Resensi

Kukila (M. Aan Mansyur) -Sekilas Ulasan-

Aku mencintainya, seperti burung kepada angin yang membantunya terbang. Seperti penulis kepada huruf-huruf yang membuatnya dibaca. Seperti sungai kepada laut yang menampung lelah perjalanannya. Seperti laut kepada langit yang menjatuhkannya dan mengisapnya berkali-kali.

 Untuk menyeimbangkan kegemaran saya membaca cerita cinta zaman dahulu kala (ya, saya lebih memilih membaca cerita cinta dengan latar belakang 1 milenium yang lalu), maka sudah beberapa hari ini saya membaca cerita-cerita yang ditulis oleh penulis lokal. Buku yang baru saja saya selesaikan adalah Kukila, sebuah kumpulan cerita pendek karya M. Aan Mansyur. Ada 16 cerita pendek yang terdapat dalam buku Kukila, dan beberapa cerita memiliki kesamaan nama tokoh yaitu Kukila (meskipun ceritanya tidak saling berhubungan).

 Cerita pendek yang memukau perhatian saya adalah cerita yang diletakkan pertama kali, Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), yang seperti inception saja, dan entah kenapa saya merasa saya harus membacanya lagi. Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) begitu sendu tapi memukau. Sedih, tapi tidak membuat saya berhenti membacanya (biasanya saya tidak suka cerita yang sedih, karena hidup saja sudah sedih). Cerita pendek lain yang saya suka adalah Setengah Lusin Ciuman Pertama dan Aku Selalu Bangun Lebih Pagi. Dalam Setengah Lusin Ciuman Pertama memang betul-betul ada cerita amat singkat tentang enam ciuman yang dialami oleh tokoh utama cerita. Cerita pendek ini lucu dan membuat saya terkekeh-kekeh. Sementara itu Aku Selalu Bangun Lebih Pagi sedikit sedih dan membuat saya geram (ya, geram karena menurut saya penyelesaiannya mudah saja. Tapi, itu kan menurut saya).

imageAan Mansyur berhasil membuat saya, selama membaca kumpulan cerpennya, merasakan sedikit sendu. Gaya penceritaannya unik, berbeda dari yang lain (menurut saya yang awam). Di satu sisi, dia begitu lugas mengungkapkan, tapi di sisi lain seolah ada yang disembunyikan. Mungkin seperti luka yang dibalut berlembar-lembar plester penutup luka, tapi masih menetes juga darahnya.

 Begitulah, saya merasa beruntung karena mata saya akhirnya tak hanya tertuju pada cerita romansa yang begitu-begitu saja. Kalau tidak, saya tidak akan menemukan cerita-cerita yang jauh lebih bagus yang dikarang oleh anak negeri.

Sebagai penutup, ada satu petikan lagi dari cerpen Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) yang saya suka :

Kenangan, katanya, barangkali seperti perasaan sehelai kertas ketika seseorang menulis atau menggambar pohon di atasnya. Ia tidak ubahnya sehelai kertas dengan gambar penuh pohon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s