Life

Idola (24/30)

Sampai saya selesai menempuh pendidikan profesi apoteker, saya tidak pernah punya idola. Oh, okay, saya ngaku, dulu saya pernah mengidolakan grup band Linkin Park selama 2-3 tahun, tapi mengidolakan mereka tidak memberikan hal yang berarti dalam hidup saya (kecuali kedekatan dengan teman-teman semasa sekolah, yang tentu saja sangat berarti). Tapi, setelah saya mengambil kuliah master, setelah saya selesai sidang, setelah saya masuk ke dunia kerja, barulah saya sadar, saya mengidolakan salah satu dosen saya. Almarhum Pak Joseph Iskendiarso Sigit, yang lebih sering disapa Pak Sigit. Beliau tanpa pernah menggurui, tanpa pernah merasa dirinya superior, memberikan banyak sekali contoh yang kemudian saya coba terapkan dalam hidup saya. Kesabaran beliau dalam membimbing mahasiswa, baik itu anak bimbingannya sendiri ataupun bukan (saya termasuk yang kedua, dan saya ingat sering sekali saya berdiskusi dengan beliau). Beliau selalu memberikan motivasi pada mahasiswa. Beliau ramah sehingga mahasiswa pun tak segan untuk berbagi, masalah apa pun, dengan beliau.

 Banyak sekali hal yang beliau contohkan selama saya berinteraksi dengan beliau, dan tanpa saya sadari, saya terapkan pada diri saya. Sekarang saya mengajar, pekerjaan yang tak pernah terpikir sama sekali oleh saya, karena saya selalu merasa diri saya tak mampu, bodoh, dan sebagainya. Setiap ketidakpercayaan diri saya muncul, saya mencoba mengingat Pak Sigit. Kadang saya berpikir, apa yang akan Pak Sigit katakan kalau saya tidak pede begini? Kalau saya berhadapan dengan mahasiswa, saya akan mengingat bagaimana sikap Pak Sigit terhadap kami, mahasiswa-mahasiswanya.

 Boleh lah kalau saya bilang, Pak Sigit adalah idola saya.

 Tapi, sekarang bukan hanya Pak Sigit yang menjadi idola saya. Mereka yang memiliki kemiripan dengan sikap Pak Sigit, yang tak segan membagi ilmu, yang cerdas dan bersahaja, yang terus berusaha membangun meskipun keadaan sulit, yang memiliki visi terhadap pendidikan, mereka menjadi idola saya. Mereka menjadi contoh buat saya. Saya terkesan dan saya akan terus mengingat bagaimana mereka bersikap, bukan untuk saya tiru mentah-mentah, tapi menjadi bank data untuk sikap yang akan saya ambil.

 Idola saya adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar dan tidak pernah berhenti berusaha. Mereka yang tidak segan berbagi ilmu, yang membangun suasana menyenangkan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, sehingga murid/mahasiswa senang belajar.

 Mudah-mudahan, saya bisa mengikuti jejak mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s