Thoughts

Masukan dan Perbaikan (15/30)

Seminggu ini saya nggak tahu harus menulis apa. Kalaupun ada ide, saya tidak bisa menuangkan ide tersebut dalam bentuk tulisan. On a positive side, saya berhasil menyelesaikan membaca Madilog. Bacaan selanjutnya dalam daftar bacaan saya adalah terjemahan buku The Origin of Species nya Charles Darwin. Saya punya sih ebooknya, tapi sedang tidak berminat untuk membaca ebook.

 Anyway, ada satu hal yang sedikit mengganjal dalam pikiran saya. Tentang pentingnya memiliki pikiran yang terbuka demi suatu kemajuan atau perbaikan. Apa yang saya bicarakan ini bukan hanya tentang perbaikan diri tapi juga perbaikan organisasi atau institusi. Suatu perbaikan hanya bisa dicapai kalau kita mendapatkan banyak input yang bermanfaat bagi proses menuju perbaikan tersebut. Perbaikan jarang bisa terjadi hanya dengan duduk merenung, kecuali bila Anda adalah Sheldon Cooper yang mempunya jurnal harian dan mendokumentasikan seluruh kegiatan Anda di hari itu. Perbaikan juga tidak bisa terjadi tanpa input dari luar diri kita atau dari luar institusi.Masukan tidak selamanya baik, tapi masukan membuat kita berpikir. Karena banyak hal yang luput dari perhatian kita, tapi terlihat jelas oleh pihak lain. Selain itu, pihak yang memberi masukan pun barangkali memiliki pengalaman atau pengetahuan yang lebih dari kita sehingga masukannya memang berdasarkan sesuatu yang telah berhasil.

 Jangan bermimpi untuk maju, untuk melakukan perbaikan, apabila kita tidak pernah membuka pintu agar masukan-masukan itu bisa masuk. Perbaikan tidak bisa terjadi kalau kita hanya ingin dipuji atau disanjung-sanjung. Perbaikan tidak bisa terjadi kalau masukan yang datang dianggap sebagai peluru yang ditembakkan oleh musuh untuk menjatuhkan diri kita. Apalagi dalam kaitannya dengan institusi atau organisasi, maka pemimpin organisasi/institusi haruslah membuka pintu selebar-lebarnya agar anggota tak sungkan memberikan masukan. Semuanya demi perbaikan. Setelah itu apa?

 Setelah itu perlu strategi dan berbuat. Strategi untuk melakukan perbaikan dan melakukan upaya-upaya perbaikan tersebut. Kalau itu diri kita pribadi, tentu saja kita lah yang harus teguh hati menjalankan semua perbaikan yang kita niatkan. Kalau itu di organisasi/institusi, maka seluruh pihak perlu dilibatkan dalam membuat strategi, dan dalam menjalankan strategi tersebut. Sehingga tidak perlu ada debat kusir yang tidak selesai-selesai sampai akhir zaman. Sementara kondisi terus terpuruk. Kalaupun ada perbaikan, maka perbaikannya bukan hanya bersifat sementara, tapi berkelanjutan.

 Awalnya adalah niat untuk memperbaiki diri. Dan membuka diri untuk menerima masukan.

 Kalau sudah merasa diri paling baik, paling bisa, dan berpikir bahwa masukan adalah senjata… Kita hanya akan berjalan di tempat saja.

Tulisan ini saya buat juga untuk mengingatkan diri sendiri, yang kadang masih sulit menerima masukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s