Resensi

Harun dan Samudra Dongeng

Apa intinya memberi orang kebebasan berbicara jika kau lalu berkata mereka tak mendapat hak yang sama? Bukankah kekuatan pembicaraan adalah kekuatan paling besar? Dan itu mesti terus dilatih?

 Tidak salah saya membeli novel “Harun & Samudra Dongeng” ini. Novel ini atau lebih tepat bila saya mengatakan dongeng ini, menakjubkan dan sarat makna. Dongeng ini bercerita tentang Harun yang berusaha mengembalikan kemampuan ayahnya untuk mendongeng. Rasyid, sang ayah, kehilangan kemampuan itu ketika istrinya meninggalkan rumah. Jadilah Harun (yang menemani Rasyid ke kampanye salah satu partai untuk mendongeng-padahal Rasyid tidak bisa mendongeng) bertualang ke negeri sumber dari segala dongeng, bertemu dengan Jin dan Ikan ajaib, tukang kebun terapung, burung bul-bul mekanik yang cerdas, dan penduduk negeri dongeng yang cerewet dan tak bisa berhenti bicara. Pada saat kunjungannya itu, ternyata di negeri dongeng sedang terjadi bencana Samudra dongeng tercemar oleh racun yang disebarkan oleh negara tetangga. Negara yang penug kegelapan dan dikuasai oleh orang jahat yang membenci dongeng dan melarang seluruh rakyatnya untuk bicara. Harun bersama teman-teman negeri dongengnya (dan ada juga Rasyid di situ, yang mengapa bisa muncul di negeri dongeng harus anda baca sendiri di bukunya) berusaha mengalahkan penguasa jahat dan mencegah semakin tercemarnya samudra dongeng.

 Dongeng ini sangat menarik. Dia cocok dibaca oleh anak-anak maupun orang dewasa. Ada sindiran-sindiran tajam kepada para penguasa (tapi tidak banyak, karena dongeng ini bukan dongeng politik) yang cerdas seperti terlihat pada kalimat berikut :

 Memang itu sering terjadi : Tuan Besar melakukan halyang dilarangnya dilakukan oleh orang lain.

 Ada juga rasa takjub dan haru yang muncul karena kegigihan Harun yang berusaha mengembalikan kemampuan mendongeng sang ayah. Meskipun terkadang Harun kesal dengan ayahnya yang selalu mendongeng, tapi bagaimanapun Harun sadar bahwa Rasyid tanpa dongeng adalah suatu perpaduan yang sungguh aneh lagi tak nyata (note : diucapkan dengan gaya bicara Cik gu Papa Zola dari Kartun Boboiboy). Bagi Harun, Rasyid tanpa dongeng bukanlah Rasyid.

 Dongeng ini juga mengingatkan kita bahwa bahagia itu sederhana. Kita bisa melihatnya pada Harun. Bagi Harun, bahagia adalah melihat Rasyid mendongeng. Bahagia adalah melihat penduduk kota yang selalu murung tempatnya tinggal bisa sesekali tersenyum. Sepertinya memang salah satu aspek kebahagiaan itu adalah melihat mereka yang dekat dengan kita, mereka yang berada di sekeliling kita bahagia, terseyum atau tertawa dengan lepas.

 Dongeng ini mengingatkan kita sebuah pelajaran lama, bahwa semuanya harus dilakukan dengan seimbang. Bicara itu tak masalah. Berpendapat bukan hal yang salah. Iya, memang berisik sekali kalau semua bicara, semua berpendapat, tapi tak mengapa. Setidaknya semuanya dikeluarkan, semua gagasan, keluhan, pertanyaan dilontarkan. Karena diam pun tak akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Tapi, kadang-kadang memang diperlukan keheningan. Kadang-kadang diperlukan tindakan tanpa bicara (atau tanpa terlalu banyak bicara). Tidak ada yang lebih baik, bicara atau diam. Semuanya harus seimbang.

 Saya tidak tahu apakah “Harun& Samudra Dongeng” masih beredar di toko-toko buku. Kalau ya, segeralah miliki dongeng ini, dan jadian ia salah satu koleksi. Pinjamkan atau bacakan pada anak-anak kecil, adik-adik remaja, atau teman-teman (tentu saja dengan catatan buku yang dipinjam harus dikembalikan, kalau tak kembali, ganti degan buku yang sama).

Selamat mencari di taman bacaan atau toko buku terdekat di tempat Anda 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s