Thoughts

Perempuan dan Bekerja

Beberapa hari yang lalu, kami kedatangan tamu penting di kampus. Beliau datang untuk memberikan materi mengenai perubahan kurikulum yang sedang digodok di kampus kami. Tapi saya tidak akan membicarakan tentang perubahan kurikulum. Saya akan bicara mengenai hal lain.

Tamu yang datang ini adalah seorang perempuan, seorang istri, dan juga seorang ibu. Dia memegang jabatan penting di Jakarta sana. Di sela-sela pembicaraannya, beliau bertanya, “Di kampus ini, berapa banyak yang pulang kerjanya malam?” Ketika tidak ada satupun yang menjawab, beliau cukup kaget. “Wah, saya kalau pulang kantor, paling cepat jam 9 malam loh, Bapak, Ibu.” Ya, di Jakarta, pulang kantor larut malam itu tidak aneh. Jakarta loh ya.

Setelah acara selesai, rekan-rekan dosen di jurusan yang sama-sama perempuan ngobrol. Intinya mereka bertanya-tanya, bagaimana sih ibu itu bisa punya keluarga yang relatif bahagia dengan pekerjaan yang menuntut serta menyita banyak waktunya. Saya memberikan gambaran (yang saya dapat dari atasan saya dulu di suatu kantor pemerintahan -dan beliau adalah perempuan berkeluarga yang pekerjaannya juga menyita waktunya), “Perempuan baru bisa menyeimbangkan karir dan keluarganya kalau dia punya bantuan dan dukungan besar dari keluarganya sendiri. Misalnya dalam bentuk suami yang tidak ngomel-ngomel kalau dia pulang malam atau tidak memasak. Bentuk lainnya adalah memiliki pembantu yang menangani SELURUH pekerjaan rumah. Jadi, waktu perempuan itu pulang ke rumah, dia betul-betul hanya memikirkan interaksi dengan suami dan anak-anak, bukan ngurusin cucian, masak, atau bersih-bersih rumah.”

Ya, saya bilang begitu. Karena bagaimana lagi? Bagaimana seorang perempuan akan fokus terhadap pekerjaannya kalau suaminya kerap menghubungi untuk memintanya segera berada di rumah? Bagaimana perempuan bisa bekerja dengan tenang kalau sibuk memikirkan, “aduh belum masak! Belum nyuci! Belum nyetrika!” Bagaimana seorang perempuan bisa memberikan yang terbaik di tempat kerja kalau dia sibuk khawatir dengan anaknya di rumah?

Pun bagaimana seorang perempuan bisa fokus di keluarganya, kalau di akhir pekan masih harus memikirkan mencuci-setrika-bersihin rumah tanpa ada yang membantu. Tugas itu saja sudah menyita banyak sekali waktu yang seharusnya digunakan untuk bercengkerama dengan keluarga. Atau yang seharusnya akhir pekan adalah waktu dengan keluarga, malah sibuk dengan kerjaan kantor yang menuntut segera diselesaikan.

Maka demi keberhasilan karir seorang perempuan harus ada bantuan dan dukungan dari keluarga itu sendiri. Suami yang tidak rewel. Uang yang cukup untuk menggaji pembantu. Pembantu yang cekatan dan dapat dipercaya. Anak-anak yang baik. Kenyataannya tidak semua perempuan beruntung memiliki bantuan dan dukungan seperti ini. Banyak sekali yang harus menahan diri atau mengurut dada karena ditekan di kantor, ditekan pula di rumah. Banyak yang merasa bagaikan mendapat buah simalakama.

Dalam banyak hal, perempuan masih terjepit. Makanya, waktu tamu kami itu “pamer” bahwa beliau selalu pulang malam hari dari kantor, saya memberikan tatapan tidak setuju. Tidak semua keluarga memberikan dukungan sebegitu besar pada perempuan yang bekerja. Dan tidak mudah meninggalkan anak-anak hingga larut malam tanpa keberadaan ibunya (apalagi yang masih kecil). Maka jangan memandang aneh perempuan yang lari-lari dari rumah ke kantor, kantor ke rumah. Yang bolak-balik memandang jam di pergelangan tangannya karena sudah risau ingin pulang ke rumah, yang di akhir pekan tidak bisa dihubungi karena sedang sibuk di rumah. Kita harus mencari cara agar semua bisa mudah melaksanakan tugasnya. Apalagi di era internet sekarang ini, barangkali ada pekerjaan-pekerjaan yang tak perlu dilakukan mutlak di kantor.

