Thoughts

Bukan (salah) pakaian kami.

Pagi ini (saya yang masih tidur-tidur ayam) dibuat kesal ketika membuka akun Facebook dan melihat salah seorang user membagikan gambar berikut (yang ia bagikan dari user lainnya) :

CKZ0YfzUcAAgpaP

Awalnya saya tidak berniat memberi respon apa-apa, karena masih ngantuk tadi. Tapi, tak lama kemudian, kekesalan saya mulai muncul. Kenapa, kenapa selalu yang salah itu perempuan? Kalau dia berpakaian agak terbuka, dan dia diperkosa, dia yang salah. Kalau pakaiannya sudah tertutup rapat, dan dia diperkosa, apa masih salah dia juga? Sepertinya iya. Tak jarang kita mendengar komentar seperti, “Dia kan centil. Perempuan gatal!” atau “Makanya, sudah malam masih main di luar, bukannya pulang ke rumah,” atau “Itulah, berteman dengan orang-orang nggak benar.”

Salah. Salah terus! Tak henti-hentinya kaum perempuan ini berusaha diatur, diperbaiki kesalahannya, di”manusia”kan. Kalau kami memang menjadi sumber kesalahan laki-laki (seperti yang banyak orang percayai), menjadi sumber kerusakan di muka bumi, bunuh saja. Kan bagus, satu penyebab bobroknya moral di bumi ini dihilangkan, dimusnahkan. Ketimbang Anda memusnahkan Harimau Sumatra atau Gajah misalnya. Ketimbang Anda memusnahkan hutan lindung yang justru berperan di bumi ini. Musnahkan saja kami. Kaum yang selalu saja membuat lawan jenisnya berbuat dosa.

Oh, tapi masih ingin meneruskan keturunan ya? Masih membutuhkan vagina, uterus, dan sel telur untuk menghasilkan keturunan? Makanya kami tetap dibiarkan hidup, seperti sapi yang diternakkan untuk diambil dagingnya, susunya, anaknya. Barangkali ketimbang kalian ribut soal politik, kalian bersibuk-sibuklah dalam menemukan robot yang bisa berhubungan seks dan sekaligus mengandung anak-anak kalian. Jadi pemusnahan kami akan lebih mudah dilakukan. Robot tentu saja tidak perlu beraktivitas di luar rumah. Kalian tidak perlu takut robot akan menampakkan aurat atau menjadi terlalu mandiri. Bukankah itu lebih baik?

Pandangan-pandangan yang mendasari dibuatnya gambar seperti di atas pun membuat kami, kaum perempuan, terpecah belah. Banyak perempuan yang mendukung pandangan tersebut dan akhirnya menjadi orang terdepan yang ikut menyalah-nyalahkan perempuan lain. Dia yang pertama menuduh, mencibir, kalau perlu menggosipkan yang bukan-bukan. Bukannya dia mengajarkan pada anak lelakinya agar menghormati perempuan, agar pikirannya tidak sempit, agar memiliki kendali diri yang baik, malah dia yang menyuburkan pikiran sempit anaknya. Malah dia yang memperkecil ukuran kurungan bagi anak perempuannya.

Bukan kami yang harus menutup sana-sini atau mengurung diri di rumah. Tapi, kalian lah (lak-laki dan perempuan yang mendukung pemikiran seperti itu) yang harus berpikir ulang. Kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual tidak terjadi hanya karena jenis pakaian. Yang berpakaian tertutup pun bisa diperkosa atau dilecehkan. Bukan pakaian. Tapi pikiran kalian yang harus berubah. Bahwa perempuan bukan objek seksual. Ada perempuan berjalan sendiri, bukan berarti dia memberikan undangan terselubung untuk disetubuhi. Bila ada tindakan yang salah, maka jangan korban yang Anda tuding, sementara pelaku Anda maklumi.

Bukan kami yang salah. Pikiran kalian yang harus berubah. Kalau tidak, kita akan terus-terusan begini. Terus saja menyalah-nyalahkan perempuan. Berhentilah menjadikan perempuan sebagai objek seksualitas. Kecuali ya tadi, kalian mau memproduksi robot untuk menggantikan kami, then go ahead.

Terakhir, saya rasa respon yang paling cocok untuk menanggapi gambar di atas adalah melalui foto berikut :

CKZ05w4UwAEIj76

*tulisan ini kurang lebih mirip dengan apa yang saya celotehkan di Twitter tadi pagi*

Advertisements

14 thoughts on “Bukan (salah) pakaian kami.

