Thoughts

Pikir, Periksa, Bagikan

 Note : Tulisan ini saya buat sebagai cermin dan pengingat.

 Pikir, Periksa, Bagikan! Ya, akhirnya setelah setengah jam berpikir apa judul yang pas untuk tulisan ini, ketemu juga judul yang pas (dan setelah beratus kata saya hapus, karena terlalu menyebalkan). Apa yang mengilhami saya membuat tulisan dengan judul seperti itu? Sebenarnya saya sudah gatal ingin mengeluh dengan kebiasaan para pengguna media sosial (bahkan mungkin saya pun pernah melakukan hal serupa) yang mudah sekali membagikan suatu artikel tanpa memeriksa dulu isi artikel dan kebenaran dari artikel itu sendiri. Ada yang begitu saja membagikan artikel tanpa terlebih dahulu melihat isi artikel (ya, begitu melihat judul yang sensasional, langsung membagikan artikel. Padahal wartawan sengaja membuat judul yang heboh meski isinya jauh berbeda dengan judul). Ada yang sudah membaca isi artikel tapi tak memeriksa kebenaran artikel tersebut. Pokoknya selama yang menulis atau narasumbernya ada gelar profesi atau memiliki gelar pendidikan yang cukup tinggi, maka kebenaran artikel tersebut tak perlu dipertanyakan lagi.

Dampaknya apa? Begitu cepatnya persebaran artikel dari satu pengguna media sosial ke pengguna lainnya. Dari satu jenis media sosial ke media sosial lainnya. Cepat sekali seperti replikasi virus. Belum lagi kalau pengguna media sosial yang membagikan artikel tersebut memiliki pengikut yang banyak, atau dia adalah orang terpandang. Woh…bagaikan api yang melalap rumah, dalam hitungan menit jumlah “like” terkumpul banyak, dan yang “share” artikel itu tambah banyak lagi. Terus berkembang berkembang berkembang sehingga orang yang tadinya tidak tahu menahu akan merasa bahwa artikel tersbeut benar! Bagaimana tidak? Yang membagikan banyak!

Saya jadi ingat sahabat saya pernah bilang : kesalahan yang dilakukan bersama akan menjadi kebenaran. Karena banyak yang membagikan artikel (yang tidak jelas kebenarannya), maka orang akan berpikir artikel itu benar. Apalagi kalau tak ada yang menyanggah. Apalagi kalaupun ada yang menyanggah, orang tersebut tidak punya pemahaman yg sama dengan mereka yang setuju dengan artikel tersebut. Apalagi kalau sudah bawa-bawa urusan agama. Apalagi..apalagi.. Apa lagi?

Maka ketimbang menunjuk sana-sini-sono-sunu, izinkan saya untuk memberikan sedikit tips bagi Anda para pengguna sosial media.

 1. Pikir

Sebenarnya nomor 1 dan 2 bisa berubah posisinya. Bisa Anda periksa dulu baru Anda pikirkan, bisa juga sebaliknya. Kalau saya biasanya memakai metode “Pikir” terlebih dahulu. Saat Anda melihat suatu berita atau artikel, pikirkan terlebih dahulu apakah informasi yang Anda baca itu masuk akal atau tidak? Hal ini menjadi penting terutama pada bidang-bidang kesehatan (ya karena saya orang kesehatan, jadi ini concern utama saya). Tuhan memberikan Anda kemampuan untuk berpikir, maka gunakanlah sebaik-baiknya. Jangan seperti kerbau dicocok hidungnya, setiap artikel yang Anda baca kemudian Anda anggap benar. Nah, kalau Anda sudah berpikir dan masih ragu apakah artikel itu benar atau tidak, maka Anda bisa melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu : Periksa

2. Periksa

Periksa kebenaran isi artikel. Bagi Anda yang memiliki akses ke referensi ilmiah, Anda bisa cek ke referensi ilmiah tersebut. Atau ada website-website yang resmi tempat Anda bisa menggali informasi. Atau Anda bisa bertanya pada teman atau kenalan yang kira-kira bisa membantu Anda untuk memeriksa kebenaran informasi dari artikel atau berita yang Anda baca. Banyak cara untuk melakukan pemeriksaan, NAMUN hal ini membutuhkan waktu. Bisa satu jam, bisa satu hari, bisa berhari-hari. Masalahnya, apakah Anda cukup sabar untuk menggali informasi atau tidak?

3. Bagikan

Kalau Anda sudah yakin dengan kebenaran isi artikel atau berita tersebut, dan Anda merasa bahwa artikel/berita tersebut akan memberi manfaat bagi orang banyak, maka Bagikan! Bagikan dan sisakan ruang untuk diskusi, karena mana tau ada yang memiliki referensi lain mengenai artikel tersebut. Bisa sifatnya mendukung atau menyanggah. Kemudian terserah pada Anda, apakah berdiskusi, berdebat, atau diam saja.

 Tapi, intinya adalah 3 hal tadi. Pikir, Periksa, Bagikan. Terutama untuk artikel-artikel yang berhubungan dengan kesehatan (meskipun berlaku juga untuk hal-hal berbau politik, ekonomi, agama, sosial budaya, dll). Karena banyak sekali artikel kesehatan yang dengan semena-mena dibagikan oleh para pengguna media sosial tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenarannya.

Teknologi sudah semakin canggih, informasi sangat mudah kita dapatkan (bahkan kita yang dibanjiri oleh informasi), jangan sampai kita menumpulkan ketajaman berpikir dengan melakukan kebiasaan membagikan berita/artikel tanpa dipikir dan diperiksa terlebih dahulu kebenarannya. Jangan sampai kemampuan berpikir yang sudah dengan baik hati Tuhan berikan pada kita, menjadi tumpul karena kita tidak menggunakannya lagi.

Terakhir, saya ingin mengutip closing statement dari Mata Najwa Episode Generasi Pembelajar (28 Mei 2015) :

Generasi pembelajar adalah generasi yang tak saja mendapat pengetahuan namun juga pemahaman. Generasi ini lebih baik belajar mengerti agar lebih bijak pula memahami. Menjadi pribadi dengan pikiran penuh keterbukaan, bukan penghafal diktat yang sekedar taat. Terus belajar dan mencari selagi muda, tidak hanya ikut dengan Cuma-Cuma dan tanpa bertanya. Jangan takut salah dan berbuat alpa, sebab dari situ para pembelajar bisa dewasa. Karena hidup adalah rangkaian tanya demi tanya, dan generasi pembelajar selalu berusaha mencari jawabnya.

Warm regards,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s