Dan, perempuan, berhentilah menyudutkan sesamamu. Berhentilah membuat blok-blok yang tujuannya untuk menuding blok lain supaya dirimu terlihat lebih baik. Itu tidak membuatmu lebih baik. Itu hanya membuat kita semua, kaum perempuan, terlihat tidak bersatu

Advertisements

8 thoughts on “Perempuan dan Bekerja

  1. mungkin mba pernah mendengar tentang keluarga gen halilintar? mereka tdk punya pembantu dan pengasuh, namun masing2 anggota keluarga memiliki tugas masing2 di rumah…
    di luar negeri juga tidak ada yang namanya pembantu rumah tangga.
    tetapi mereka tetap bisa hidup selayaknya keluarga….di jepang, seorang murid harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sensei nya bila ingin berguru dengan menginap di dojo. bahkan terkadang pria-pria lebih disiplin dalam membersihkan segala sesuatu.
    bukan soal siapa mengerjakan apa dan fokus pada apa, saya kira kembali kepada cara pandang kita terhadap hidup…banyak orang-orang sukses yang masih menyemir sepatunya sendiri, mencuci pakaiannya sendiri. bagaimana seseorang bisa menghargai kehidupan besar bila dia tidak menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan..just my 2 cents.
    tetapi kita kebanyakan menyerahkan semua yang harusnya kita punya ke orang lain…dan pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa yang sebetulnya terpenting dalam hidup.

    1. Ya mbak, betul sekali pendapat mbak. Dulu juga saya berpikir seperti itu, tapi setelah saya lihat-lihat kenyataan, kebanyakan seperti yg saya tuliskan. Untuk membangun keluarga yang mandiri seperti itu butuh partner hidup yang mau bekerja sama, dan keluaga yang mendukung. Tapi kenyataannya, banyak laki-laki yang tidak mau ikut andil dalam urusan rumah tangga. Atau dia ikut andil tapi ngomel-ngomelnya juga banyak, sehingga timbul rasa bersalah pada si perempuan. Terutama di daerah2 yang pandangan terhadap laki-laki dan perempuannya masih sangat seksis. Keluarga jg mendukung,siapa yang jaga anak kalau ibu bapak bekerja? Bila tak ada keluarga dekat, bagaimana dengan penitipan anak, apakah mampu membayar iuran dengan harga yg cukup menguras kantong?

      Saya sepakat dengan Mbak bahwa kita janganlah menjadi manja. Memang sejak semula pola didik kita kurang baik, kita tidak bisa membagi waktu dengan baik, sehingga terasa melelahkan. Akan tetapi, dukungan dan bantuan baik itu dari keluarga atau dari orang yg akan meringankan tugas kita, tak bisa kita sangkal, juga kita butuhkan. Tidak perlu pembantu, jasa cuci baju kiloan saja sudah amat membantu sebuah keluarga. Tapi Mbak tau kan orang kita, terutama para tetua yang nyinyir setengah mati pada perempuan yang tidak mencuci-setrika baju sendiri? Support dari pasangan yang tidak ikut2an rewel amat membantu di sini.

      begitu kira-kira.

      1. Bila mmg dianggap pola didik kita dahulu krg baik, bukankah saatnya kita yg mengubah hal itu, bukan begitu? Pertanyaannya…bgmn cara mengubah hal tsb bila kita bhkan tdk pernah ada di sisi anak? Ini pertanyaan lho, bkn satire. Slhkan msg2 mencari jwbnnya sendiri2 semua org pasti punya solusi…

  2. Makanya, kerja di rumah aja, punya skill yang bisa digunain buat kerja freelance. Punya suami yang nggak bawel juga dan mau bagi-bagi tugas. Pembantu? Nggak butuh! *kemudian dihajar massa*

    Aku cukup tertarik sama paragraf terakhir. Pernah ada satu waktu temen fb yg bilang, “women are self-predating species”. Karena kenyataannya memang begitu.

