Thoughts

Resistensi Antibiotika (2) : Mengapa bisa terjadi?

(sambungan dari post sebelumnya)

Lalu kira-kira kenapa bisa terjadi resistensi antibiotika? Perlu kita pahami bahwa resistensi bakteri terhadap suatu antibiotika itu bisa terjadi secara alami. Namanya juga makhluk hidup, kalau dia diserang, dia akan membangun suatu pertahanan diri agar bisa bertahan hidup. Pada mikroorganisme (bakteri/virus/parasit), cara mereka mempertahankan kehidupannya adalah dengan memodifikasi dirinya sendiri agar tidak bisa diserang. Itu sudah ketentuan alam yang tak mungkin diubah. Secara alami, mikroorganisme yang saya sebut tadi akan berusaha mempertahankan dirinya agar tidak diserang oleh sistem pertahanan tubuh, namun proses ini akan berlangsung agak lambat. Penggunaan antibiotika yang mulai diperkenalkan sejak abad ke-20 (yang kemudian menjadi terapi utama untuk penyakit infeksi) ternyata mempercepat proses modifikasi diri pada mikroorganisme-mikroorganisme tadi. Tapi percepatan ini tidak seberapa juga, asalkan terapi dilakukan dengan tepat. Yang menyebabkan bakteri lebih mudah mengalami resistensi saat ini ternyata adalah kebiasaan manusia itu sendiri. Saya akan memberikan beberapa contoh perilaku manusia yang berujung pada masalah resistensi antibiotika ini.

1. (sebelumnya saya mohon maaf bila menyinggung rekan sejawat dokter) Masih banyak dokter yang memberikan antibiotika untuk penyakit-penyakit yang bukan karena infeksi bakteri. Ini bukan hanya terjadi di negara kita saja (terakhir saya membaca berita, hanya 27% dokter di Indonesia yang memberikan terapi antibiotika dengan rasional), karena setelah berbincang dengan kawan saya yang sedang studi di Belanda, di negara Eropa bagian selatan pun ternyata kejadiannya mirip dengan kita. Sama juga seperti di Amerika Serikat, bahkan badan kesehatan di sana (CDC) terus melakukan kampanye agar dokter lebih berhati-hati memberikan terapi antibiotika kepada pasien.

2. Bila terapi antibiotika diberikan karena memang terdapat infeksi bakteri, lama pengobatannya kadang tidak sesuai dengan standar terapi (misalnya harusnya 10 hari, diberikan hanya 5-7 hari).

3. Tidak ada sistem yang mendukung dokter demi tegaknya diagnosa suatu penyakit infeksi, dalam hal ini tes kultur di laboratorium. Permasalahan ini bukan tentang lab yang tidak bisa melakukan uji kultur sampel, TAPI lebih ke arah coverage dari asuransi. Tes kultur bakteri itu tidak murah, dan kalau pasien harus mengeluarkan biaya sendiri, mungkin akan keberatan. Belum lagi cara pikir masyarakat kita yang semuanya ingin instan (akan saya bahas di poin selanjutnya). Kalau sistem asuransi membayar tes tersebut, dan memang diwajibkan setiap pasien harus melakukan tes kultur apabila diduga infeksi bakteri, maka saya yakin peresepan antibiotika yang tidak sesuai penyakit dapat ditekan.

4. Berkaitan dengan nomor 3, regulasi standar diagnosa kita juga begitu rendah. Andaikata setiap pasien yang datang dan diduga mengalami infeksi HARUS melakukan tes kultur bakteri terlebih dahulu (diwajibkan dalam tatalaksana dan dalam sistem asuransi), seperti di akhir poin 3, penggunaan obat antibiotika juga akan lebih sedikit, dan betul-betul tepat sasaran.

5. Masih terlalu sedikit peran apoteker dalam menentukan terapi yang paling baik untuk pasien. Di negara-negara yang sistem kesehatannya sudah lebih baik, hubungan antara dokter-apoteker-perawat-ahli gizi sangatlah baik. Dokter melakukan diagnose, pemilihan obat dilakukan bersama dengan apoteker, perawat yang memberikan obat (bila pasien dirawat di rumah sakit), dan ahli gizi akan menentukan terapi gizi apa yang paling sesuai untuk pasien tersebut. Diskusi antara dokter-apoteker dimaksudkan untuk memilih terapi terbaik bagi pasien tersebut. Di negara kita, baru sedikit sekali rumah sakit yang menjalankan hal ini. Rumah sakit aja baru sedikit , apalagi tingkat komunitas semacam apotek/klinik. Boro-boro.

