Life

Teman dan Isi Staples

Pindahan itu melelahkan. Seriously. Dimulai dari proses packing, mengatur kendaraan yang akan digunakan untuk memindahkan barang-barang tersebut, menempuh perjalanan bersama dengan barang-barang yang bejibun, dan mengeluarkan barang dari mobil serta menatanya kembali.

It’s an exhausting process, one cannot enjoy especially if she’s running out of time.

Setelah gw liat-liat lagi, ternyata barang yang tersisa di Jakarta dan akan dibawa mengungsi ke tempat Irvani masih banyak. Huweee… harusnya ada beberapa baju yang gw bawa balik ke Bandung (padahal sebagian udah dibawa balik, loh! Darn). Terus, pakaian yang gw cuci di hari Sabtu pagi, masih belum kering sampai sekarang DAN rok yang gw cuci berbau tak sedap. Menyebalkan sekali, karena rok itu akan dipakai di Aceh nanti. Heu >_< Berarti hari Jum’at pagi, eike harus mencuci rok dan berharap rok itu kering di hari yang sama atau minimal di hari Sabtu.

Ada kejadian aneh yang hadeuh mengada-ngada sekali. Apalah gw ini coba ya. Sabtu malam, setelah memindahkan barang ke rumah (dan gw kesandung serta jatuh dan lutut nyut-nyut) kemudian diantarkan ke ITB (karena gw menginap di wisma dago), gw dan Pras makan di angkringan. Gw juga sudah lama nggak makan di sana, kan. Gw menggasak nasi dengan begitu semangat karena sudah amat lapar (meskipun sebelumnya gw sudah makan sore pada pukul 16.00). Sangking semangatnya makan, gw nggak ngecek apakah isi staples pada bungkus nasi kucing kedua sudah gw singkirkan apa belum. Tiba-tiba gw teringat artikel tentang betapa berbahayanya menggunakan staples pada pembungkus makanan. Beberapa menit kemudian, gw merasa ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan, dan gw mulai curiga, lalu gw panik. Gw mencari-cari isi staples di sekitar piring dan tentu saja gw tidak menemukannya. Karena ia berada di dalam kerongkongan! Gw coba menelan gumpalan nasi dan gumpalan kepanikan. Besoknya, ternyata masih terasa seperti ada yang mengganjal. Minggu malam, gw menghubungi salah seorang teman yang juga agen asuransi tempat gw bergabung menjadi nasabah, untuk menanyakan ada nggak nasabah dia yang lain yang pernah menglami hal serupa. Gw juga update di path, dan akhirnya gw dan teman-teman di kampus (bless them for their kind heart) memutuskan gw harus ke dokter THT, dan kami akan ke RS Proklamasi yang merupakan RS khusus THT.

Gw agak panik karena khawatir biaya pengobatannya terlalu besar, padahal uang gw ingin gw sisihkan  in case  terjadi hal-hal mendadak pada saat gw akan pulang ke Aceh hari Kamis nanti. Tapi, Novi bilang dia akan mengusahakan supaya biaya pengobatan gw diklaim oleh Prudential, meskipun gw juga nggak terlalu berharap banyak. Sambil menunggu dipanggil masuk ke ruangan dokter, gw dan teman-teman duduk di depan loket kasir, dan kami sempat terhenyak mendengar ibu-ibu petugas kasir menyebutkan biaya pengobatan beberapa pasien. Yang mahal banget ternyata obatnya. Huks, gw mengingatkan diri sendiri untuk tidak mengambil obat di situ.

Tak berapa lama kemudian, gw dipanggil ke ruangan. Dokternya masih muda, ganteng, memakai baju kotak-kotak, jam tangan yang gaya sekali, dan rambutnya seperti ada jambulnya (kalau dipikir-pikir kemudian, bentuk rambutnya itu mirip jambul ayam). Dia menanyakan keluhan gw apa, dan dia skeptis ketika gw bilang kalau gw tidak sengaja menelan isi staples. Dia keukeuh  kalau gw menelan duri. Duri apenye, orang nggak makan ikan. Pertamanya gw diperiksa menggunakan lup khusus rongga mulut (gw nggak tahu nama yang benarnya apa), dan hampir muntah-muntah (and that’s why I didn’t have breakfast that morning. I was afraid I would have thrown up while being examined) terus dia sempat judes. Ya keleess.. yg dimasukin bendanya segede apa. Lalu gw dirontgen, untuk memastikan ada atau tidaknya benda yang nyangkut di kerongkongan. Foto rontgen dapat dilihat beberapa menit kemudian, kata bapak yang bertugas di bagian radiologi sih masih ada yang nyangkut, tapi sewaktu dilihat sama dokternya, katanya tidak ada. Memang waktu gw liat juga kayaknya nggak ada apa-apa.

