Life

Penjara (30/30) -latepost-

Kebodohan, yang membuat kita menjadi picik, keras kepala, merasa benar sendiri, dan segenap ketidakmampuan bersikap kritis, pada dasarnya adalah potret sebuah keterpenjaraan jiwa. -Mohamad Sobary-

Beberapa minggu yang lalu saya sampai pada satu kesimpulan. Ternyata penjara itu bukan dalam bentuk keluarga, agama, atau institusi apapun. Penjara itu adalah dunia ini sendiri. Penjara itu adalah society yang membuat saya kerap kali ingin menjambak rambut, menjedotkan kepala, dan mengakhiri hidup. Penjara itu bukan karena banyaknya aturan, tapi banyaknya keegoisan (yang akhirnya melahirkan peraturan yang menyesakkan).

Saya bahkan menyalahkan Tuhan, kenapa Ia melempar saya ke dunia yang menyesakkan ini. Tak ada kebaikan apapun dari keberadaan saya di dunia ini. Baik itu kebaikan saya terhadap dunia, maupun sebaliknya. Kalau ada yang bilang bahwa saya harus mensyukuri keberadaan saya di dunia ini karena Tuhan mengizinkan saya menikmati dunia, saya berpikir bahwa orang yang mengatakan itu gila. Kalau Tuhan itu ada dan Surga juga ada, tentunya lebih baik saya berada di surga. Menjadi roh-roh yang tak berwujud, yang hidup tenteram dalam alam yang baik. Ngapain saya senang di dunia yang bobrok dengan masyarakatnya yang lebih bobrok lagi? Mendingan saya main-main saja di surga.

Sahabat saya pernah bilang (ketika saya cerita tentang keputusasaan saya untuk hidup), yang penting kita berusaha sebaik mungkin di dunia ini. Apakah usaha itu dinilai baik atau tidak oleh Tuhan, tidak penting. Kita hanya mengharapkan ridhaNya saja terhadap usaha-usaha yang kita lakukan. Sahabat saya oke banget kan? Kalau kata Mohamad Sobary, “Terpenjara atau tidak, sebenarnya kita sendiri yang menentukan. Bukankah kita diberi hak untuk jadi arsitek : buat melukis nasib kita sendiri?” Sayangnya saya skeptis dan pesimis. Saya adalah tipe orang yang harus tahu di ujung jalan ada apa. Kalau di ujung jalan tidak ada kepastian, saya malas berjalan. Buat apa? Tau-tau di depan jurang. Kan mending mengambil jalan lain yang sudah pasti bukan ke jurang? Begitu juga tentang hidup. Buat apa berbuat baik? Standar baik itu apa? Yang kita bilang baik itu belum tentu baik di mata Tuhan kan? Terus kalau kita berpendapat itu perbuatan baik, tapi ternyata tidak dipandang baik oleh mayoritas penduduk di muka bumi ini, mana yang benar? Sungguh memusingkan. Makanya tak jarang saya berpikir untuk mengakhiri hidup saja. Hanya keberanian yang belum saya miliki untuk mengakhiri hidup. Kalau itu sudah ada, selamat tinggal dunia, selamat tinggal penjara.

Karena dunia ini melelahkan. Bagi mereka yang menganut paham sufistik, dunia dianggap sebagai penjara karena mereka amat rindu pada Sang Pencipta. Buat saya, dunia ini penjara karena membuat saya lelah dan pusing. Barangkali saya salah dalam memandang kehidupan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s