    Soal pakai pembantu, memang dilematis. Karena anak manusia belajarnya dengan mekanisme mimicking. Kalau pendapat pribadiku, aku nggak mau anak meniru pembantu. Kasar sih, tapi itulah yang mendasari mengapa akhirnya kerja di rumah lebih baik, karena kebetulan skillset aku gak butuh kantor juga. Tapi bukan berarti yang pakai pembantu juga salah. Intinya sih, kalau sudah jadi orangtua, anak itu harus jadi prioritas, karena itu tanggung jawab ketika nanti dia sudah nggak sama kita lagi, bagaimana dia akan menjadi manusia nantinya (apakah bisa memberikan kontribusi yang baik buat lingkungannya, setidaknya). Makanya penting untuk “hadir” dan tetap menjalankan peran sebagai orangtua, baik itu perempuan maupun laki-laki. Semua punya kewajiban, karena bikin anak kan berdua. 🙂

    Cuma sayang, nggak semua perempuan, bahkan nggak semua orang sama. Masalah paling krusial di sini sebenarnya kesadaran bahwa tugas domestik itu semata-mata bukan hanya tugas perempuan. Di negara lain yang maju, harga pembantu itu mahal, makanya mereka akhirnya berusaha bagi waktu sendiri. Mungkin itu juga yang kenapa UU ART harus segera disahkan (haha ini kejauhan). Kebanyakan orang kita itu gaya hidupnya cenderung berlebihan, numpuk barang, dan sebagainya makanya jadi kerasa butuh pembantu. Dan misalnya berakhir ngerjain tugas domestik bareng-bareng, nggak perlu saling cerewet. Itu yang perlu diajarkan ke generasi mendatang, laki-laki maupun perempuan.

    Dan harusnya memang nggak perlu nyinyir satu sama lain. Itu yang penting sih. Mind your own business lah. Indonesia belum bisa gitu.

    1. Yes, itulah maksudku. Bukan berarti tugas orangtua diserahkan ke pembantu, tapi apa-apa yang bisa didelegasikan (nyuci, nyetrika, masak) ke pembantu bisa diserahkan ke pembantu. Sehingga waktu untuk bersama keluarga (terutama anak( akan lebih banyak.

      Cara lain adalah melibatkan selurh anggota keluarga dalam pekerjaan rumah tangga. Cuma ini butuh kesadaran diri dari orang tua agar tidak terlalu OCD/micromanage pada anak. Kebanyakan, anak akhirnya tidak terlibat pekerjaan rumah tangga karena ibunya/ayahnya punya standar yang terlalu tinggi, dan akhirnya anak nggak dibolehkan kerja apa-apa. Atau ada juga yang merasa kasihan anaknya harus bekerja, jadi anaknya dibiarkan tidak terlibat.


      Kalau bisa saling membantu ya harusnya begitu, ketimbang saling nyinyir dan menuding.

  3. Permisi
    Saya Haris, salam kenal sebelumnya 🙂

    Saya tertarik dengan paragraf “Dan, perempuan, berhentilah menyudutkan sesamamu. Berhentilah membuat blok-blok yang tujuannya untuk menuding blok lain supaya dirimu terlihat lebih baik. Itu tidak membuatmu lebih baik. Itu hanya membuat kita semua, kaum perempuan, terlihat tidak bersatu”.

    Saya jadi ingin bertanya, Bagaimana tanggapan anda mengenai kaum lelaki? Apakah mereka sudah cukup bersatu menurut anda?

    Apa yang terjadi di kaum laki-laki saya pikir jauh lebih “individualis” dibandingkan dengan kaum perempuan, karena saya sering mendengar “kita kan sesama wanita”. Tapi hampir tidak pernah mendengar hal yang sama dari kaum pria. Bagi kami, siapa menang, ya dia pantas mendapatkan.

    1. Saya sendiri kurang tahu tentang dunia laki-laki, jadi tidak bisa berkomentar banyak. Saya menyoroti apa yang terjadi pada kaum perempuan saja. Khawatir keliru bila harus bicara pada hal yang saya kurang pahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s