Thoughts

Persiapan yang matang (3/30)

Tadi saya membaca artikel di websitenya National Geographic Indonesia tentang dugaan pengaruh radiasi antariksa pada struktur otak astronot. Dari judulnya, saya pikir memang ada penelitian yang melihat struktur otak astronot NASA, ternyata baru simulasi saja (pikir-pikir, ya iyalah! Untuk tahu struktur otak kan harus dilihat bentuk selnya, bagaimana caranya? Masa bedah otak para astronot lalu diambil selnya?) pada hewan tikus yang dikondisikan pada satu ruangan yang penuh dengan elemen pembentuk sinar kosmis. Menurut hasil yang dipublikasi di jurnal Science itu (akhirnya saya coba cari juga jurnalnya, meskipun Cuma bisa baca abstraknya saja huks), tikus yang dikenai radiasi sinar kosmis terus menerus selama 6 minggu mengalami penurunan kemampuan kognitif (menjadi lebih tidak peka dan kerap merasa bingung). Penelitian ini dilakukan karena NASA berencana untuk mengirimkan astronot manusia pertama pada misi menyelidiki planet Mars pada tahun 2030 nanti. Dari hasil penelitian awal ini (karena mereka akan melakukan penelitian-penelitian lanjutan), sinar radiasi kosmik membuat cabang dendrit pada otak tikus menurun hingga 30-40% yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif tikus tadi.

Space-Rocket-EmojiMenakjubkan! Apanya? Kegigihan penelitian tersebut. Rencana NASA mengirimkan awak astronot ke Mars masih 15 tahun lagi, tapi penelitiannya sudah dimulai dari sekarang. Kenapa? Karena apabila dari hasil penelitian ternyata menunjukkan bahaya yang diberikan lebih besar dari manfaat mengirimkan awak manusia ke Mars (rencananya astronot yang dikirimkan ke sana akan tinggal di mars untuk jangka waktu yang lama), maka kemungkinan besar misi ini akan dibatalkan. Bayangkan, persiapannya sampai berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Demi menjamin kesuksesan misi, dan keselamatan personil. Penelitiannya juga bukan sekali, bukan mendadak. Tapi, berkelanjutan. Karena penelitian yang berkelanjutan harapannya akan memberikan hasil yang menyeluruh. Seluruh aspek diperiksa, sehingga bisa ditarik kesimpulan yang sahih.

Bandingkan dengan… di negara ini. Saya juga nggak bisa menyalahkan para peneliti lokal, karena ternyata (saya juga baru tahu dari infografik AIPI), Undang-undang dan peraturan fiskal Indonesia melemahkan penelitian tahun jamak. Ya kalau begitu, bagaimana bisa ada penelitian berkelanjutan? Katakanlah dosen/peneliti ingin melakukan suatu penelitian yang memerlukan waktu 3 tahun lamanya. Karena undang-undang dan peraturan tersebut, ia harus memangkasnya menjadi setahun saja. Kemudian dia memasukkan proposal risetnya ke universitas atau kementerian. Proposalnya menang tahun ini, dia bisa melakukan penelitian (minimal tahap awal kan lumayan). Tapi, tahun depan proposal dia tidak mendapatkan dana. Jadi bagaimana? Otomatis terhambat. Bisa jadi malah tidak dilanjutkan. Akhirnya dosen atau peneliti pun malas membuat penelitian yang terpadu, yang tuntas. Kecuali ada sumber dana lain. Ya wajar saja kalau penelitian berkelanjutan atau penemuan di negara kita begitu rendah.

 Itu baru satu aspek tentang penelitian berkelanjutan. Aspek lainnya adalah persiapan yang matang. Sekali lagi saya katakan, NASA melakukan penelitian tentang efek radiasi sinar kosmik 15 tahun (barangkali lebih) sebelum misi dilaksanakan. Coba lihat program pemerintah kita. Jargonnya saja sengaja dibuat untuk mencerminkan bahwa kita punya target yang panjang, jauh ke depan. Sangking jauhnya, nggak keliatan lagi target itu ada di mana, dan lupa bahwa kita telah memasang target. Nanti tiba-tiba ketika sudah masanya si “target” dilakukan, tanpa ba-bi-bu, langsung dilakukan. Nggak jelas apakah sudah dipertimbangkan masak-masak, apakah sudah dilakukan analisa risiko, apakah ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa hal tersebut bisa dilakukan atau tidak, atau apakah harus ujicoba dulu, atau hal penting lainnya yang harus dilakukan demi pencapaian target.

 Bangsa ini memang senangnya dadakan. Seperti sambel saja. Apa-apa mendadak. Sering kan kita mendengar entah itu pemerintah atau organisasi atau apapun yang menetapkan waktu pemberlakuan suatu peraturan atau batas waktu suatu kegiatan dan tanpa sosialisasi yang jelas, tanpa analisa yang jelas, tiba-tiba jeng jeng, diberlakukanlah peraturan itu. Tidak peduli apakah seluruh lapisan yang terkait sudah siap atau belum melaksanakannya. Tidak peduli apakah semuanya sudah paham tentang peraturan tersebut.

 Sungguh saya merasa ada bagusnya juga Indonesia terlambat dalam banyak hal. Saya tidak terbayang kalau Indonesia memiliki program jelajah antariksa dengan tipikal orang dan pemerintahnya yang serba dadakan begini. Tanpa dasar yang jelas dan persiapan yang matang, jeng jeng meluncurlah roket ke luar angkasa. Pulang dari sana astronotnya gila (itu juga kalau roketnya bisa keluar dari bumi..jangan-jangan udah kebakar duluan karena dana pembuatannya dikorupsi), dan pemerintah angkat tangan. Nanti ribut sebentar lalu pengalihan isu.

 Nggak lah, kita belum siap. Tapi mungkin, nanti. Nanti bisa..kalau nggak keburu kiamat.

ps : bagi yang penasaran dengan jurnal penelitian yang saya maksud di awal tulisan, judul penelitiannya adalah “What happens to your brain on the way to Mars” (di websitenya Science Advances, paper ini pun bisa diunduh gratis)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s