  1. Setuju banget kak! Liat postingan itu jadi gatel banget pengen komentar. Beban moral jadi ada di pihak perempuan. Bukan gw jadi feminis.Tapi menurut gw, gak pantes perempuan yang korban jadi pihak yang disalahkan karena masalah pakaian. Otak primitif dan mentalitas merekalah yang perlu diubah dan disadarkan. WOMEN’S UP!!

    1. Aku bikin kultweet dan tulisan ini jga krn lihat Ru komentar di FB itu. Marah dan sedih karena panjang sekali perjalanan untuk perempuan bisa dihargai benar-benar dan terbebas dari patriarkisme.

  2. Sedih ya, makin tahun di Indonesia bukannya makin banyak yg cerdas berpikiran terbuka, eh ini malah kayak makin banyak aja yg tertutup.
    Terakhir kemarin baru bahas ttg kerudung. Banyak pria menyamakan perempuan tidak berkerudung dengan permen yg udah gak ada bungkusnya. Ouch, saya berkerudung tapi saya sakit hati bacanya.
    Ada pula yg menganalogikannya dg gadget bekas pakai. Ya ampun aku sampai bingung mau sedih atau marah duluan. Dan tulisan Kak Muthe sedikit banyak menyampaikan uneg-uneg saya mengenai ini, hehe

    1. Ya, aku juga lihat tuh yg permen tanpa bungkus, gadget second lah. Makanya meradang kali ini. Kayak nggak habis-habis aja. Nggak puas gitu untuk tidak merendahkan perempuan. Dan cara mainnya gak asik. Sok ingin meninggikan dengan cara merendahkan. Lame, so lame.

  3. Biasanya yang komen di tulisan seperti ini orang yang salah dan yang setuju. Ya, Mbak Muthe benar. Saya sebagai laki-laki juga sering tertarik kalau melihat perempuan-perempuan yang berpakaian terbuka di tempat umum. Saya setuju bahwa kami yang perlu memperbaiki pola pikir kami (dan memperbanyak doa). Saya termasuk yang jahat, tapi kami masih mencintai dan sangat membutuhkan kalian kok.

    1. Hai, Kevin. Memiliki rasa ktertarikan sebenarnya tidak salah, tapi mengendalikan diri yang menjadi kuncinya. Karena ketertarikan tidak melulu harus dinyatakan dalam bentuk menggoda atau menyentuh, apalagi memaksa. 🙂

  4. Kami laki-laki seharusnya selalu berusaha untuk menjaga hawa nafsu dari apa-apa yang menarik dari perempuan, itu sebagai salah satu bentuk penghormatan kami kepada kalian. Begitu juga perempuan menghormati laki-laki, salah satunya dengan cara berbusana yang baik & sopan, agar kami yang lemah ini dapat terbantu dalam pengendalian diri. Kita sama-sama saling berintrospeksi & berusaha 🙂

    1. Mas, dengan logika yang sama maka : orang yang mukanya menyebalkan harus operasi plastik supaya yang melihatnya tidak tergoda untuk menonjok muka orang tersebut. Begitu kah?

      1. Kalo wajahnya menyebalkan ya perbanyak senyum donk 🙂 operasi plastiknya buat di bagian lain aja hehe.. Masa segitunya orang berbusana sopan dibandingin dengan operasi plastik? Jadi gini Ibu Muthe, kita ini hidup di dunia realistis, ada manusia baik, ada yg buruk, kita tidak bisa mengharapkan semua orang itu baik, apalagi berharap semua orang menghormati kita, yang bisa kita lakukan dengan orang yg tidak baik adalah mencegah atau menghindar dari perbuatan buruknya. Contohnya berbusana sopan untuk meminimalisir pelecehan, atau perbanyak senyum biar tidak ditonjok 🙂

      2. Makanya saya bilang, logika berpikir seperti itu juga gak sepenuhnya betul. Dan logika begitu melulu ditujukan pada kaum perempuan. Sementara si laki-laki yg meminta perempuan berbusana “sopan” tidak membenahi cara berpikirnya sendiri, yaitu menjadikan perempuan sebagai objek.

        Logika yg seperti itu juga akan patah ketika ada perempuan berbusana sopan dan tetap dilecehkan. harus sesopan apa lagi? apa perlu sekalian tidak usha keluar rumah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s