakin maju, tapi tetap sama atau malah mundur ke belakang. Apakah dinosaurus yang dimaksud adalah sosok seseorang yang menakutkan? Yang bercokol lama dalam suatu sistem pemerintahan atau sistem sosial?

Satu dua kalimat jahanam yang akan membuat pembaca berpikir. Bahkan bila pembaca malas berpikir pun ia masih bisa dinikmati sambil lalu. Belum lagi cerita-cerita teramat singkat yang ada di kumpulan cerita “Matinya Burung-burung” ini. Cerita-cerita di dalamnya berlatarbelakang kondisi sosial yang mirip dengan kondisi sosial di negara kita. Sehingga tidak akan terlalu sulit untuk terhubung ke dalam cerita tersebut.

Karena kumpulan cerita ini, saya disarankan oleh teman-teman untuk membaca novel-novel karya beberapa penulisnya yang katanya lebih menggila lagi. Saya cukup tertarik. Nanti bila ketemu bukunya, tentu akan saya baca. Mungkin tidak segera, tapi pasti.

Advertisements

2 thoughts on “Matinya Burung-Burung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s