Resensi

KAMU : Cerita yang tak perlu dipercaya

Tapi, mungkin, seseorang baru merasa bermakna jika hidupnya dikaitkan dengan orang lain (hal.58)

 Novel ini sampai ke tangan saya atas saran dari Kak Hengki (yang juga menjual novel :p) beberapa bulan lalu. Sama seperti Murjangkung, saya agak takut membaca novel ini gara-gara ada kata “Hantu” di bab pertama. Sungguh saya benci Hantu dan saya lebih membenci lagi ketakutan tak berdasar yang saya rasakan terhadap Hantu. Akhirnya, rasa penasaran membunuh rasa takut akan hantu (dan kemalasan untuk memulai membaca Madilog, huks). Mulailah saya membaca KAMU. Dan saya tak bisa berhenti.

Jpeg
Jpeg

Kisah utamanya sebenarnya hanya berdasarkan jalan hidup “Aku” selama 3 hari ketika ia membolos sekolah bersama “Kamu.” Di hari pertama ia diminta mengantarkan Kamu ke rumah teman ayahnya dimana Aku mengalami trans saat terjadi kemacetan di jalan. Di hari kedua ia menemani mantan pacarnya ke rumah sakit. Dan di hari ketiga ia menemani Kamu berkencan dengan kecengannya, sampai mereka bertiga pergi ke Pelabuhan Ratu. Selama tiga hari itu, tokoh Aku banyak mendapatkan pengalaman batin, dan sepertinya dia banyak mengalami kondisi trans. Kebersamaannya dengan Kamu yang intens selama 3 hari, membuat hidupnya sedikit bergeser. Setidaknya pandangan hidup Aku sedikit bergeser. Karena kebersamaan itu pula lah tokoh Aku akhirnya memulai kebiasaan menulis, karena Kamu bilang, “menulis adalah satu-satunya cara untuk bisa memetakan perasaan dan pikiran.” Dan kebiasaan dibawa oleh Aku hingga ia bekerja.

Novel ini sederhana tapi sangat berkesan. Saya tenggelam dalam karakter Aku yang cuek dan cenderung apatis melihat dunia. Meskipun penekanan novel ini ada pada tokoh “Kamu”, tapi saya merasa ada kedekatan dengan “Aku”. Aku begitu santai, sementara Kamu selengean. Pesan-pesan yang terkandung dalam novel ini juga tidak terlalu menggurui, meskipun tentu ada beberapa yang menggurui dan disampaikan oleh tokoh yang juga berperan selayaknya guru. Pemikiran-pemikiran yang tertuang sepanjang jalan cerita sama seperti apa yang saya pikirkan selama ini. Atau yang pernah terbersit dalam benak saya. Setidaknya begitu.

Saya tidak tahu apakah KAMU adalah novel pertama Sabda Armandio atau bukan, tapi saya ingin penulisnya menerbitkan buku yang lain. Untuk penulis muda, tulisannya sangat berbeda dari penulis lainnya, dan saya angkat 2 jempol tangan untuk Sabda Armandio.

 Jika nggak ada lagi yang bisa dipercaya, kau mau percaya siapa lagi selain dirimu sendiri? (hal.323)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s