Thoughts

Resistensi Antibiotika (1)

Seharusnya tulisan ini saya muat di blog saya yang satu lagi, tapi karena inti tulisan ini adalah opini pribadi, maka saya memutuskan untuk memuatnya di sini saja. Blog yang satu lagi khusus untuk informasi-informasi kesehatan, bukan untuk menggiring opini (apalagi menggiring domba).

Sudah 3 (tiga) tahun terakhir ini saya membaca laporan yang dikeluarkan oleh WHO tentang resistensi antibiotika. Dulu, saat saya masih kuliah, dosen-dosen saya (baik dosen di kampus maupun praktisi di rumah sakit) berulang kali memperingatkan kami akan bahayanya resistensi antibiotik. Apabila itu terjadi, kata dosen-dosen saya saat itu, maka kita akan kesulitan mencari alternatif antibiotika lain untuk mengobati penyakit infeksi dikarenakan penelitian dan pengembangan antibiotika sangatlah sedikit. Apa yang dosen saya ucapkan saat itu ternyata menjadi kenyataan (pada saat itu yang sudah resistensi adalah antibiotika golongan penisilin, dan sepertinya sekelompok orang masih menganggap itu tidak terlalu merisaukan) dalam tiga tahun terakhir. Laporan terakhir dari WHO menyebutkan, di beberapa negara ditemukan beberapa penyakit yang bakterinya sudah resisten terhadap antibiotika dan tidak ada alternatif lain untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut. Penyakit yang dimaksud adalah gonorrhea (ya, ini infeksi yang menyerang kelamin) dan penyakit saluran cerna akibat bakteri yang biasanya mampu diobati dengan obat golongan Carbapenem (bagi pembaca yang berprofesi sebagai dokter/apoteker, di laporan WHO tersebut, bahkan generasi terbaru dari golongan ini sudah tidak mampu membunuh bakteri penyebab infeksi). Melihat permasalahan seperti ini, tidak aneh dalam tiga tahun terakhir, setiap WHO mengadakan konferensi kesehatan tingkat dunia, masalah resistensi antibiotika ini menjadi topic yang selalu dibahas. Bahkan di negara-negara maju, kementerian kesehatan setempat juga sangat peduli dengan masalah tersebut.

Mengapa resistensi antibiotika ini menjadi permasalahan yang mendapat begitu banyak perhatian? Karena satu masalah resistensi bisa merembet ke banyak hal. Saya akan menjelaskannya dalam bentuk poin, supaya tidak terlalu bingung membacanya.

a. Resistensi mikroba terhadap antibiotika dapat menyebabkan biaya pengobatan menjadi lebih mahal. Seharusnya pasien bisa membayar lebih murah bila diobati dengan antibiotika A, tapi karena bakterinya sudah resisten tehadap antibiotika A, maka harus digunakan antibiotika B yang lebih mahal harganya. Akibatya biaya pengobatan membengkak. Ini akan memberatkan kondisi keuangan pasien ataupun negara yang menyelenggarakan sistem asuransi kesehatan bagi warganya.

b. Akibat resistensi antibiotika, seorang pasien yang tadinya cukup minum antibiotika saja, karena bakteri sudah resisten, harus dirawat di rumah sakit karena antibiotika alternatifnya diberikan melalui suntikan. Hal tersebut berdampak selain pada kualitas hidup pasien juga pada biaya pengobatan (tadinya hanya perlu menebus obat saja, sekarang harus bayar biaya rawat inap).

c. Risiko penyebaran infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten ini akan semakin tinggi. Karena tadi, dia tidak bisa dibunuh oleh antibiotika, dia akan tetap berada dalam tubuh pasien, dan siapapun yang kontak fisik/berada dekat pasien tersebut menjadi rentan terpapar bakteri penyebab infeksi.

d. Risiko kematian akibat penyakit infeksi akan meningkat. Penyakit infeksi yang tadinya bisa disembuhkan oleh antibiotik, menjadi tidak bisa disembuhkan karena resistensi antibiotika. Contoh kasus penyakit gonorrhea dan infeksi saluran cerna yg bakterinya sudah tidak sensitive terhadap antibiotika Carbapenem. Pasien yang menderita penyakit tersebut hanya bisa pasrah dan berdoa,karena tidak ada obat untuk membunuh penyebab penyakitnya.

(bersambung ke tulisan selanjutnya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s