Thoughts

Man up, dude!

Hari ini dosen di almamater saya berkunjung ke universitas tempat saya mengajar. Beliau berbagi banyak hal tentang arah pendidikan farmasi di Indonesia. Saya tidak akan membahas tentang pendidikan farmasi. Yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini (yang kemungkinan amburadul, jadi tolong maafkan) adalah tentang salah satu topik pembicaraan kami tadi.

Ketika kami berbicara tentang bagaimana meningkatkan jumlah dosen di jurusan, salah satu saran yang muncul adalah dengan menyekolahkan mahasiswa-mahasiswa kami yang baru lulus s1. Mereka diarahkan untuk langsung mengambil S2, kemudian kembali ke universitas asal dan menjadi dosen. Lalu, dosen senior bilang begini : Tapi, Pak, anak-anak kami yang baru selesai sidang ini bilang mereka ragu melanjutkan sekolah, karena nanti lelaki segan untuk meminang mereka. 

Saya cukup terperangah mendengar hal tersebut (meskipun saya tutupi dengan senyum lebar, namun dalam hati ingin bejeg-bejeg orang). Bagaimana daerah kami mau maju kalau kapabilitas perempuan untuk berkarya dihambat oleh kemungkinan dia akan menikah atau tidak? Ya saya tahu, Anda bisa berargumen bahwa peran perempuan tidak melulu membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi. Saya setuju. Untuk area-area tertentu memang tidak dibutuhkan pendidikan yang terlalu tinggi (katakanlah sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintahan atau kementerian). Tapi, untuk dunia pendidikan tinggi, maka tingkat pendidikan seseorang sangat menentukan apakah dia bisa ikut berkontribusi atau tidak. Dan kami yang ada di dunia pendidikan tinggi amat membutuhkan sumber daya manusia yang kualifikasinya sesuai.

Gitu aja kok repot ya? Kayak nggak ada orang lain aja. Faktanya untuk jurusan/fakultas farmasi kebanyakan mahasiswanya adalah perempuan. Kalau kami ingin membina anak-anak kami yang memiliki kemampuan dan kemauan menjadi dosen, maka kami harus melakukannya sejak dini. Sejak mereka akan lulus dengan mendorong dan mengarahkan mereka untuk melanjutkan pendidikan kemudian kembali ke universitas. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau mereka sudah ketakutan tidak akan mendapatkan jodoh kalau pendidikan mereka terlalu tinggi?

Saya tidak akan bilang pada mereka untuk tidak usah menikah. Kejam sekali saya. Dan saya juga tidak akan menyalahkan para anak perempuan ini. Mereka bisa berpikir seperti itu akibat bentukan masyarakat. Pikiran seperti itu adalah pikiran kuno yang terus dipupuk dan disuburkan oleh masyarakat yang tidak berkembang pola pikirnya. Dari dulu, perempuan selalu diwanti-wanti agar bersikap lemah lembut, agar lebih banyak diam, agar tidak terlalu kelihatan pintar, karena lelaki tidak suka wanita yang terlalu pintar. Alasannya?Dia tidak mau egonya kalah. Pendapat seperti ini masih beredar di banyak tempat. Laki-laki akan segan mendekati perempuan yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dari dirinya. Entah apa sebabnya, tapi yang pasti egonya tidak mau dikalahkan bahwa laki-laki yang harusnya menjadi pemimpin bagi wanita, pendidikannya lebih rendah daripada wanita yang akan ia pimpin.

Omong kosong!

Kalau memang laki-laki itu siap menjadi pemimpin di keluarganya, dia tidak akan peduli bahwa perempuan yang akan dijadikan istrinya memilik pendidikan yang lebih tinggi daripada dia. Kenapa? Karena dia memiliki kualifikasi yang pantas untuk menjadi pemimpin. Dia tidak akan rendah diri akan hal itu. Malahan dia akan bangga bahwa istrinya berpendidikan tinggi, mengejar cita-cita, berkontribusi pada perkembangan masyarakat di sekitarnya. Kalau laki-laki itu memang pantas menjadi pemimpin, dia tidak akan merasa malu mendekati perempuan yang tingkat pendidikannya lebih tinggi. Dia justru akan merasa humble karena perempuan itu, terlepas dari tingkat pendidikannya, malah ingin bersanding dengan dirinya. Artinya kan dia sebagai lelaki memiliki kualitas yang lebih.

Omong kosong dengan pandangan kuno yang membuat anak-anak perempuan kami begitu segan untuk melanjutkan pendidikannya karena khawatir tak akan dipinang. Omong kosong! Dan omong kosong ini dipertahankan berpuluh-puluh tahun demi sesuatu yang namanya apa? Kebudayaan? Tradisi? Kearifan lokal? Apa? Untuk apa omong kosong ini terus didongengkan kepada anak-anak perempuan? Untuk apa sifat ego itu terus diberikan pada anak-anak lelaki kita?

Tapi kita ingin menjadi daerah yang maju bukan? Ingin menjadi masyarakat yang lebih baik? Bagaimana mungkin kita menjadi masyarakat yang lebih baik kalau kita menghalang-halangi peran perempuan dalam masyarakat? Bagaimana mungkin kita menjadi masyarakat yang lebih baik kalau kita mengerdilkan arti perempuan dalam masyarakat. Bagaimana mungkin kita bisa maju kalau kita membuat tembok-tembok di pikiran anak-anak perempuan kita? Bagaimana mungkin kita akan maju kalau kita terus memberikan makan ego patriarkal pada anak-anak laki-laki kita?

Jadi, saya mau titip pesan.

Untuk laki-laki : man up, dude! Mulailah sedikit-sedikit mengubah cara pandang kalian. Perempuan itu bukan untuk dijadikan objeks seks, dan babu yang melahirkan anak kalian dan mengurus rumah kalian. Perempuan bukan budak. Dia sama seperti kalian, memiliki fungsi sebagai individu dan fungsi sosial. Tidak perlu takut bersanding dengan perempuan yang tingkat pendidikannya lebih tinggi. Karena kami, perempuan, tidak akan memandang rendah kalian, para lelaki, yang pendidikannya lebih rendah daripada kami. Kami tidak sedangkal itu. Kalian suatu saat akan menjadi seorang ayah dari anak laki-laki dan anak perempuan, janganlah kalian teruskan pemikiran omong kosong seperti yang tertulis di atas. Dukung anak perempuan (dan anak laki-laki) kalian untuk menjadi yang terbaik dari dirinya, untuk meraih cita-citanya. Ajarkan anak laki-laki kalian untuk tidak memiliki ego yang terlalu tinggi, untuk tidak merendahkan perempuan.

Untuk perempuan : kalian (barangkali) akan menjadi ibu dari anak laki-laki atau anak perempuan. Janganlah kalian teruskan pemikiran omong kosong tadi. Dukung anak perempuan (dan anak laki-laki) kalian untuk meraih mimpi-mimpinya, untuk menjadi yang terbaik dari dirinya. Ajarkan anak lelaki kalian untuk menghargai perempuan, dan mendukung pasangan mereka kelak.

Dengan begitu, kita akan memutus lingkaran setan yang selama ini membentuk peradaban kita. Mudah-mudahan, impian kita untuk menjadikan daerah tempat tinggal kita menjadi lebih maju, masyarakat kita lebih maju akan terwujudkan.

Advertisements

2 thoughts on “Man up, dude!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s