Thoughts

Menulislah

Tulisan ini sudah berminggu-minggu mengendap di komputer saya. Mungkin ini saatnya untuk memunculkannya di permukaan. Selamat membaca.

Sabtu pekan lalu, klub buku yang saya ikuti mengadakan diskusi dengan tema perusakan lingkungan. Tulisan ini tidak akan membahas isi diskusinya, melainkan satu penggalan kecil yang terucap dalam diskusi sore itu. Ada pendapat menulis itu bukanlah sebuah bentuk perjuangan. Pendapat serupa juga pernah saya dengar dari kenalan dan kawan yang lain. Sehingga tidak bisa  diklaim ketika seseorang sudah menulis maka ia telah turut serta dalam perjuangan.

Memang yang disebut dengan perjuangan atau perlawanan yang nyata adalah apa yang terjadi di lapangan. Pun juga tidak semua penulis menulis berdasarkan pengalaman pribadi di lapangan. Beberapa (atau malah banyak) menulis berdasarkan hasil pengamatan menggunakan sedotan dari atap genteng rumahnya. Beberapa lain menulis berdasarkan hasil melamun sambil pup di pagi hari. Maka pendapat yang mengatakan bahwa menulis bukanlah suatu bentuk perjuangan yang nyata, cukup masuk akal. Karena tulisan saja seringkali tak mampu mengubah suatu keadaan.

Akan tetapi, tulisanlah yang mampu menggerakkan sebuah perlawanan atau perjuangan. Melalui tulisan sebuah ide atau gagasan dapat disebarluaskan. Melalui tulisanlah kita bisa ‘meracuni’ isi kepala orang lain. Tulisan sejak dulu kala adalah sebuah media propaganda. Saya baru baca satu buku yang ditulis Sukarno, tapi dari buku itu saja saya sudah bisa paham mengapa Sukarno menulis. Tulisannya dijadikan alat propaganda, dan huff.. Sukarno adalah pencuci otak yang ulung bila kita nilai dari tulisan-tulisan beliau. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang ditakuti penguasa itu? Atau tulisan-tulisan Tan Malaka yang kalau dibaca lagi membuat kita berpikir, apanya sih yang bikin penguasa takut banget? Tulisan adalah alat propaganda baik secara langsung atau tidak langsung, disadari ataupun tidak. Tulisan adalah pencetus pergerakan.

Memang betul, tak jarang sebenarnya menulis itu dilakukan sebagai bentuk masturbasi eksistensi saja. Yang penting setiap minggu sudah mengunggah satu tulisan di situs pribadi, atau ada beberapa tulisan yang dimuat di surat kabar lokal atau bahkan di laman website yang lagi hits. Sialnya, kita merasa bangga karena sudah melakukan hal-hal tersebut. Setelah menulis (termasuk setelah bicara dan berdiskusi), kita merasakan orgasme yang sangat hebat, mengawang-ngawang sampai ke langit ketujuh, merasa pencapaian hidup sudah terpenuhi. Padahal, itu baru satu langkah awal. Masih banyak langkah lain yang harus dilewati.

Tak heran bila para praktisi di lapangan sering mencibir penulis atau mereka yang doyan sekali masturbasi di berbagai ruang diskusi. Karena tak ada aksi setelahnya. Selesai menuangkan ide, selesai pula urusan mereka. Sementara praktisi di lapangan sudah banjir keringat, berdarah-darah mengatur ini dan itu, menggerakkan massa dan mungkin berusaha melakukan perlawanan. Yang menulis ongkang-ongkang kaki saja. Apa nggak dicibir?

Saya ingat kata-kata Cak Nun dalam sebuah tulisannya, “Orang (termasuk saya) sibuk omong untuk omong itu sendiri. Diskusi untuk diskusi itu sendiri. Seminar, pentas puisi, pidato, bertanya kepada pembawa makalah untuk omong itu sendiri. Omongan sebagai manifestasi tunggal dari eksistensi seseorang.”

Kembali ke persoalan tulis menulis. Di bagian awal saya mengatakan bahwa tulisan menjadi pencetus pergerakan, menjadi alat bantu perlawanan. Contoh paling mudah, sekarang sedang marak kasus penyakit yang muncul kembali karena pasien tidak divaksinasi. Maka bagaimana caranya kita memberi pemahaman pada orang-orang yang merasa vaksinasi adalah hal yang tidak bermanfaat bila tak ada bahan bacaan yang mampu mereka cerna? Bagaimana caranya tim penyuluh melakukan penyuluhan dengan baik bila tidak dibekali materi yang mampu mereka sampaikan di lapangan?

Dalam banyak hal tulisan sendiri bersifat dua arah. Yang pertama memberikan ide/gagasan/informasi untuk pelaksanaan kegiatan di lapangan (terserah mau itu penyuluhan, materi ajar, atau untuk membakar semangat warga), dan yang kedua untuk melaporkan keadaan di lapangan. Bagaimana orang-orang lain mengetahui adanya suatu kasus di daerah yang jauh dari ibu kota bila tidak ada tulisan yang mengangkat masalah tersebut? Bagaimaan orang lain akan terbuka matanya bila tak membaca suatu tulisan? Bagaimana orang lain akan tergugah untuk berpikir bila tak membaca suatu tulisan?

Jadi bagaimana? Berhenti atau kita lanjutkan urusan tulis menulis dan omong-omong ini?  Kita tetap perlu menulis. Kalau tidak ada yang menulis, tidak ada yang menyampaikan kabar, siapa yang akan membaca kisah yang perlu disampaikan? Bila tak ada yang menulis, bagaimana suatu gagasan bisa disebarluaskan? Bila tak ada ruang diskusi, bagaimana kita tahu bahwa pemikiran kita belum tentu benar? Bahwa ada cara lain yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah?

Barangkali kita perlu memikirkan kembali, apa tujuan kita menulis. Menuangkan rasa? Curhat? Ajang propaganda? Menyampaikan berita? Menggelitik pikiran?  Apa tujuan kita berdiskusi? Sekedar mengisi waktu sampai secangkir kopi yang kita pesan telah tandas? Melarikan diri dari cerewetnya istri dan anak-anak di rumah? Kongkow-kongkow ria dengan kawan-kawan? Karena sepertinya tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi yang sifatnya masturbatif ada baiknya dikurangi. Atau setidaknya, follow up lah apa yang ditulis atau apa yang telah didiskusikan dalam bentuk kegiatan sehari-hari.

Tulisan memang bukan bentuk perjuangan yang nyata. Tapi tulisan adalah bagian yang akan selalu bergandeng beriringan dengan perjuangan, dengan pergerakan, di manapun, kapanpun pergerakan itu terjadi.

Februari, 2016.

Advertisements

2 thoughts on “Menulislah

  1. Menurut Anda, tulisan yang bagaimana, atau dalam bentuk apa yg kira2 bisa punya daya magis untuk mengajak atau meracuni pikiran orang lain?

    1. Menurut saya pribadi, tulisan yang berimbang antara fakta dan persuasi (dalam bentuk gagasan, bukan hanya menyuruh-nyuruh) yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s