Resensi

Dari Murjangkung sampai Maryam

Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya urusan penulis adalah menghapus ingatan dari apa-apa yang sudah pernah ia bikin. Ia hanya memusatkan perhatian pada bagaimana melahirkan karya sebaik-baiknya.

(Kata pengantar pada Murjangkung)

 Dalam sepekan terakhir, saya membaca 3 buah buku. Murjangkung (A.S Laksana), Pohon-Pohon Sesawi (Y.B. Mangunwijaya), dan Maryam (Okky Madasari). Ketiganya buku yang bagus, ketiganya membuat saya terpana. Ketiganya membuat saya ingin membaca karya-karya lain dari masing-masing penulis. Berikut adalah sedikit ulasan abal-abal saya tentang 3 buku tersebut.

Murjangkung (A.S. Laksana)

Entah apa yang ada di dalam benak saya ketika memutuskan untuk membeli buku ini. Yang jelas waktu itu saya ingin membaca lebih banyak tulisan dari penulis Indonesia. Murjangkung adalah sebuah kumpulan cerita, kumpulan cerita kedua karya A.S. Laksana (yang pertama sudah saya pesan juga dan bulan Juni nanti akan sampai ke tangan saya, Insya Allah). Saya sempat ragu dan menunda membaca kumpulan cerita ini karena ada tulisan “cinta yang dungu dan hantu-hantu” tepat di bawah judulnya. Saya takut dengan hantu, takut sekali. Tapi, saya akhirnya memutuskan untuk membaca, dan ternyata tidak ada penggambaran tentang hantu mainstream yang saya pikirkan. Setiap cerita yang saya baca dalam buku ini membuat saya terperangah. Selesai membaca satu cerita pendek, saya akan berseru, “Edan!” Memang penulisnya edan, cerdas! Dengan gaya menulis yang lugas dan sinis, ceritanya enak sekali dibaca. Ada kesan kelam juga yang saya dapat. Beberapa hari setelah saya selesai membaca, barulah saya ngeh kenapa ada tagline “dan hantu-hantu”, karena memang pada beberapa cerita, sebenarnya hantu si tokoh utamalah yang bercerita! Alangkah bodohnya saya baru menyadarinya (tapi tak mengapa, kalau saya sadar di tengah-tengah membaca, pasti tidak saya lanjutkan membacanya). Yang membuat saya penasaran adalah mengapa penulis sangat suka menggunakan nama “Alit” dan “Seto”, karena banyak sekali cerita pendek yang tokohnya bernama Alit dan Seto, meskipun tak ada hubungan antara satu cerita dengan cerita lain (nampaknya begitu). Tapi, tak perlu ditanyakan pada penulis, karena 1) hal tersebut adalah hak penulis (terserah dia mau pakai nama siapa), dan 2) nama yang sama tak mempengaruhi jalan cerita (kecuali Anda OCD parah).

murjangkung

 Dari 20 cerita pendek yang ada di buku ini (sebenarnya saya menyukai semuanyaaaa), yang paling saya sukai adalah : Otobiografi Gloria, Teknik Mendapatkan Cinta Sejati, Dua Perempuan di Satu Rumah, Lelaki Beristri Batu dan Kisah Batu Menangis. Kalimat yang paling saya suka adalah :

“Ketahuilah, wahai Asu, bahwa menumbuhkan rasa cinta itu tidak mudah. Bahkan jalan paling mudah pun sama sekali tidak mudah,” (Lelaki beristri batu, hal. 132)

Pohon-pohon Sesawi (Y.B. Mangunwijaya)

