Novel · Resensi

Burung Terbang di Kelam Malam (Sekilas Ulasan)

Sejak saya membaca novel Lampuki karya Bang Arafat Nur,  saya jadi penasaran dengan novel-novel lain yang beliau tulis. Sehingga suatu hari saya mencari novel terbaru beliau dan (kalau) ada novel2 lamanya. Dari pencarian di sebuah toko buku online, saya berhasil mendapatkan Meutia Lon Sayang dan Burung Terbang di Kelam Malam. Baru-baru ini saya membaca Burung Terbang di Kelam Malam (BTKM)-berhubung buku yang satunya lagi sudah tenggelam di dalam kardus buku entah yang mana.

Membaca novel ini memang harus sabar-sabar sedikit. Apalagi tipikal orang seperti saya yang geram kalau membaca cerita dengan tokoh yg lembek, plin-plan,  nggak jelas maunya apa. Jadi saya menabahkan diri, karena saya menduga (dengan harapan mudah-mudahan dugaan saya tidak terlalu jauh meleset ke jurang) ada maksudnya penulis membuat karakter tokoh utama seperti itu. Semakin saya terlarut mengikuti alur ceritanya, semakin sering terkaget-kaget saya dibuatnya (dan terkekeh-kekeh juga). Saya kaget dengan scene-scene yang mengisyaratkan terjadinya hubungan seks di luar nikah. Padahal tokoh utama diceritakan tidak menyukai novel-novel picisan yg memuat adegan cabul, malah sendirinya berbuat cabul di mana-mana. Tokoh utama yang mau mengungkap kecabulan dan kebobrokan orang yang ia benci ternyata berkelakuan tidak jauh beda. Ditambah lagi, setting lokasi cerita ini adalah di Aceh (jadi kagetnya kuadrat).
image

Bagi saya, Bang Arafat Nur ini cerdasnya keterlaluan. Seluruh isi novel ini adalah sindiran. Sindiran tajam tapi halus sekali. Sejak membaca Lampuki saya merasa Bang Arafat Nur adalah orang yg membenci kemunafikan dan ia tuangkan kebenciannya itu dalam karyanya. Dalam BTKM, tokoh utama meskipun polos, dan sedikit berprinsip namun ia juga sering juga plin-plan karena cari aman (dan rasanya model semacam ini banyak ditemukan di Ujung Barat sini). Dia pun memiliki kemunafikannya sendiri seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Dia tidak menyukai novel roman picisan, tapi kelakuan dia sendiri tidak lebih baik dari novel yg ia benci itu. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam BTKM juga begitu. Persis sama. Ini adalah sindiran yg halus tentang perangai masyarakat sekarang ini (masyarakat yang mana,  di mana, dan sedanh berbuat apa, silahkan tentukan sendiri), yang membenci apa-apa yg berada di luar diri mereka, yang menurut mereka tidak baik, padahal kalau menengok ke dalam diri sendiri, ternyata tidak lebih baik atau malah bisa jadi lebih bobrok dari apa yang mereka benci itu. Tapi tetap saja mereka merasa dirinya benar, atau memberikan alasan-alasan yang membenarkan kealpaan mereka itu. Seperti Fais, tokoh utama kita yang seringkali minta dijitak.

Lalu ada keplin-planan Fais yang menurut saya oportunis. Ya, dia punya prinsip yang berusaha dia pegang, tapi tentu saja lihat situasi. Karena kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada prinsip. Karena nyawa juga lebih penting daripada prinsip. Mungkin mereka yang hidup di daerah lain tidak terlalu mengerti. Tapi yg tinggal dan hidup di Ujung Barat sini akan sangat mengerti (termasuk saya yang baru pindah ke sini dan diwanti-wanti setiap hari.) tapi, saya rasa hal ini juga bisa berlaku di tempat atau suasana lain. Karena bukankah banyak orang seperti itu sekarang ini?  Prinsip sih prinsip, tapi kalau besok nggak bisa makan, gadaikan saja prinsip itu barang satu dua hari. Besok-besok ditebus lagi setelah dapur bisa berasap. Yang penting bisa makan, bisa hidup dengan nyaman dan sejahtera. Semuanya cari aman.

Loh, kenapa saya yang curhat.

Itulah, membaca BTKM ini membuat saya merasakan banyak hal. Senang (karena humor satirnya, dan saya sangat suka humor satir), geram (karena sifat dan kelakuan Fais), tapi juga entah kenapa saya menyukai Fais padahal dia bobrok begitu. Mungkin karena Fais itu dekat di kehidupan nyata, dia riil. Dia adalah pria yang mungkin saja berwujud rekan kerja, abang penjual sayur, abang penjual kopi atau saudara sendiri. Mungkin juga karena terlepas dari bobroknya Fais, dia masih menyadari kalau dia bersalah, dan berusaha memperbaiki kesalahannya. Mungkin.

Maka saya perlu bilang sekali lagi. Bang Arafat Nur ini keterlaluan cerdasnya. Halus sekali cara dia mengkritik keadaan di sekitarnya. Dan membaca buku-buku dia membutuhkan lebih dari sekedar snorkling di permukaan, tapi harus menyelam jauh ke dalam.

Ps : bagian yang tidak saya suka dari novel BTKM ini adalah…
Untuk apa pula si Fais ini disukai banyak wanita. Entah ini fantasi lelaki atau memang menggambarkan sudah semakin sedikitnya pria baik-baik dan agak waras di dunia tempat Fais hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s