Life · Thoughts

Pikiran Melangit, Hati Membumi

Izinkanlah saya yang pandir dan sok tahu ini mengutarakan sedikit saja apa yang menjadi isi di dalam kepala saya yang tak terlalu penuh ini. Saya sedih melihat sikap segelintir akademisi yang menurut saya pribadi tidaklah sepantasnya bersikap seperti itu. Sikap yang bagaimana yang saya maksudkan? Ialah sikap yang merasa paling tahu segalanya, paling benar segalanya, berada di posisi paling tinggi dari yang lainnya. Mungkin iya, secara keilmuan seorang akademisi berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan-rekan kerjanya,. apalagi bila dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswanya. Tapi apakah perlu seorang akademisi bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dia anggap tidak mumpuni? Apa perlu menjudes-judesi mahasiswa bahkan mencecar tanpa memberikan arahan berpikir?

Tidak, saya tidak sedang membela mahasiswa. Tidak sedang berusaha mencuri hati para mahasiswa juga. Saya pernah menjadi mahasiswa, saya pernah (dan sampai sekarang pun masih) menjadi orang yang ilmunya rendah, dan saya tahu bagaimana tidak enaknya direndahkan atau diremehkan oleh orang lain. Bukan karena saya ingin ditinggikan atau dianggap memiliki kemampuan padahal kenyataannya tidak. Bukan. Tapi ada adab dan sikap dalam berinteraksi (yang mana saya sendiri masih sering keliru, masih sering blunder). Kalau mahasiswa Anda keliru dan dia tidak sadar bahwa dia keliru, bukankah lebih baik mahasiswa tersebut dipancing agar dia sadar bahwa dia keliru? Ketimbang menunjukkan kekeliruannya dengan gaya bahasa yang sinis dan raut wajah yang meremehkan? Kalau mahasiswa Anda tidak disiplin, berikan sanksi sesuai dengan tindakannya, sesuai dengan kesepakatan. Tidak perlu mengomel panjang lebar sana-sini tentang anak bangsa dan lain sebagainya, tapi si anak tidak sadar bahwa dia melakukan kesalahan.

Pada akhirnya yang diingat adalah rasa. Pada akhirnya emosi yang menguasai pikiran. Senior saya pernah berkata, manusia itu 80% insting dan 20% rasionalitas. Setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga. Bila yang dia ingat adalah rasanya dipermalukan, diremehkan, tidak dipercaya, maka ilmu/pengetahuan apapun yang Anda tanamkan, mental semuanya. Ini bukan tentang agar dianggap kece, agar dijadikan idola. Bukan. Ini adalah hal yang sederhana. Bahwa untuk membuat orang bisa berpikir jernih, maka emosinya harus dibuat tenang terlebih dahulu. Bahwa dia aman.

Boleh ilmu yang dimiliki oleh akademisi setinggi langit, tapi tetap pijakkanlah kaki di bumi. Tidak bisa ilmu selangit itu ditransfer mentah-mentah pada mahasiswa atau anak didik. Ada prosesnya. Dan bila proses itu melibatkan cara yang tidak baik bagi emosi si anak didik, transfer ilmu itu akan sulit dilakukan. Tujuan kita bukan agar anak itu tahu dalam sekejap mata. Tujuan kita adalah agar anak tersebut selalu mau mencari tahu, selalu mau belajar, bahkan bila dia sudah lepas dari institusi pendidikan formal.

Saya selalu mengingat doa surayah Pidi Baiq (yang menjadi salah satu alasan saya membuat tulisan ini, dan selalu saya ingat), “Ya Allah, mudah-mudahan sederhana, tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, dan dengan hati yang terus membumi.” Karena bila hati kita tak melekat di bumi, terbang melayang jauh ke langit, kita akan lupa bahwa di suatu masa kita pernah ada di bumi, dan butuh proses untuk melangit. Dan proses itu tidak (selalu) mudah.

Advertisements

2 thoughts on “Pikiran Melangit, Hati Membumi

  1. Seharusnya ilmu padi itu diterapkan…jd yg semakin pinter tdk semakin sombong krn diatas langit akan ada langit..dan kita gak rejeki dan nasib mhsw kita kedepannya akan spt apa nantinya (jadi pejabat..pengusaha atau jadi org penting lainnya). Kita mjd dosen dan dianggap lbh pinter atau pintar sungguhan tdk lbh krn kita lahir duluan dan py kesempatan belajar lbh dulu..sederhana. Komentar sbg pribadi, bkn sbg dosen atau mhsw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s