Thoughts

1984

Saya sudah menulis dua paragraf untuk membahas novel 1984 yang begitu spektakuler tapi saya hapus lagi, karena entah apa yang mau saya bahas, entah apa yang saya tulis. Membaca 1984 membuat saya stress, tapi untungnya saya sudah bisa mengatur perasaan dan pikiran saya sedikit lebih baik daripada saya yang dulu (yang masih berusia awal 20-an). Saya tidak habis pikir dengan doktrin The Party pada anggota partainya untuk tidak mencurahkan perasaan apapun. Saya tidak habis pikir dengan doktrin The Party untuk tidak boleh memiliki rasa suka atau mencurahkan cinta kasih. Saya bahkan tidak habis pikir dengan kebohongan-kebohongan The Party.

1984 mengingatkan saya akan pentingnya mencurahkan perasaan (dan ternyata sahabat saya yang lebih dulu membaca 1984 juga mengambil kesimpulan yang sama), baik itu perasaan baik maupun perasaan buruk. Semua harus dicurahkan, semua harus diekspresikan. Yang menjadi penekanan adalah cara mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut. Marah yang kemudian diekspresikan dengan memaki, tentu saja tidak mengapa, asalkan tidak memaki di depan umum, atau kalau ingin marah pada si A, tidak memarahi A di depan orang banyak. Selain tidak santun, inti masalahnya juga jadi kabur karena ada unsur mempermalukan yang bersangkutan. Sebaliknya, kebahagiaan karena cinta yang diterima kalau diekspresikan dengan berlebihan, misalnya dengan berlari keliling kota sambil berteriak-teriak sepanjang jalan juga lebay.

Itulah yang membuat saya heran luar biasa, ketika saya mendengar ada golongan-golongan, organisasi-organisasi, atau ajaran-ajaran tertentu yang tidak menyarankan atau malah mungkin melarang anggotanya atau pengikutnya untuk mengekspresikan perasaan terutama perasaan negatif. Bukankah perasaan baik itu yang positif maupun yang negatif adalah bersumer dari Sang Pencipta? Dan bentuk bersyukur kita adalah dengan mengekspresikannya? Kenapa kemudian harus dipendam dan ditahan-tahan? Siapa mereka yang berhak menentukan mana yang harus diekspresikan, mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang tidak? Bukankah lebih mengerikan melihat seseorang, manusia yang masih sehat, yang masih menghirup oksigen dan darah masih mengaliur dalam tubuhnya, selalu dalam keadaan tersenyum? Kalau saya akan merasa sangat curiga dengan orang seperti itu. Kenapa? karena dia pasti menyembunyikan sesuatu di balik senyum tiada henti itu. Dia kemungkinan besar menyimpan kekejaman, karena semua perasaan “negatif” yang ia simpan,

1984 juga mengajarkan saya tentang menuangkan pikiran. Berpikirlah sebebas-bebasnya, tuangkan pikiran itu entah dalam buku harian, posting blog, atau artikel di koran. Karena hingga saat ini (kecuali ternyata suatu saat betul-betul terjadi seperti di kisah 1984), tak ada yang bisa mengendalikan pikiran. Ya, berpikir, memiliki ide, bisa membuatmu dibunuh, dimusnahkan, dilenyapkan. Tapi, selama pemikiran itu tertuang dalam suatu media, dan kamu titipkan pada seseorang, untuk disampaikan pada orang lain, pada generasi berikutnya, pemikiranmu tak akan pernah mati. Tulis apa yang kamu rasakan, Tulis apa yang kamu pikirkan. Tulis idemu, seabsurd apapun itu. Saya bukan aktivis kampus, bukan aktivis agama tertentu, tapi orang-orang besar yang kita kenal saat ini, adalah orang-orang yang menuangkan pemikirannya, yang tak berhenti berpikir. Yang terus merenung, bukan hanya tentang permasalahan eksternal, tapi juga internal dirinya sendiri.  Dan ini membawa saya pada kesimpulan terakhir mengenai 1984.

Semua yang sifatnya doktrinasi adalah buruk. 1984 menggambarkan betapa berbahayanya organisasi (dengan basis apapun) yang menjadikan doktrinasi sebagai inti dari ajarannya. Yang tidak membolehkan pengikutnya belajar atau mencari informasi dari dunia luar. Yang mengharamkan atau menjelekkan semua informasi yang datang dari luar pengurus organisasi tersebut. Yang membuat anggotanya tidak percaya selain daripada pemimpin organisasi. yang membuat pengikutnya hanya patuh pada organisasi atau ajaran organisasi. Yang membuat saya bingung, kalau orang yang tidak berpendidikan menelan mentah-mentah suatu doktrin, masih masuk akal. Mereka mungkin tidak punya sumber informasi yang cukup banyak untuk membandingkan doktrin tersebut. Tapi, kalau orang berpendidikan tinggi dan masih termakan doktrin, apalagi di masa yangsumber informasinya begitu luas seperti sekarang ini, rasanya tidak masuk akal (tapi ternyata ada!). Sungguh luar biasa aneh. Entah apa yang salah sehingga bisa begitu.

Barangkali itulah inti 1984, mengungkapkan perasaan dan pikiran akan mencegah seseorang termakan doktrin. Karena proses mencari kebenaran akan selalu terjadi, sehingga doktrinasi akan membal dan sulit berpenetrasi pada pikiran seseorang.

(ditulis dengan tujuan dimasukkan ke blog)

Advertisements

One thought on “1984

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s