Jpeg
Jpeg

Kalau buku ini, saya tahu kapan membelinya. Waktu itu masih di Jakarta, ingin mencari satu novel fantasi tapi ternyata tidak ketemu, dan prinsip saya : tidak boleh keluar dari toko buku tanpa membeli buku (makanya cepat bangkrut!). Sudah lama saya melirik novel Burung-burung Manyar dan Burung-burung Rantau karya Y.B. Mangunwijaya, tapi saya ragu membelinya. Saya ragu saya akan menyukai ceritanya. Jadi, untuk test read, saya membeli Pohon-Pohon Sesawi. Saya rasa, untuk diri saya sendiri, Pohon-Pohon Sesawi adalah salam perkenalan yang sangat jitu. Novel ini membuat saya ingin membaca karya penulis yang lain. Gaya berceritanya itu yang membuat saya suka (tapi kata teman, di novel yang lain, beda gaya berceritanya. Tak mengapa, saya kadung jatuh cinta pada Y.B. Mangunwijaya). Sering saya tergelak membaca bab demi bab, cerita demi cerita, lelucon demi lelucon. Pohon-Pohon Sesawi memberikan sedikit gambaran pada kehidupan pastoral Romo Mangun, dengan jemaat-jemaat, dengan sesama pastor. Banyak kisah lucu, ada juga cerita yang membuat saya terdiam merenung. Seperti pada bab ketika tokoh Romo Yunus bertanya pada Suster Agnes adakah penyesalan karena tak akan pernah bisa berumah tangga dan memiliki anak sendiri. Jawaban dari Suster Agnes membuat saya meneteskan air mata. Jawaban Suster Agnes barangkali adalah jawaban yang ada di hati saya juga. Makanya saya bisa meneteskan air mata haru. Melalui novel ini, saya menangkap pesan (yg mudah-mudahan tidak salah) dari Romo Mangun untuk tidak terlalu serius dalam menghadapi hidup. Semua ada humornya (kalau kita bisa jeli menangkap humor itu), semua menggelikan. Tapi dalam humor tersebut ada hikmah yang dapat diambil, ada pelajaran yang selalu bisa membuat kita menjadi lebih baik.

 Ada beberapa kalimat yang saya suka di novel ini, salah satunya adalah :

Dan jangan marah kalau ada orang dosa bertobat. Jangan cemburu kalau Tuhan berbaik hati. Juga jangan iri kalau ada orang lain berbuat baik kepada orang lain.

(Ulat kecil di daun-daun jarak, hal.16).

 Maryam (Okky Madasari)

Novel terakhir yang saya baca (saya belum melanjutkan ke novel yang lain) adalah Maryam. Saya membutuhkan hanya setengah hari untuk membaca novel ini (padahal novel yang lain bisa 2 hari, karena saya teralihkan dengan serial tv dan media sosial). Rasanya saya tak ingin berhenti membaca Maryam. Kalimat demi kalimat meleburkan saya dengan dunia Maryam, membuat saya ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Maryam mengisahkan kehidupan seorang gadis yang lahir di keluarga Ahmadi (mereka yang mengikuti aliran Ahmadiyah) dan tentang kejadian pengusiran jemaat Ahmadiyah di Lombok yang terjadi beberapa tahun lalu. Bagi saya, membaca Maryam seperti membuka kembali folder pertanyaan yang dulu saya tanyakan (dalam hati) ketika melihat berita tentang pengusiran jemaat Ahmadiyah (atau berita tentang jemaat Syiah). Mengapa mereka harus diusir? Mengapa rumah mereka harus dibakar? Kalau keyakinannya salah, apakah kemudian mereka tak berhak hidup? Tak berhak tinggal? Data apa yang dipakai untuk membuktikan mereka berusaha mempengaruhi warga sekitar untuk ikut keyakinan mereka?

 Membaca Maryam membuat saya geram, membuat saya sedih, membuat saya bertanya-tanya. Bahkan sampai akhir buku, pertanyaan itu tetap ada, sama seperti tokoh Maryam yang terus bertanya. Di akhir cerita, ketika seorang wartawan bertanya pada seorang perempuan Ahmadi kenapa ia tidak meninggalkan keyakinannya, perempuan itu menjawab, “Namanya juga sudah yakin, semakin susah semakin yakin kalau benar.” Ya, bukankah itu juga yang menjadi pegangan dari tiap-tiap orang yang memiliki keyakinan?

 Itulah 3 novel yang sudah saya baca dalam sepekan ini. Novel berikutnya yang saya baca masih dalam proses pemilihan (soalnya saya suka bingung sendiri mau baca yang mana, berhubung masih banyak yang belum dibaca). Dan ada kabar gembira juga, bulan depan novel-novel pesanan saya yang lain akan sampai ke kota ini, bersamaan dengan datangnya salah satu teman kemari 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s