Dia kemudian menawarkan untuk diteropong, semacam mengunakan nozzle untuk endoskopi. Gw udah deg-degan, takut terangsang lagi refleks muntahnya. Mana si dokter yang sepertinya cukup sadar kalau dia ganteng dan tau kalau gw menganggap dia ganteng (hellow) pake bilang “kamu harus kooperatif ya.” Yaelah… yang tidak mau kooperatif sopo, mas? Untungnya setelah dibius lokal lagi, gw tidak hoek hoek. Mungkin karena ukuran nozzlenya cukup kecil ya sehingga tidak merangsang refleks muntah. Setelah dilihat, ternyata memang tidak ada benda apapun yang tersangkut di kerongkongan. Alhamdulillah.

Yang lucu, sebelum diteropong itu (I am not sure if it was an entirely endoscopy procedure or not), si dokter-jambul-ayam menawarkan apakah gw mau dikasih obat aja apa mau diteropong dulu. Tapi, kalau dikasih obat, gw harus balik lagi hari Sabtu untuk evaluasi pengobatan. Gw langsung bilang, gw Kamis mau balik ke Aceh, so no time. Sewaktu diteropong, dia nanya, ngapain pulang ke Aceh. Gw bilang aja, mau tes pns, mau jadi dosen. “Doain ya dok, supaya lulus,” gw bilang begitu, meskipun kalau melihat ekspresi wajahnya, si dokter-jambul-ayam agak meragukan gw yang mau jadi dosen dan penampilan gw. Dia memberikan resep lalu kami semua pulang (oh by the way, yang gw maksud dengan KAMI adalah Novica, Darius -sang calon suami-, Icha, dan Mia. Gw sangat terharu mereka sampai menawarkan diri menemani gw ke dokter…huks huks.. I am really being blessed by Allah). Dia memberikan obat antibiotik (azithromycin! Gila, luka ringan gini ditembak azithromycin…mabok gitu dokter teh) dan antiinflamasi. Nggak ada yang gw tebus, karena tidak terlalu sakit.Kalau kata Bu Cici, gw harus makan makanan yang berserat dan pepaya, supaya cepat buang air besar, dan si isi staples terbawa oleh seratnya itu. Belum beli pepaya… dan lupa beli agar. Hadeuh.

Sudah lega lah, ternyata tidak ada yang menyangkut, dan mudah-mudahan isi staples itu menemukan jalan keluar dari saluran cerna gw. Meskipun gw harus membayar hampir 800 ribu (mudah-mudahan juga, diganti sama prudential meskipun tak terlalu berharap). Ada-ada saja lah gw ini. kejadian yang seperti ini rasanya sering terjadi kalau ada hal besar yang akan terjadi (bukan result ya tapi sesuatu yang akan gw hadapi). Dulu, waktu mau SPMB, handphone gw bawa berenang, basah, sampai harus gw jual. Terus, entah waktu mau apalagi gitu… ada aja kejadian yang aneh. Ujian apoteker, numpahin sediaan yang sedang dibuat. Mau lulus s2, ngerusakin reagen IFN punya Bu imma sampai harus menggantinya sendiri. Mudah-mudahan ini good omen. Tapi, entah lah. Pokoknya jalani saja prosesnya. Kalau good omen ya, mungkin Tuhan ingin menenangkan gw. Kalau bukan, ya berarti Tuhan juga ingin mengingatkan gw untuk selalu berhati-hati dalam bertindak (meskipun gw lebih sering gegabah ya).

Apapun itu, gw bersyukur bahwa tidak ada benda apapun (duri atau isi staples…dasar dokter jambul ayam) yang nyangkut di kerongkongan, proses pindahan telah selesai (tinggal besok mengungsi ke tempat Irvani), tiket ke Banda Aceh sudah di tangan, dan yang paling membuat bersyukur adalah… teman-teman yang amat sangat perhatian sama gw. Semuanya begitu perhatian, Bu Cici dan Bu Lita juga. Aku amat terharu. Makanya itu, berkah, rejeki itu nggak bisa cuma dinilai dengan uang. The smallest things usually happen to be the greatest blessing one gets.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s