Apoteker sudah terlalu lama berdiam diri dan akhirnya menjadi serba tidak percaya diri dengan keilmuannya sendiri. Apotekernya sendiri juga belum banyak yang berinisiatif untuk memperkaya pengetahuannya sehingga sering ketinggalan berita terbaru tentang terapi suatu penyakit. Karena sudah terlalu lama juga tersingkirkan dari pelayanan kesehatan, akhirnya untuk kembali unjuk gigi, agak sulit. Ketimbang langsung diskusi, banyak yangharus pendekatan personal dulu untuk mengambil hati. Jadi kurang professional, tapi kalau tidak begitu, nggak akan jalan itu diskusi dan kerja sama. Saya salut untuk apoteker-apoteker yang bisa melakukan seperti itu, karena mereka lah yang menjadi pembuka jalan.
6. Bagaimana dengan apoteker di komunitas? Ini lebih gawat lagi. Ada pembeli yang datang membeli antibiotika tanpa resep, masih dilayani. Bahkan tidak pakai ditanya dulu kenapa orang tersebut terpikir membeli antibiotika. Main kasih aja obatnya. Kenapa ini bisa terjadi? Ada dua masalah yang saya lihat

a. Apoteker jarang ada di apotek. Ngaku aja lah, banyak rekan sejawat kita apoteker yang hanya datang 1 minggu sekali bahkan 1 bulan sekali ke apotek. Boro-boro melakukan pelayanan, yang terjadi apoteker hanya datang tanda tangan laporan saja. Kenapa? Karena gajinya kecil. Karena sudah dipesan oleh pemilik modal apotek untuk tidak perlu datang sering-sering. Apalagi yang dipekerjakan apoteker muda baru lulus yang berpikir, “daripada nggak ada uang sama sekali?” Yah, itulah kenyataan di lapangan. Tak perlu ditutupi. Biar semua orang tahu.

b. Pemilik sarana apotek / pemilik modal adalah orang-orang yang bukan apoteker. Pemilik sarana apotek yang bukan apoteker mengakibatkan arah bisnisnya ya hanya… bisnis saja. Yang penting BEP cepat dicapai, yang penting untung, omset naik. Pelayanan? Sebodo amat. Demi omset naik, jual aja apa yang bisa dijual. Kalau apotekernya tidak mau menjual antibiotika tanpa adanya resep, apoteker yang dimarahin karena membuat bisnis rugi. Ini kan jadi buah simalakama bagi apoteker yang ingin betul-betul melakukan pelayanan kefarmasian tapi juga butuh uang (karena nyari kerja itu susah, Jendral!). Di negara Jerman/Belanda (saya lupa yang mana), apotek harus dimiliki oleh apoteker. Bahkan Bank tidak akan memberikan pinjaman untuk mendirikan apotek bila pemiliknya bukan apoteker. Lalu ada regulasi juga di negara tersebut, jumlah apotek dibatasi per kawasan. Supaya tidak ada persaingan harga yang tidak wajar. Semacam keberadaan notaris di kita kali ya. Kan ada jatahnya. Kalau negara tidak membuat regulasi seperti itu, ya sampai kiamat juga susah mau melakukan pelayanan kefarmasian dengan baik di tingkat apotek. Yang ada hanya mimpi saja, mimpinya si Udin.

7. Industri farmasi yang masih bermain kotor dengan memberikan insentif-insentif pada dokter apabila produknya diresepkan dengan jumlah yang banyak.Ayolah, kita tak perlu menutup mata, masih buanyak industry farmasi yang seperti itu. Mungkin industri farmasi multinasional sudah tidak seperti itu lagi, tapi yang dalam negeri? Tau sama tau lah ya… . Praktek-praktek semacam itu, kalau tidak ada sangsi dari pemerintah, ya akan terus dilakukan, dan kembali lagi, mimpi aja terus tentang pengobatan yang rasional. Karena akan lama sekali kita bisa mengubah apa yang sudah terjadi kalau kondisinya masih seperti itu. Perusahaan farmasi asing rasanya sudah cukup kapok ya untuk memberikan insentif-insentif pada dokter, karena mereka bolak-balik kalah tuntutan dari badan kesehatan di negara maju (seperti di US), dengan nominal denda yang amat besar. Industri lokal? Hmm..

