Thoughts

Betina Berotak Jantan

005159900_1460537813-2016413_demo_tolak_semen_fsg_10

(gambar diambil dari sini)

Beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan oleh berita sembilan orang ibu dari Kendeng datang ke Jakarta dan memasung kaki mereka di depan Istana Negara. Berita mengenai hal tersebut bisa dibaca di tautan berikut (ada banyak berita tentang Kartini Kendeng dengan aksi mereka memasung kaki di dalam semen, silahkan mencari di Google).

Kesembilan ibu ini datang dari Kendeng untuk meminta Pak Jokowi menghentikan proyek pembangunan pabrik semen di Kendeng. Berbulan-bulan ibu-ibu ini berjuang agar proyek tersebut dihentikan. Kesembilan ibu ini mewakili saudara-saudara mereka menuntut keadilan demi lahan sawah mereka yang terancam kering apabila pabrik semen tetap dibangun.

Aksi mereka beberapa hari yang lalu menuai berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk dari netizen yang mulia. Ada yang simpati bahkan empati dengan kesembilan ibu tersebut, dan ada pula yang mempertanyakan motif ibu-ibu tersebut melakukan aksi yang membahayakan seperti itu. Tuduhan juga muncul bahwa ada LSM yang merancang aksi tersebut. Komentar tak mengenakkan tentu saja ikut muncul, tak mau kalah.

Dari seluruh reaksi netizen yang mulia, yang paling membuat saya geram adalah komentar yang mempertanyakan mengapa harus ibu-ibu yang berjuang ke Jakarta dan melakukan aksi yang membahayakan kesehatan dan keselamatan nyawa mereka. Juga ada yang mempertanyakan mengapa para suami tidak melarang istri mereka melakukan hal tersebut. Ada lagi yang berkomentar bahwa harusnya ibu-ibu tetap berada di dalam ranah domestik. Wah, sungguh saya sangat geram sekali. Celakanya, yang berkomentar seperti itu adalah perempuan juga! Beku otak saya mendadak ketika membaca komentar mereka.

Kegeraman saya memuncak ketika membaca berita hari Sabtu ini tentang tanggapan aktris yang memerankan tokoh Cinta, Dian Sastro, mengenai aksi kesembilan ibu-ibu dari Kendeng tersebut. Dian Sastro pun memiliki pendapat yang sama dengan netizen yang mulia: kok ibu-ibunya yang berjuang? Lelakinya ke mana sehingga harus para ibu yang maju ke depan? Padahal harusnya ibu-ibu cukup di ranah domestik saja.

Apakah mereka sebelum berkomentar seperti itu sudah mencari tahu mengapa para ibu yang maju di Kendeng sana? Mengapa kesembilan Ibu yang kemarin beraksi itu nekat ke Jakarta dan melakukan aksinya meskipun sudah dicegah oleh banyak orang? Apakah mereka setidaknya sebelum memberikan komentar, membuka laman Google dan mencari tahu tentang Kendeng? Tidak!

(bagi Anda yang penasaran mengapa sih ibu-ibu ini sampai senekat itu, Anda bisa membaca tulisan bernas dari Mbak Kalis Mardiasih yang dimuat di laman Mojok dengan judul : Mengapa Kita Barus Berpihak Pada Aksi Dipasung Semen)

Sakit kepala saya.

Bila Kartini bisa saya hubungi sekarang juga, dan saya menceritakan apa yang terjadi, saya kira Kartini akan menangis. Seandainya saya bisa chatting dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati di grup Whatsapp bernama Pejuang Wanita Aceh, barangkali mereka akan bersumpah serapah. Kalau saya bisa Skype dengan Christina Martha Tiahahu, bisa jadi dia mengusap kening karena sakit kepala tak tertahankan.

Bagaimana mungkin para perempuan tersebut berkomentar seperti itu? Mereka yang menikmati kebebasan berpendapat, mencari nafkah, berseliweran ke sana dan ke mari, yang tidak dipingit di dalam rumah, mengatakan bahwa ibu-ibu sebaiknya tidak mencampuri urusan politik dan kembali ke ranah domestik saja? Dian Sastro yang mantan anggota DPR, yang jelas-jelas pernah berada dalam ranah politik praktis, berani betul mengatakan agar kesembilan Kartini Kendeng tersebut kembali ke ranah domestik?

Ini sungguh seperti materi Stand Up Comedy yang tidak lucu! Berpuluh-puluh tahun perempuan di Indonesia ini memperjuangkan haknya. Untuk mendapat pendidikan, pekerjaan, mewakili kaumnya di parlemen, dan setelah sedikit yang kita bisa dapat, kita diminta untuk kembali ke ranah domestik?

Apakah perempuan tidak boleh memperjuangkan haknya, termasuk hak untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera? Apakah perempuan harus berpangku tangan ketika kehidupan keluarganya terusik? Apakah perempuan tidak boleh berpendapat? Apakah perempuan tidak boleh menjadi pencetus pergerakan? Tidak boleh terlibat dalam pergerakan apapun? Atau perempuan cukup belanja-belanji sambil menggosip? Begitu kah?

