Life

Selamat Hari Kartini

Hari ini adalah salah satu hari yang akan dipenuhi dengan perdebatan. Dari zaman saya SMP sampai sekarang sudah mau osteoporosis begini, setiap tanggal 21 April, selalu ada yang berdebat tentang Hari Kartini. Dan materi ributnya itu lagi itu lagi. Sinetron Tersanjung yang sampai delapan tahun aja (eh, apa sepuluh tahun ya?) masih ada variasi (walaupun sedikit sekali) ceritanya, ini materi debat tentang Hari Kartini nggak jauh-jauh dari :

  •  Mengapa harus Kartini yang diangkat? Memangnya Kartini itu ngapain? Cuma bisa nulis-nulis aja kok. Udah gitu dia dipoligami lagi! Apa kontribusi dia bagi perjuangan? Kenapa nggak pejuang wanita yang ikut perang dalam kemerdekaan yang dijadikan simbol?!
  • Kenapa perayaan Kartini itu selalu simbolik? Buat apa pakai kebaya-kebaya segala?

 Dari jaman harga bensin masih dua ribu sampai sekarang sudah tujuh ribu, itu-itu saja yang diributkan.  Okelah kalau masyarakat protes mengapa Kartini yang diangkat. Sampai ada yang menduga apa karena kedekatan dia dengan orang Belanda, sahabat penanya itu. Yang di luar Jawa mungkin lebih sensitif lagi, dengan menganggap bahwa dijadikannya tanggal lahir Kartini sebagai suatu bentuk peringatan perjuangan perempuan adalah hal yang Jawasentris. Yang mana mungkin saja benar, karena Pak Harto lah yang mencanangkan hari tersebut.

 Tapi ini sudah tahun 2016. Masa iya materi ributnya masih dua poin itu melulu? Yang terpancing ribut juga perempuan lagi. Lalu terciptalah dua golongan perempuan di tanggal 21 April, yang sinis dan yang membela. Apa nggak bosan setiap tahun, di tanggal 21 April, mengritik perayaan Hari Kartini yang sangat mengutamakan simbol? Yang membuat perjuangan perempuan tidak maju-maju karena fokus pada simbol?

 Lho, Mbakyu, yang merayakan secara simbolisme itu ya masyarakatmu juga, orang-orang di sekelilingmu juga. Mbakyu sudah berbuat apa supaya masyarakat kita, yang dari zaman nenek moyang nyembah pohon sampai sekarang nyembah Tuhan Yang Maha Esa, sangat mementingkan simbol. Kita sudah berbuat apa, Mbakyu, untuk menyadarkan keluarga kita (yang paling dekat), anak didik kita, teman-teman kita agar tidak mementingkan simbol?

 Teman-teman yang dari tahun ke tahun selalu mengisi Hari Kartini dengan lebaran opini “kenapa bukan para wanita pejuang yang kita peringati, malah kartini yang Cuma nulis saja?” apakah bisa menjawab apabila ditanya sejarah hidup Laksamana Malahayati, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, dan pejuang wanita lainnya di Nusantara?

 Yang di luar Jawa dan ribut tentang Jawanisasi pemerintah dengan mencanangkan peringatan hari lahir Kartini, apakah sudah mengajarkan pada anak-anak kita sejarah tentang pahlawan perempuan dari daerahnya masing-masing? Atau Cuma mengeluh dan beralasan tidak ada waktu atau tidak ada dalam bagian kurikulum sekolah?

 Apakah teman-teman juga sudah membaca kumpulan surat-suratnya Kartini? Apakah teman-teman juga mengetahui bagaimana situasi sosial di zaman Kartini hidup? Bagaimana keadaan keluarganya? Bagaimana kiprah saudara-saudaranya Kartini? (saya baru baca loh, ternyata keluarga kartini ini memang peduli sekali soal pendidikan dan kesejahteraan sosial terutama perempuan)

 Teman-teman perempuan yang mencibir Kartini yang menentang poligami tapi mengalami poligami itu sendiri, apakah sudah memahami mengapa Kartini mau menjalani itu? Apakah mungkin di zaman itu, seorang Kartini menolak perintah ayahnya?

 21 April mungkin akan lebih berwarna bila lebih banyak lagi kegiatan atau perjuangan perempuan diangkat ke dalam liputan dan tulisan-tulisan. 21 April juga mungkin akan lebih berwarna bila dijadikan sebagai momentum untuk membahas permasalahan terkini yang melibatkan kaum perempuan. Masalah pernikahan anak, keterwakilan suara perempuan di parlemen (dan apakah benar jumlah yang dimaksud itu betul-betul terlibat dalam berbagai proses di lembaga perwakilan rakyat kita), masih kentalnya budaya patriarki di berbagai daerah, kekerasan seksual, tingkat pendidikan perempuan, kesehatan reproduksi, waktu cuti melahirkan, biaya bulanan tempat penitipan anak yang sangat mahal bagi ibu-ibu yang bekerja, dan sebagainya.

 Mudah-mudahan hari ini saya juga lebih banyak membaca artikel-artikel tentang kehebatan perempuan-perempuan di Indonesia yang melakukan perubahan baik skala kecil maupun besar. Karena mereka, bagaikan Kartini, tak berhenti meskipun berada dalam keadaan yang terbatas.

 Meminjam perkataan Ayah Pidi Baiq, Kartini dan seluruh wanita yang bergerak melakukan perubahan, adalah mereka yang memiliki pikiran melangit dan hati yang selalu membumi.

 Salam hormat saya untuk para perempuan di mana pun mereka berada.

 —-

Ps: saya akui, di suatu ketika saya masih sangat naif, saya juga terlibat dalam perdebatan tak berfaedah di tanggal 21 April. Keterlibatan saya itu karena saya tidak tahu dan sangat bodoh sekali. Saya begitu naif untuk berpikir bahwa hal yang penting hanyalah perlawanan secara fisik terhadap penjajahan, terhadap orang asing.  Tak terpikirkan oleh saya di masa itu, bahwa perlawanan terhadap penjajahan, oleh kelompok kita sendiri, juga perlu dilakukan. Tak terpikirkan pula oleh saya, melawan penjajahan itu dimulai dari berpikir. Saya juga tak mempertimbangkan kondisi Kartini di masa itu.

 Untunglah saya lekas sadar bahwa banyak hal yang perlu dilihat sebelum kita menilai dan menghakimi sesuatu. Banyak hal yang tak sesederhana apa yang terlihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s