Resensi

Lampuki

Sebelum saya menceritakan apa yang saya rasakan tentang novel Lampuki ini, sedikit saya akan ceritakan perjalanan saya sampai bisa membaca Lampuki di tahun 2015. Novel “Lampuki” karya Bang Arafat Nur ini terbit tahun 2011, dan entah saya mendengar tentang novel ini di tahun yang sama atau tahun sesudahnya, tapi waktu itu saya sudah tertarik untuk membaca novel ini. Alasan pertama dan terutama mengapa saya tertarik adalah karena penulisnya dari Aceh, dan novel ini mengambil kisah masa konflik yang suram di daerah yang sama. Tapi, tahun itu saya tidak membeli novel ini karena ragu. Di tahun-tahun tersebut saya lebih memilih membaca novel dengan latar belakang abad pertengahan ketimbang membaca novel lokal.

Dalam dua tahun terakhir, bisa dibilang selera bacaan saya agak sedikit “meningkat” dan bertemu kembali lah saya dengan “Lampuki” melalui sahabat saya, Danilah. Bersyukur juga saya bisa berjumpa kembali dengan Lampuki karena novel ini sangat layak untuk dibaca.

Yang menggelitik saya sejak awal membaca buku ini (dan saya yakin Bang Arafat Nur memang sengaja membuatnya seperti ini adalah) begitu kentalnya nuansa kumis dalam cerita Lampuki. Belum apa-apa kita sudah disuguhkan dengan penjabaran tentang kumis dan betapa besarnya kekuatan yang dimiliki kumis itu. Saya tergelitik karena memang saya lihat pria Aceh banyak yang berkumis (terutama para bapak). Entah apa daya tarik benda yang bernama kumis itu. Hal lain yang menggelitik dari keberadaan kumis dalam novel Lampuki ini adalah di tengah-tengah plot yang serius, muncullah penggambaran kumis yang membuat saya terkekeh-kekeh atau bahkan tergelak. Seolah-olah kumis ini memang tugasnya adalah membuat suasana tegang menjadi cair atau meremehkan permasalahan yang dianggap berat. Kalau kata Bang Arafat Nur melalui akun twitternya, novel Lampuki ini seolah-olah terbuat dari kumis itu sendiri.

Hal lain yang menarik perhatian saya saat membaca novel ini adalah mental dari para karakter yang menyusun cerita Lampuki. Mental yang banyak omong kosong, yang merasa diri paling benar tapi tidak berbuat apa-apa untuk membenarkan keadaan, mereka yang mementingkan keselamatan sendiri, yang kesemuanya sebenarnya hanya menunjukkan pada satu jenis kepribadian : pengecut.

Menurut saya, Bang Arafat berhasil menonjolkan mental yang memang menguasai hampir seluruh manusia dewasa yang mungkin hidup di negara ini. Kadang pun saya merasa masih seperti itu. Tahu bahwa ada keadaan yang salah, tapi dengan alasan tidak mampu mengubah keadaan tersebut, hanya bisa diam dan mengomel di belakang. Atau bahkan menunjuk kesalahan orang lain hanya agar kesalahan diri sendiri tidak terekspos. Bisa dibilang, sejak bab pertama sampai terakhir, kegeraman saya muncul dengan konstan (meski sesekali kegeraman itu surut karena kemunculan kumis tebal seperti sapu injuk).

Novel ini memang penuh dengan humor satir dan sarkastis, yang membuat saya terkekeh-kekeh, apalagi saat membacanya saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana para tokoh itu berbicara (lengkap dengan dialeknya), maka makin hiduplah kisah Lampuki di benak saya.

Sayangnya novel ini sekarang sulit dicari di toko buku, dan sepertinya dia tak naik cetak lagi. Mungkin kalau Anda berminat untuk membaca novel ini, Anda bisa mencarinya di toko buku online. Yang jelas, Anda penggemar sastra, harus membaca Lampuki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s