Thoughts

Question Everything (5/30)

Test ideas by experiments and observations. Build on those ideas that pass the test. Reject the ones that fail. Follow the evidence wherever it leads, and question everything. Accept these terms, and the cosmos is yours. -Opening of Cosmos TV Series –

 Pertama kali saya mengenal serial TV adalah melalui sahabat saya, Danilah (really, there are so many exciting things that she introduced to me). Waktu itu entah kami bicara tentang apa, pokoknya Danz menyebut-nyebut tentang serial tv ini dan menyatakan kekagumannya akan Cosmos. Serial TV ini sendiri pertama kali dibuat tahun 1980an dengan naratornya Carl Sagan, yang menulis buku Cosmos. Kemudian di tahun 2014, serial TV ini dibuat ulang dengan naratornya Neil deGrasse Tyson. Saya baru nonton 1 episode saja, dan it’s already blowing my mind. Tapi tulisan ini bukan tentang serial TV tersebut. Tulisan kali ini terinspirasi dari kalimat pembuka Cosmos, yang saya kutip di awal tulisan.

 Follow the evidence wherever it leads, and question everything.

 Merinding saya ketika mendengar kalimat pembuka tersebut. Pertanyakan apapun. Bertanya bukan dalam rangka ngeyel tentunya, tapi untuk menjelajahi berbagai kemungkinan yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyakan semuanya, karena di situlah jawaban akan muncul, barangkali seperti itu. Kalau ilmuwan-ilmuwan kita jaman dahulu kala tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan, saya rasa kita akan terus hidup di zaman kegelapan. Kita akan terus bertahan pada pandangan : bumi lah pusat dari alam semesta. Kalau para ilmuwan itu tak memiliki berjuta pertanyaan, tak mungkin ada penemuan. Tak mungkin ilmu kesehatan maju sepesat saat ini. Barangkali kita masih menyemburkan air pada wajah orang yang sakit karena kita berpikir orang tersebut kesurupan (dan sayangnya sampai saat ini masih saja praktek ini dilakukan).

 Hanya saja sekarang ini saya lihat orang memilih berhenti bertanya. Orang memilih berhenti mengikuti ke arah mana bukti itu menunjukkan jalan. Kebanyakan orang memilih untuk tidak bertanya, hanya mengikuti apa yang menurut mereka sudah menjadi sesuatu yang benar, panutan. Dan karena mereka bersikap seperti itu, maka bertanya menjadi salah (bukankah ini seperti kembali ke jaman kekuasaan gereja di Eropa dulu? Di mana tidak boleh ada yang mempertanyakan apapun yang ada di dalam Injil? Tidak boleh mempertanyakan keputusan gereja?). Yang lebih gawatnya lagi, orang-orang semacam ini pun jadi gemar mencocok-cocokkan sesuatu dengan “aturan” atau “panutan” yang mereka percayai itu. Padahal belum tentu apa yang mereka cocokkan itu sesuai atau benar. barangkali masyarakat kita telah gila kemapanan sampai perlu memapankan diri dalam hal intelektual. Kalau kata Mohamad Sobary dalam tulisannya tentang kemapanan, “mapan secara intelektual berarti mandeg berpikir. Kreativitas tersendat. Daya nalar tumpul.”

 Ya, itulah yang terjadi. Daya nalar kita menjadi tumpul. Karena kita tidak lagi berpikir sendiri. Tidak lagi menggunakan apa yang sudah dberikan pada kita. Ketakutannya apa? Takut menjadi kafir atau murtad. Karena itu kemudian mereka tak lagi mempertanyakan segala sesuatunya. Sudah cukup menerima apa yang tertulis di kitab tuntunan. Cukup menerima apa yang menjadi perilaku dari orang yang menjadi panutan. Yang lain tak boleh ditiru. Yang ada di kitab tak boleh dipertanyakan. Bukti ilmiah dipasang-pasangkan, dicocok-cocokkan dengan ayat. Dan ketika sudah cocok, sudah selesai. Kalau tidak cocok, maka bukti ilmiah salah. Hasil pemikiran orang kafir yang tak percaya tuhan, yang tak memiliki agama. Tapi, kalau kemudian bukti ilmiah ini (yg tidak cocok pada awalnya) kemudian melahirkan bukti ilmiah berikutnya yang cocok dengan kitab/panutan, maka ia diterima dengan senang hati.

 Keberadaan acuan dan panutan membuat kita malas berpikir. Kita lebih memilih mengurung diri dalam gelembung-gelembung “keimanan” demi mendapat sesuatu yang dijanjikan, yaitu surga. Kita tidak berani menginjakkan kaki ke luar dari zona aman dan zona nyaman yang sudah kita pilih. Kita tidak berani mempertanyakan sesuatu karena takut dosa, takut dimurkai Tuhan. Kita merasa sudah memegang seluruh pengetahuan di muka bumi ini berbekal kitab panduan dan panutan kita. Akhirnya daya nalar kita menjadi tumpul. Amat sangat tumpul sampai cara berpikir dan gaya bicaranya pun tidak jauh beda dengan mereka yang memang sedari kecil tak pernah diajarkan untuk berpikir. Kita kehilangan daya nalar tapi kita bangga. Bangga menjadi masyarakat yang nurut, nurut dengan panutan, nurut dengan acuan.

 Barangkali memang kita sebagai manusia masih banyak yang belum merdeka. Kita tidak merdeka secara pikiran, karena kita masih saja didikte oleh acuan dan panutan saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s