Thoughts

Kemampuan berpikir saintifik (23/30)

Hari ini menarik sekali. Di kampus ada workshop persiapan konferensi mahasiswa MIPA yang akan diadakan bulan Oktober mendatang. Pembicara workshop,Pak Kaka yang juga ketua Himpunan Kimia Indonesia, menyatakan sesuatu yang menarik : bangsa ini memiliki kemampuan berpikir saintifik yang rendah, sehingga gampang ditipu. Contoh tipuan yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat antara lain adalah : tasbih yang kalau dikalungkan bisa memancarkan sinar inframerah dan menghancurkan kolesterol, air heksagonal yang kaya oksigen-mineral terlarut, dan banyak lagi. Kalau kemampuan berpikir saintifik masyarakat kita tinggi, kita tidak akan tertipu oleh klaim kosong semacam itu.

 Dan mengapa kemampuan ini dimiliki masyarakat kita dengan rendah sekali? Menurut Pak Kaka (dan saya rasa sudah banyak juga yang mengatakan hal serupa, seperti Pak Iwan Pranoto) adalah karena atmosfer pendidikan kita juga tidak mendukung sama sekali agar para siswanya memiliki kemampuan berpikir saintifik yang tinggi. Setelah dipikir-pikir, betul juga. Soal-soal ulangan atau ujian kita nyaris semuanya berbentuk hapalan. Tugas-tugas sekolah (bahkan di level universitas pun begitu) juga berbentuk hapalan, bukan telaah masalah. Bentuk soal pilihan ganda juga mengandalkan hapalan (bentuk soal essay pun begitu sebenarnya). Belum lagi kontribusi siswa/mahasiswa dalam penelitian, baik level sederhana maupun yang bermanfaat untuk masyarakat.

 Saya nggak akan sok iye ngomong tentang ini, karena 11 tahun setelah saya lulus sarjana, saya juga menyadari betul kemampuan berpikir saintifik saya ternyata tidak terbentuk di dunia pendidikan baik pada pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Di level SD-SMA, penelitian yang saya pernah lakukan Cuma menumbuhkan kecambah dari kacang, tidak ada science fair di sekolah saya dulu. Saya kuliah mengambil jurusan yang lebih mengandalkan hapalan ketimbang problem solving (pada masa saya studi, tidak tahu kalau sekarang), dan saya cukup kepayahan menghapal. Tapi, begitu saya bisa menghubungkan satu materi dengan materi lain, meskipun saya hanya mengerti kulit-kulitnya saja, saya malah lebih bisa memahami. Ketimbang menghapal sampe otak kram. Bentuk soal ujian atau tugas atau diskusi yang bersifat problem solving atau analisis masalah juga, pada saat itu, jarang kami dapatkan. Padahal hal sederhana seperti itu justru yang akan meragsang kemampuan berpikir kami. Saya baru sadarnya jauh setelah selesai kuliah, setelah ketemu lulusan-lulusan dari universitas lain, dari luar negeri, dan ketemu dengan orang-orang yang sudah bekerja.

 Mengembangkan kemampuan berpikir saintifik juga harusnya bisa distimulasi dari rumah. Dengan cara berdiskusi dengan keluarga tentang berbagai hal, termasuk tentang sains itu sendiri. Anak distimulasi untuk berpikir, untuk mencari tahu, mencari sumber informasi, tentu saja sambil didampingi oleh orangtuanya. Kesimpulannya, dengan memberikan atmosfer saintifik pada kehidupan sehari-hari, kemampuan berpikir kita pun akan meningkat, dan kita tidak akan mudah dibodohi oleh hal-hal yang tidak jelas. Entah itu produk, iklan, isu-isu yang tidak benar, atau provokasi yang tidak jelas. Maka, marilah kita mulai mengembangkan atmosfir saintifik di kehidupan kita sehari-hari, di keluarga kita, dengan teman-teman kita. Agar bangsa ini semakin cerdas dan tidak mudah ditipu.

Warm regards,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s