Short stories

Di Balik Jendela Berdebu (cerpen lama)

Cerpen ini cerpen lama, dibuat tahun 2007, waktu saya masih sedang imut-imutnya (eh sekarang tetap imut juga sih). Entah kenapa hari ini teringat lagi cerpen ini, dan setelah setengah mati mencari-cari (karena nggak punya salinan file), akhirnya ketemu. 

Di balik Jendela Berdebu

Di antara keramaian aku melihatnya. Dikelilingi teman-temannya, tertawa bersama, lepas. Dia biasa-biasa saja, sama seperti gadis lainnya. Bahkan jauh lebih biasa. Tapi aku bisa merasakan energi luar biasa yang dia pancarkan. Dia seperti magnet yang menarikku mendekat, sejak pertama kali aku melihatnya.
Siapa dia?
Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Menatapnya dari jendela…menyeberangi aliran udara…melihatnya dari kejauhan.
Siapakah kamu sang gadis biasa?

Padahal aku hanya sekali melihat wajahnya. Hanya sekali…menatap matanya yang sedang menatapku balik. Mata yang tajam. Tegas. Mengamati. Penasarankah? Akukah yang sedang diamati? Siapa kamu pria di balik jendela berdebu? Apakah kamu yang selalu membuatku merasa sedang ditatap? Apakah itu kamu dari seberang sana?
Siapa kamu pria bermata tajam?


Hari ini wajahnya terlihat lesu. Duduk memandang orang yang lalu lalang di bawah dengan pandangan lesu. Kenapa kamu lesu? Apa yang membuat tawa lenyap dari wajahmu? Aku dapat merasakan energimu meredup. Apa yang membuatmu lesu?

Aku melihatnya lagi! Dia memandangku lagi dari balik jendela…tapi pandangannya tak setajam waktu itu. Sepertinya dia memandangiku dengan pandangan kasihan. Apa dia bisa merasakan kekesalanku? Aku kesal…tapi bingung…aku tak tahu harus berbuat apa. Hah…dia pergi dari jendela itu. Padahal…hah, aku konyol juga! Mana mungkin aku bisa bertelepati dengannya?? Padahal sepertinya dia tahu kalau aku sedang kesal…caranya memandangku sudah menjelaskan segalanya. Andai aku bisa bicara dengannya langsung.

Namanya…Nina. Aku berpapasan dengannya tadi, dan mendengar temannya memanggilnya dengan nama itu. Nina…nama yang bagus…aku ingin berkenalan dengannya…

Namanya Ardi. Ternyata temanku tahu siapa dia. Seniornya waktu SMA. Dunia memang sempit. Aneh…padahal dia sering menatapku, kenapa waktu kami berpapasan dia bahkan tidak menyapaku?? Apa yang dia lihat sebenarnya bukan aku?

Akhir-akhir ini dia sering memandangku. Lebih tepatnya mencari-cari. Tatapannya mencariku. Menembus ke balik jendela. Langsung menuju diriku. Sadarkah dia aku selalu menatapnya selama ini? Jika iya, apakah dia marah??
Sudah cukup Ardi…datangi Nina sekarang juga!

“Nama gue Ardi.”
“Nina.”
“Gue sering ngeliat lu dari gedung gue…”
“Gue tahu. Gue sering liat lu mandangin gue. Eits…gue nggak ge-er ya!!”
“Perasaan lu tajam juga kalo gitu.”
“Jadi?”
“Gimana kalau gue traktir lu minum?”
“Traktir? Buat apa?”
“Ng…karena membuat lu ngerasa nggak nyaman karena tatapan gue.”
“Ya ampun gitu aja…”
“I insist…”
“Terserah deh. Lu yang maksa ya…”
“Thanks…”

Namanya Nina…teman adik kelasku se-SMA…dan kurasa…dia bukan hanya gadis biasa lagi bagiku. Mulai saat ini aku tidak hanya akan menatapnya melalui jendela berdebu ini…aku akan menatapnya lebih dekat lagi…

Namanya Ardi…sedang Tugas Akhir…makanya dia selalu berada di tempat yang sama. Makanya dia bisa melihatku. Mulai sekarang…aku rasa dia tidak hanya akan menatapku melalui jendela berdebu itu lagi…ah itu dia melambai padaku!

Bandung, 24 Maret 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s