Thoughts

Resistensi Antibiotika (3) : Apa yang dapat kita lakukan?

(sambungan dari bagian 2)

Apa yang kita bisa lakukan agar resistensi antibiotika (yang sudah terjadi ini) tidak meluas? Saya akan mengambil rekomendasi dari WHO bagi masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk membantu mengurangi penyebaran resistensi.

Peran masyarakat :

(1) Selalu mencuci tangan dan menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit untuk mencegah penyebaran infeksi bakteri & virus

 (2)  Aktif dalam program imunisasi  dan selalu memperbarui status imunisasinya. (artinya imunisasi bukan hanya dilakukan pada balita, tapi juga pada orang dewasa).

(3) Menggunakan obat antibiotika hanya bila diresepkan oleh dokter; (tidak ada cerita kalau sakit gigi atau demam sedikit pergi ke apotek dan beli antibiotika)

(4) Menuntaskan regimen pengobatan meskipun sudah terasa sehat; (Anda diberikan antibiotika untuk 10 hari, tapi dalam 5 hari badan sudah terasa sehat, maka tetap saja Anda harus minum obat antibiotikanya sampai 10 hari.)

 (5) Tidak berbagi obat antibiotika dengan kerabat/teman atau mengggunakan obat sisa.

Peran tenaga kesehatan & apoteker :

(1) Meningkatkan program/tindakan pencegahan infeksi dan pengawasan pada klinik & rumah sakit;

(2) Hanya meresepkan (bagi dokter) & menyediakan (bagi apoteker) antibiotika apabila betul-betul diperlukan (setelah diagnosa tegak);

(3) Meresepkan dan menyediakan antibiotika yang sesuai dengan jenis bakteri penyebab infeksi.

 Peran Pemerintah :

  • Meningkatkan pengawasan terhadap penyebab dan tingkat terjadinya resistensi
  • Memperkuat pencegahan dan pengendalian kejadian infeksi
  • Meregulasi dan mengajak semua elemen yang terkait dalam penggunaan obatyang rasional
  • Memberikan informasi seluas mungkin tentang bahaya resistensi antibiotika termasuk mengajak masyarakat dan tenaga kesehatan untuk ikut andil dalam mencegah terjadinya resistensi antibiotika
  • Mendorong adanya penelitian dan pengembangan untuk terapi-terapi baru termasuk pengembangan antibiotika baru.

Sekali lagi, intinya adalah kerjasama antara kita semua. Jangan sampai di masa depan (mungkin dalam beberapa tahun lagi) kita kelimpungan karena banyak kasus infeksi yang tidak dapat diobati hanya karena sudah tidak ada antibiotika yang sensitif untuk membunuh bakteri penyebab infeksinya. Saya sekarang berada di institusi pendidikan farmasi, dan tugas saya (ya, saya sedang memberi diri sendiri sebuah tugas) adalah untuk mencari alternatif-alternatif terapi antimikroba. Biasanya para peneliti tingkat universitas akan mencari alternatif antimikroba dari bahan alam. Mudah-mudahan ketemu yang aktivitasnya baik dan bisa diambil senyawa kimianya, dilakukan uji lanjutan, dan dapat masuk ke tingkat produksi massal. Pencegahan resistensi tanpa pengembangan antimikroba baru tidak akan efektif. Begitu juga sebaliknya, mengembangkan antimikroba baru tanpa melakukan pencegahan resistensi pun pada akhirnya tidak masuk akal.

Tulisan ini adalah opini pribadi, saya menerima diskusi, kritik, dan saran dari para pembaca semuanya.

Salam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s