Resensi

Sarinah (Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia) – Ir. Sukarno

Belajarlah mengerti, bahwa soal wanita adalah soal kita yang teramat penting. Belajarlah menilaikan wanita itu sebagai elemen mutlak dalam perjuangan kita.

Sebelum saya memulai ulasan abal-abal ala saya, saya ingin sedikit menjelaskan kenapa saya bisa memiliki Sarinah cetakan ketiga ini (tahu 1968). Buku Sarinah ini adalah milik almarhum kakek saya. Beberapa tahun yang lalu (ketika itu almarhum kakek sudah meninggal dunia), saya iseng-iseng melihat koleksi buku kakek dan saya menemukan beberapa buku bagus, salah satunya adalah Sarinah ini. Waktu itu saya tertarik dengan buku ini karena dua hal : 1) ia ditulis oleh Sukarno (dan saya cukup takjub karena kakek punya buku ini di antara buku-buku agama); 2) buku ini membahas tentang perempuan. Meskipun telah beberapa tahun Sarinah mendekam di rak buku saya, baru di tahun 2015 inilah saya membacanya.

Di awal-awal saya membaca Sarinah, entah beberapa kali saya berseru, “Benar sekali!” Apanya yang benar? Ialah pandangan tentang kaum perempuan yang menjadi barang kepemilikan lelaki, yang menjadi pajangan, dengan dalih “dijaga dan dirawat” dan “berlaku sesuai kodrat alamnya seorang wanita.” Saya yang memang tidak suka terhadap pandangan yang seperti itu, jadi berapi-api. Apalagi di bab-bab awal yang menceritakan sejarah kedudukan perempuan di masyarakat. Wah, saya begitu menggebu ingin menuliskan pandangan saya pada saat itu juga (padahal buku belum selesai dibaca, belum ketauan maksud penulisnya apa). Sukarno mengawali buku ini dengan apik. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ia mengawalinya dengan menceritakan kedudukan perempuan di masyarakat. Sukarno pun memasukkan pandangannya terhadap hal tersebut, ia tidak suka perempuan dijadikan dan diperlakukan layaknya barang. Tidak! Perempuan lebih dari itu. Maka ia mulai menceritakan sejarah perempuan, sejarah matriarki dan patriarki serta perbandingan kedua sistem tersebut. Sempat saya berpikir, “Ah ya tentu saja dia lebih mendukung sistem patriarki, dia kan lelaki.” Tapi, ternyata tidak semata karena lelaki, Sukarno mendukung sistem patriarki, dan ternyata tidak juga ia mendukung mentah-mentah dan bulat-bulat terhadap sistem patriarki tersebut. Sukarno tidak mendukung sistem manapun yang memperbudak salah satu pihak. Patriarki lebih baik menurutnya, tapi patriarki yang memperbudak kaum perempuan tidak ia setujui.

 Namun, tentu saja sistem patriarki di milenium yang lalu adalah sistem patriarki yang memperbudak kaum perempuan. Sukarno kemudian menceritakan bagaimana kaum perempuan mulai bergerak untuk keluar dari perbudakan sistem patriarki ini. Sedikit ia ceritakan awal mula pergerakan kaum perempuan sejak abad ke 17 dan apa yang dituntut oleh perempuan di masa itu. Tergetar hati saya membaca perjuangan-perjuangan kaum perempuan di Prancis demi mendapatkan hak mereka. Sukarno menceritakannya dengan amat sangat baik (bahkan kesan dramatisnya pun dapat). Kisah perjuangan ini tidak tuntas di situ saja, tapi juga berlanjut ke abad berikutnya, bahkan Sukarno menjelaskan tahapan-tahapan perjuangan kaum perempuan, dan tahapan mana yang menurutnya paling baik (serta sudah sampai tahapan mana perjuangan kaum perempuan di Indonesia pada tahun ia menulis buku Sarinah ini, tahun 1947). Ketika menceritakan kisah perjuangan kaum perempuan dan bagaimana kaum perempuan di berbagai negara ikut andil dalam perubahan besar yang terjadi di negara mereka, Sukarno berusaha mengobarkan semangat pada pembaca wanita agar tergugah untuk mengikuti jejak para perempuan tersebut. Mengapa?

