Life

Menjelang 30

Waaa disuruh Ilham untuk update blog nih T_T. Katanya dalam rangka bertambahnya umur. Hahaha. Baiklah, dengan ini saya akan memulai tulisan yang berantakan (karena sudah lama tak menulis).

 *celinguk kiri-kanan, mana tau ada Polisi Syariah. Kalo ada Polisi Syariah, tolong kasih aba-aba ya, biar lapaknya dibubarkan*

Saya bosan menulis “banyak perubahan terjadi dalam setahun belakangan,” karena ternyata kalimat itu menjadi kalimat standar yang saya tulis dari tahun ke tahun. Di satu sisi saya bersyukur ternyata hidup saya bergerak, ada perubahan yang baik, ada juga yang buruk. Yah, berarti fungsi otak saya masih berjalan dengan baik. Bisa berkegiatan, bisa bermalas-malasan, dan sebagainya. Di sisi lain, kok monoton sekali refleksi setahun yang saya lakukan. Hidup berubah itu sudah pasti. Apakah jadi lebih baik atau sebaliknya. Nothing so special about it.

Saya juga agak sedikit lumayan banyak *halah* enggan menceritakan bahwa sekarang saya banyak malasnya ketimbang rajinnya (lah itu cerita! Si kampret). Selain karena blog ini mungkin dikepoin sama adek-adek mahasiswa (haaai, adek-adek gemes), juga nggak ada manfaatnya menceritakan kondisi negatif dalam tulisan (kecuali bila itu menjadi novel atau puisi atau prosa atau lirik lagu sedih yang dinyanyikan oleh Ariel Noah).

timmy birthday

Jadi saya mau cerita apa ya?

Ah, saya mau cerita tentang menjelang 30. Saya bukan tipe orang yang malu menyebut umur. Yap, sekarang usia saya sudah 29 tahun. Kalau boleh meminta, sebenarnya saya ingin segera 30 tahun saja. Entah kenapa saya berpikir, di usia 30 tahun, seseorang akan menjadi lebih stabil secara emosi, lebih bisa menikmati hidup, lebih selow.

Sayangnya, saya tidak bisa meloncati satu tahun, karena para fisikawan belum menemukan mesin waktu! Hih, menyebalkan sekali. Kan asik kalau bisa loncat ke 21 Maret 2017. Baiklah, sepertinya ini pertanda semesta bahwa saya harus menjalani usia nanggung 29 tahun ini.

Berbeda ketika pergantian usia selama beberapa tahun ke belakang, saya akan mengenang kembali apa saja yang sudah saya capai, sementara sekarang, saya justru mengingat apa saja yang belum saya lakukan.

Menjelang 30, alih-alih merasa sudah banyak makan asam garam (yang ada di Indomie Soto), saya justru merasa belum makan apa-apa. Saya banyak nggak tahunya ketimbang pahamnya. Banyak buku yang belum dibaca. Banyak waktu terbuang (salah sendiri :p).

Menjelang 30, saya paham kenapa banyak orang bijak lebih memilih diam ketimbang melibatkan diri untuk berdebat kusir. Di satu sisi saya sebel dengan sikap begitu, di sisi lain saya mengerti betapa lelahnya harus melibatkan diri dalam debat kusir.

Menjelang 30, saya akhirnya mengerti apa makna pepatah “diam itu emas.”

Menjelang 30, saya menjadi lebih introvert. Bertemu dengan orang-orang rasanya menyedot energi yang sangat banyak sekali. Berjuta emosi yang ada di sekeliling saya seolah terserap kemudian terinternalisasi ke dalam diri saya.

Timmy

Menjelang 30, otak saya tambah beruap-uap kalau melihat orang berjualan agama dengan membawa-bawa urusan moralitas, tapi mengenyampingkan urusan kemanusiaan. Saya lelah melihat orang-orang berusaha menjadi Satpam Tuhan (meminjam istilahnya Cak Nun) sementara entah kenapa saya merasa, Tuhan sendiri tidak pernah melakukan rekrutmen terbuka untuk posisi itu.

Menjelang 30, saya belajar untuk tidak peduli pada beberapa hal. Tidak terlalu peduli pada beberapa hal yang lain. Lebih peduli terhadap hal-hal tertentu. Dan teramat sangat peduli pada…. Entahlah untuk yang satu itu, masih kosong.

Menjelang 30, saya masih harus belajar banyak bagaimana menendang bokong saya keluar dari zona nyaman. Selama ini saya baru mengeluarkan sebelah tungkai kaki saja, dan masih enggan untuk melesat jauh.

Dan menjelang 30, saya harus menyabarkan diri, menutup telinga, mengalihkan proses pengolahan informasi di otak, kalau ada yang berkomentar tanpa menggunakan nalar atau ada yang mengajukan pertanyaan usil pada saya. Kadang batas antara sabar dan membacok orang itu memang hanya sebatas satu kalimat pertanyaan atau pernyataan.

Menjelang 30, saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam bicara. Masih jauh dari kata paripurna, masih jauh dari apa yang panutan-panutan saya perbuat, tapi untuk yang satu ini, saya akan berusaha keras.

Nah, tulisan menjelang 30 saya sudah selesai, kayaknya. Terima kasih untuk ucapan dan do’a dari teman-teman semuanya. Terucap juga do’a untuk kawan-kawan semua dari hati yang paling dalam, agar selalu menemukan jalan pulang dan menikmati perjalanan pulang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s