Mereka lupa bahwa sejarah negara kita sendiri jelas mencantumkan perempuan-perempuan hebat yang terlibat dalam perjuangan. Dari Sabang sampai Merauke, baik yang sudah tercatat resmi dalam dokumen sejarah maupun yang belum. Kerajaan-kerajaan di Nusantara punya sejarah pemimpin wanita dalam kerajaan, pejuang-pejuang wanita yang turut terlibat melawan penjajah. Menurut netizen yang mulia dan Dian Sastro, apakah para lelaki dan suami di zaman itu (yang jelas-jelas belum mengenal yang namanya kesetaraan hak perempuan) berpangku tangan dan sengaja menyorong-nyorongkan perempuan untuk berperang? Apakah mereka lepas tangan? Atau mereka berjuang bersama?

CgARjnDUUAI5LnV.jpg large

9 Kartini Kendeng

Saya sangat geram dengan pernyataan “ke mana suami mereka kok tidak melarang?” atau “di mana para lelaki sampai ibu-ibu yang harus melakukan aksi seperti itu”, serta “sudah ibu-ibu lepas saja dari area politik, kembali ke urusan domestik saja.” Kalau yang mengatakannya lelaki, saya mungkin tak akan segeram ini. Sudah tidak aneh bila laki-laki yang berucap begitu. Tapi, perempuan? Perempuan yang mengucapkan itu? Terlebih lagi perempuan yang “berkoar-koar” soal kesetaraan dan bahkan telah menikmati kesetaraan yang diperjuangkan oleh parah perempuan pendahulu?

Itulah yang saya sebut sebagai “Betina berotak Jantan” di mana seorang perempuan memiliki cara berpikir yang masih lekat dengan patriarkisme. Perempuan yang masih menganggap bahwa urusan perempuan hanyalah urusan domestik saja. Urus rumah, urus keluarga, urus anak, dan memenuhi kebutuhan seksual lelakinya. Celakanya para betina berotak jantan ini adalah mereka menikmati kebebasan dalam banyak hal. Sekolah tinggi, pekerjaan bagus, bebas berkumpul dan berpendapat di mana saja.

Betina berotak jantan inilah yang akan sangat mempersulit pergerakan perempuan. Karena cara berpikir mereka masih sangat patriarki sekali, meskipun mereka berkata tidak. Mereka memandang perempuan hanya terbatas pada tugas-tugas yang ‘sesuai kodrat’ yaitu urusan domestik. Mereka juga memandang bahwa perempuan itu harus memiliki cara bersikap tertentu, tidak perlu muncul ke permukaan, atau bahkan maju ke depan dalam urusan-urusan yang menurut pandangan mereka adalah urusan laki-laki. Betina berotak Jantan ini seperti musuh dalam selimut. Alih-alih mendukung pergerakan perempuan, mereka lah justru yang akan memperlambat terjadinya perubahan. Bahkan mereka juga yang bisa memberikan senjata bagi para penentang pergerakan perempuan.

Dalam kasus Ibu-ibu Kendeng, mereka lupa bahwa perempuan dan alam itu hubungannya sangatlah dekat. Ketika alam dirusak, maka sumber pencaharian mereka juga akan terganggu, yang nantinya juga mengganggu kesejahteraan keluarga mereka. Dari tulisan Mbak Kalis Mardiasih dan video Ekspedisi Indonesia Biru “Samin Vs Semen” kita bisa mengetahui mengapa akhirnya ibu-ibulah yang bergerak dan maju ke depan. Bukan karena para lelaki tak mampu atau berongkang-ongkang kaki. Bukan.

Saya menyadari, Ibu-ibu dari Kendeng mungkin tidak akan ambil pusing dengan komentar para betina berotak jantan mengenai aksi mereka. Bagi mereka yang penting pembangunan pabrik semen dihentikan agar mereka bisa kembali bertani dengan rasa aman, bisa menghidupi keluarga dengan baik.

Namun, bagi saya pribadi, sudah terlalu sering saya membaca dan mendengar tentang betina berotak jantan ini. Dalam keluarga, mereka lah yang akan tetap menularkan pikiran pada anak-anak mereka bahwa perempuan cukup mengurus urusan domestik saja. Dalam urusan administratif, bila betina berotak jantan menjadi pengambil keputusan, dia akan mengeluarkan aturan-aturan yang justru memberatkan dan membatasi perempuan. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Saya tidak ingin kita mundur berabad-abad ke belakang.

Saya tidak akan memberikan saran apapun bagi para betina berotak jantan. Saya hanya meminta satu hal, tolonglah merenung. Apabila perempuan cukup mengurusi hal-hal berbau domestik saja, apakah mungkin ada sejarah mencatat pemimpin perjuangan dan pemimpin kerajaan yang berjenis kelamin perempuan?

Tolonglah renungi itu saja.

ps : video rangkuman aksi #DipasungSemen bisa dilihat di sini

Advertisements

2 thoughts on “Betina Berotak Jantan

  1. Haha betina berotak jantan…setuju kalau mereka yg berkomentar nyinyir malas atau blm mempelajari kondisi permasalahan…Tp tdk semua pejantan merendahkan betina lho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s