Karena Sarinah adalah buku propaganda bagi kaum perempuan Indonesia. Dibakarnya semangat para perempuan yang membaca buku ini,dengan harapan agar mereka ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI dan, setelah kemerdekaan itu berhasil dipertahankan, membangun bangsa. Hal ini disampaikan di bagian akhir buku ini. Dengan mencontoh perjuangan kaum perempuan yang telah lalu, Sukarno berharap perempuan Indonesia pun tidak hanya berpangku tangan dan menjadi barang pajangan kaum pria, tapi ikut dalam perjuangan. Ya, Sarinah, surprisingly buat saya, adalah buku propaganda, yang diramu dengan apik dan cerdas oleh Sukarno. Buku ini bukan semata untuk membela kaum perempuan saja, tapi buku ini pun meminta perempuan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang diinginkan oleh Presiden RI kita yang pertama itu. Cerdas sekali.

 2015426203348

Meskipun demikian, buku ini sangat baik untuk dibaca oleh perempuan di zaman manapun. Sarinah mampu membuat perempuan menyadari bahwa ia lebih dari sekedar kodrat kewanitaan yang selalu didengung-dengungkan oleh masyarakat. Sarinah mampu membuat perempuan setidaknya berpikir, apa yang terjadi pada dirinya dan kaumnya, dan apa yang mungkin bisa ia lakukan. Minimal, kalau perempuan yang membaca buku ini tak tahu apa yang harus dia lakukan, ia tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan.

Setelah membaca Sarinah saya sendiri jadi betul-betul paham kenapa wanita disebut sebagai agent of change. Kenapa beberapa LSM yang fokusnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat menggandeng wanita di komunitas yang ia bina. Tadinya, meskipun sudah saya baca booklet LSM tersebut, tetap saja saya tidak mengerti, tapi setelah membaca “Sarinah” saya baru mudheng. Dengan dilibatkannya dan terdidiknya kaum wanita di komunitas tersebut, maka kaum wanita akan terpikir dan berusaha untuk mengubah kondisi dimana ia hidup. Ia akan mengajak rekan-rekannya, saudaranya, tetangganya untuk ikut dalam perubahan. Karena secara alamiah wanita adalah makhluk yang peduli sehingga dia tidak akan membiarkan kondisi di sekelilingnya terpuruk. Karena secara alamiah wanita adalah makhluk yang komunal, jadi dia pasti akan mengajak sekelilingnya untuk ikut berbuat.

 Dan setelah membaca Sarinah, saya rasa juga sudah saatnya kaum perempuan berhenti saling menyerang sesama mereka. Bukannya membawa kemajuan malah membawa kemunduran saja. Sudah saatnya kita saling membantu, saling memberikan solusi. Jangan sampai kita kembali menjadi pajangan, menjadi benda kepemilikan.

 Mengakhiri ulasan abal-abal ini, saya mengutip tulisan Sukarno di akhir buku “Sarinah”

Kita berjuang terus dan berusaha terus, dan tak memperdulikan soal “dimana” atau “kapan” batu-batu tandanya zaman bahagia bagi kemanusiaan itu akan dipasang.

Dan jikalau kita, jatuh di padang perjuangan ini, maka turunan-turunan kita mengisi tempat kita itu. Dengan demikian kita jatuh dengan keinsyafan, bahwa kita telah memenuhi kewajiban kita sebagai manusia, dan dengan keyakinan, bahwa tujuan kita pasti nanti tercapa, bagaimanapun juga musuh-musuhnya kemanusiaan menentang tercapainya tujuan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s