8. Pola pikir masyarakat kita dalam hal berobat yang masih perlu diubah. Pola pikir yang mana?

a. Kalau ke dokter harus dapat obat (padahal belum tentu perlu diresepkan obat kan?). Banyak cerita dari negeri Belanda (terutama dari dosen dan kawan di sana), kalau pergi ke dokter, belum tentu dikasih obat. Kadang malah disuruh pulang dan istirahat. Baru demam/pilek sedikit ya disuruh istirahat aja. Bahkan anak-anak. Apalagi demamnya nggak tinggi. Kalau di sini?Nggak dikasih obat sama dokter, langsung dokternya dikatain “dokter nggak pintar”.

b. Kalau dapat obat dari dokter, harus sembuh! Kalau nggak sembuh, dokternya nggak bagus. Nah kalau gini kan gimana… (sampai saya tak mampu berkata-kata. Agak kasian juga dengan rekan sejawat dokter. Ngasih obat keliru, nggak ngasih obat dikata-katain, hadeh).

c. Misal sudah berobat nih, lihat deh, pasien atau keluarga pasien selalu minta salinan resep. Salinan resep ini akan dia gunakan kembali di kemudian hari kalau kira-kira penyakitnya mirip (bahkan bisa diteruskan ke keluarga/kerabatnya!). Padahal kan belum tentu sakitnya sama, penyebabnya sama. Celakanya, rekan sejawat apoteker di apotek pun main ngasih-ngasih aja obat yang diminta melalui salinan resep tersebut (termasuk bila ada obat antibiotika). Saya rasa harus ada regulasi lagi mengenai penggunaan salinan resep ini. Salinan resep harusnya hanya mencantumkan obat yang belum diambil saja, bukan seluruh jenis obat. Akibatnya disalahgunakan seperti contoh tadi kan. Siapa yang repot? Kita semua pada akhirnya.
Poin 1-8 fokus terhadap apa yang terjadi di dunia kesehatan. Poin berikutnya ini adalah tentang penggunaan antibiotika di luar dunia kesehatan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya resistensi antibiotika.

9. Kalau Anda punya saudara atau teman atau kenalan yang mempunyai peternakan, coba tanyakan, apa yang mereka gunakan untuk menambah nafsu makan hewan-hewan ternak mereka. Ya! Antibiotika. Sudah mah antibiotika-nya digunakan tidak untuk mengobati infeksi (dan ini akan menyebabkan bakteri normal yang ada dalam tubuh memodifikasi dirinya agar resistensi terhadap antibiotic, kemudian “menularkan”nya ke bakteri lainnya yang sejenis), penggunaannya pun asal-asalan. Yang penting nafsu makan hewan ternak meningkat dan hewannya gemuk. Ada juga alasan penggunaannya adalah agar hewan ternak tidak sakit, maka diberi pencegahan dengan menggunakan antibiotika. Ini juga luar biasa salah. Poin ini akan saya bahas di tulisan terpisah, kenapa menggunakan antibiotika di hewan ternak yang tidak sesuai peruntukannya mengakibatkan risiko resistensi meningkat.

Kesembilan poin yang saya cantumkan di atas bukan hanya karangan saya saja. Anda bisa akses website WHO atau CDC tentang resistensi antibiotika, dan rekomendasi mereka persis seperti poin-poin di atas. Masalah resistensi antibiotika ini bukan hanya masalah negara kita, tapi masalah global. Bahkan penyebabnya pun nyaris sama di semua negara. Tadi saya sebutkan saya tidak mau menuding salah satu pihak, karena memang masalah resistensi antibiotika ini adalah masalah kita bersama. Maka, untuk menyelesaikannya juga perlu dilakukan bersama-sama. Kerjasama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat amat sangat penting untuk mengatasi masalah ini. Dan harus dilakukan mulai dari sekarang. Kita tidak bisa menunda-nunda lagi.Memang sih bangsa kita ini bangsa yang kalau sudah kena batunya, baru berpikir untuk berbenah. Kalau nanti di masa depan tiba-tiba sudah tidak ada antibiotika lagi yang bisa digunakan, atau harga dari alternatif antibiotika yang bisa digunakan amat sangat mahal, baru kita sibuk ingin berbenah, ya sudah terlambat.

(bersambung ke bagian 3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s