Thoughts

Stop Perkawinan Anak (19/30) -late post-

Saya kecewa sekali ketika membaca berita bahwa MK menolak untuk menaikkan usia pernikahan yang tadinya usia minimal seorang WNI boleh menikah adalah 16 tahun menjadi 18 tahun. Saya lebih kecewa lagi karena alasan para hakim MK (dan hanya ada 1 hakim MK -hakim wanita- yang menyetujui untuk menaikkan usia minimal WNI yang diperbolehkan u/menikah) lebih karena hal “aturan agama.” Saya kecewa karena hakim MK yang mayoritas bapak-bapak itu tidak memikirkan hak seorang anak.

 16 tahun! Kelas 1 SMA. Dan alasannya adalah karena aturan agama, yang membolehkan seseorang menikah apabila telah masuk masa akil balig. Alasan lainnya adalah untuk mencegah maksiat, untuk mencegah zina. 16 tahun. Ketimbang memikirkan bagaimana caranya mendidik seorang anak dengan baik, sehingga dia bisa melindungi dirinya sendiri, mengerti mengapa berhubungan seksual di luar pernikahan memerlukan kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi, negara ini lebih memilih mengesahkan pernikahan anak. Tak peduli hak mendapatkan pendidikan seorang anak usia 16 tahun terancam dengan peraturan tersebut. Tak peduli dampak sesudah pernikahan itu terjadi. Tak peduli bahwa anak di usia itu belum siap secara mental untuk menikah dan membangun rumah tangga (dan tak ada anak usia 16 tahun yg betul-betul siap mental untuk menikah!). Para hakim itu (dan mereka yang banyak sekali mendukung keputusan MK tersebut) sepertinya juga tidak membaca bagaimana mencegah pernikahan anak di beberapa negara berkembang malah membuat perekonomian komunitas setempat membaik. Itu terjadi di India, Afghanistan, Pakistan,dan beberapa negara di Afrika dimana pernikahan anak adalah hal yang lazim terjadi dan menjadi hal yang menakutkan bagi para anak perempuan di sana (karena korban pernikahan anak paling banyak adalah anak perempuan). Menunda usia pernikahan dan memberikan pendidikan serta keterampilan pada anak tersebut justru memberikan manfaat yang lebih besar pada komunitas tempat dia tinggal. Menunda usia pernikahan yang saya maksudkan bukan berarti menikah setelah umur 30 atau 40 tahun, tapi setidaknya sampai anak tersebut selesai mendapatkan pendidikan tingkat menengah atas (SMA).

 Bagaimana dengan perzinahan? Mencegah perzinahan tidak akan pernah berhasil dengan menerapkan aturan usia minimal untuk menikah. Perzinahan bisa dicegah dengan mendidik anak untuk mengetahui risiko dan tanggung jawab yang harus ia tanggung ketika dia melakukan perbuatan tersebut. Rasa kosong atau bersalah setelah melakukan hubungan seksual (terutama bagi mereka yang menganut paham bahwa seks harus dilakukan setelah menikah), penyakit seks menular, HIV/AIDS, kehamilan yang berujung pada kehadiran seorang anak, semua itu harus diterangkan dengan sejelas-jelasnya pada seorang anak. Bahaya penyakit seks menular, risiko memiliki anak ketika ia belum siap menjadi orangtua. Jelaskan semua itu pada anak remaja kita.

 Saya rasa, kita sebagai masyarakat adalah masyarakat yang malas. Malas mengedukasi, malas berbicara dengan menggunakan nalar kepada anak-anak kita, kepada sesama kita. Kita juga tidak memiliki keyakinan bahwa anak-anak kita memiliki pikiran yang cerdas, nalar yang baik, padahal dugaan itu kemudian menjadi kenyataan karena kita lah yang menyebabkan itu terjadi. Kita selalu merasa, membicarakan tentang sesuatu yang berbau seksual malah akan memicu mereka untuk melakukan hubungan seksual. Tidak. Kita yang tidak berbicara dengan mereka malah yang membuat mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Kita juga begitu cepat menuduh, merendahkan negara-negara liberal yang tidak menganut paham yang sama dengan kita. Padahal, ada yang bisa diambil dari pengalaman negara-negara tersebut. Tentang pendidikan seks misalnya. Kita selalu berpikir, negara liberal memberikan pendidikan seks dan lihat saja anak-anak mudanya seperti binatang melakukan seks bebas. Padahal bukan itu esensinya. Pendidikan seks yang dilakukan di negara bebas membuat mereka dapat menekan jumlah penderita penyakit seks menular, bahkan menunda jumlah kelahiran di usia muda. Karena dijelaskan apa risiko memiliki anak ketika seseorang masih berusia sekolah dan belum bisa mencari nafkah. Maka akhirnya yang timbul adalah kehati-hatian. Tanggung jawab. Karena pernikahan bukanlah sekedar melegalkan seks dan menghindari zina. Karena menghadirkan seorang anak ke muka bumi ini memerlukan kesiapan mental dan tanggung jawab yang bahkan orang dewasa pun belum tentu memiliki mental dan tanggung jawab itu, apalagi remaja.

 Kita malas berdasarkan ketakutan yang tak berarti. Karena kita tak punya daya nalar yang baik. Karena cara berpikir kita begitu sempit. Yang penting melarang, selesai urusan. Yang penting memberikan batasan, selesai urusan. Padahal banyak masalah berakar dari pelarangan dan batasan. Banyak masalah tidak selesai hanya dengan pelarangan dan batasan.

 Barangkali kita harus berpikir, apakah kita lebih mengutamakan anak-anak kita menikah di usia 16 tahun agar tidak berzina atau memberikan kesempatan mereka untuk memekarkan sayapnya dengan harapan bisa memberikan manfaat di muka bumi ini?

 Warm regards,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s