Life

Ragam Buku (1/30)

Aloha! Ketemu lagi dengan saya di tantangan menulis selama 30 hari. Bukan saya yang mengadakan tapi NulisBuku.com yang mengajak kita semua untuk ikut menulis selama 30 hari di bulan Juni ini. Saya sudah lama tidak ikutan tantangan/ajakan menulis, jadi kesempatan ini sangat pas sekali. Pas untuk memicu saya yang malas menulis, dan pas bagi saya untuk melihat kembali tipe tulisan saya (yang masih pabalatak berantakan kacau balau bikin risau). Khusus untuk tulisan yang saya buat dalam rangka kegiatan #MenulisRandom30Hari saya akan menambahkan (x/30) pada judul sebagai penanda.

Anyway, saya ingin bercerita sedikit tentang kegemaran saya membaca buku (setelah seharian berpikir tidak terlalu keras, topik apa yang ingin saya tulis di hari pertama ini, apakah tentang kemiskinan dunia, gelombang panas yang mematikan, hari tanpa tembakau sedunia, atau kapan SK penerimaan saya di tempat kerja turun :p). Dalam dua tahun terakhir ini, ragam buku yang saya baca berubah cukup drastis. Saya banyak membaca fiksi karya pengarang lokal dan saya mulai melirik beberapa buku nonfiksi. Dulu, semasa SMP dan SMA saya suka membaca novel-novel karya pujangga lama dan pujangga baru. Bisa dibilang, saya paling sering mengunjungi perpustakaan sekolah, bahkan ketika tidak ada tugas menulis resensi dari guru Bahasa Indonesia. Saat teman-teman bacaannya komik serial cantik atau majalah remaja, saya (yang juga membaca majalah remaja) menambah bacaan saya dengan sastra lokal. books resized Tapi, kebiasaan itu berubah. Di bangku kuliah, saya mulai tertarik dengan novel roman dan fantasi. Mulailah saya berpetualang di dunia khayalan ala Harlequin, Historical Romance, dan Chicklit. Saya ingin bilang, masa-masa itu adalah masa kegelapan, tapi terlalu berlebihan, karena sepertinya memang pada saat itu saya tidak siap menerima sastra lokal. Novel-novel roman yang menjadi kesukaan saya itu tidak membuat saya berpikir, tidak membuat saya tertegun karena dekatnya dengan kenyataan. Mereka amat jauh dari kenyataan. Bukan hanya latar tempat cerita yang jauh dari negeri sendiri, tapi juga latar waktunya. Cerita-cerita yang saya sukai mengambil latar waktu abad ke-10 sampai abad ke-19. Wanita-wanita dengan gaun, pesta dansa, atau pria-pria Highlander yang gagah dan wanita-wanita menggemaskan yang keras kepala. 10 tahun saya membaca novel-novel seperti itu (diselingi novel fantasi, yang kalau bisa ada naganya, kalau saya sudah bosan membaca cerita cinta), tidak ada rasa tertarik sedikit pun untuk membaca sastra Indonesia. Apalagi nonfiksi. Berkutat dengan buku teks kuliah sudah membuat saya eneg melihat bacaan yang terlalu serius atau membuat saya berpikir. Yap, itu alasan saja, padahal saya memang malas. Saat itu. open book resized

Tapi semua berubah saat negara api menyerang saat sahabat saya mulai mengulik sastra lokal dan melalui obrolan-obrolan kami, saya yang mudah terpengaruhi ini akhirnya penasaran. Apa yang dibaca sahabat saya, akan saya cari di toko buku dan saya baca juga (waktu itu kami tinggal di kota yang berbeda, sekarang juga sih, makanya susah untuk pinjam meminjam). Mungkin akhirnya semesta pun mendukung, karena kemudian saya memang betul-betul tertarik dengan sastra lokal. Malah keranjingan! Kalau saya ke toko buku, saya akan menghampiri rak sastra lokal terlebih dahulu sebelum melihat rak buku lainnya. Bentuk dukungan semesta lainnya adalah saya jadi banyak berinteraksi dengan teman-teman lain yang penggemar berat sastra dan mereka mulai menyarankan saya untuk membaca buku ini dan itu. Malah, sekarang kami jadi saling bertukar informasi. Buku apa yang bagus, mana toko buku yang sedang diskon, bahkan sampai : kalau pemilik buku meninggal dunia, itu koleksi buku mau diwariskan ke siapa. Menyenangkan sekali.

 Lucu juga sebenarnya. Akibat dari ragam bacaan saya yang bertambah, saya jadi banyak berinteraksi dengan teman dan kenalan yang dulunya tidak terlalu dekat (bahkan mungkin saya agak enggan dekat-dekat karena terlalu serius pembicaraannya :p). Padahal kami tidak melulu membicarakan buku, seringnya membicarakan hal remeh temeh lainnya. Tapi ada sesuatu yang berubah. Barangkali saya lah yang berubah, secara mental lebih siap mencerna sesuatu yang dekat dengan kenyataan, sesuatu yang membuat berpikir, sesuatu yang membuat merenung. Bertambahnya ragam bacaan ini memang sedikit banyak berpengaruh atau dipengaruhi oleh keadaan mental saya. 10 tahun yang lalu saya tidak pernah berpikir ragam bacaan saya akan bertambah ke ranah sastra lokal, bahkan tidak 3 tahun yang lalu. Kalau pergi ke toko buku, saya seperti pakai kacamata kuda, langsung menuju bagian novel roman. Beda sekali selama 2 tahun ke belakang ini. Saya mulai berputar-putar di toko buku, memilih-milih novel lokal mana yang akan saya baca, melirik buku nonfiksi, bahkan sampai belanja buku melalui toko buku online di teman saya. Saya jadi kenal A.S Laksana, Okky Madasari, Arafat Nur, Y.B. Mangunwijaya (meskipun baru sedikiiit), Eka Kurniawan, Ayu Utami (astaga, saya kemana aja dulu!).

 Saya tidak malu mengakui ini. Karena memang tidak ada yang membuat saya malu. Hanya saya menyayangkan, kenapa baru sekarang ini ragam bacaan saya bertambah, kenapa tidak dari dulu? Mungkin ini seperti yang Pak Paulo Coelho bilang, Maktub! Memang sudah saatnya terjadi. Sudah saatnya saya berevolusi. Apakah saya meninggalkan novel roman yang dulu saya gandrungi itu? Tidak. Sesekali saya masih membaca novel roman. Karena hanya melalui novel-novel itu saya bisa merasakan romansa yang singkat dan tidak memberi beban.

Advertisements

2 thoughts on “Ragam Buku (1/30)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s