Thoughts

Tentang (karya-karya) Eka Kurniawan

Waktu pertama kali Danz menyebutkan tentang Eka Kurniawan dan bagaimana ia tergila-gila akan karya penulis tersebut, gw hanya tersenyum dan mengatakan “Oh ya?!”, barangkali dengan mata sedikit membesar seolah-olah gw tertarik, padahal tidak. Tidak terlalu. Bukan karena gw tidak menyukai karya Eka Kurniawan, karena pada saat itu gw tidak pernah mengenal nama tersebut, tidak pernah membaca karyanya. Pada dasarnya gw tidak terlalu menyukai penulis lokal. Seringkali bahasa mereka sering gw cerna, atau topik yang diangkat juga tidak membuat gw tertarik. Kesimpulan ini gw ambil berdasarkan pengalaman membaca novel dengan intens selama lebih dari 5 tahun. Tentu saja yang perlu diketahui adalah selama periode itu, gw hanya membaca novel roman dan fantasi. Tidak pernah novel genre lainnya.

Ternyata, selera bacaan gw berubah. Sudah beberapa bulan ini gw mulai membaca novel bertemakan selain romance. Dimulai dari karya Pak Paulo Coelho (tentu saja gw mulai dari The Alchemist, dilanjutkan dengan yang lainnya), Madilog (yang tidak selesai-selesai), Max Havelaar (yang selesai dalam 1 malam dan membuat gw menyesal kenapa tidak dibaca dari dulu). Gw bahkan membeli terjemahan 1984 (meskipun belum dibaca dan ingin membeli versi Bahasa Inggrisnya), I am Malala, dan minggu lalu gw tak sengaja membeli beberapa novel karya penulis lokal. Ya, tak sengaja. Karena awalnya gw ingin mencari novel fantasi karya Ursula LeGuin di toko buku terdekat dari kosan, dan ternyata stoknya kosong. Akhirnya, karena merasa harus membeli novel, gw melihat-lihat di rak buku, dan melihat “Lelaki harimau”-nya Eka Kurniawan. Saat melihat sampulnya yang merah itu, gw langsung mengingat Danz dan kekagumannya (mungkin lebih tepatnya ketergila-gilaannya) terhadap novel tersebut. Pendek kata, gw mengambil novel itu. Lalu, di sebelah susunan “Lelaki Harimau” gw melihat “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas Tuntas,” masih karya pengarang yang sama, dan gw pun mengambilnya. Gw juga mengambil dua novel lain.

Awalnya gw ragu akan menikmati karya-karya Eka Kurniawan. Gw skeptis. Ternyata gw salah besar. Amat sangat besar. I love Eka Kurniawan, I love his writings. Tidak aneh kalau Danz begitu memuja karya-karya penulis ini. Kesan gw sama dengan kesan sahabat gw, novel-novel E.K “laki banget.” Nuansa kelaki-lakiannya begitu terasa. Seolah-olah laki-laki yang nyata, yang jantan, hanya ada dan hadir dalam dunia cerita bikinan E.K. Begitu diperkenalkan dengan tokoh utama, serasa testosteron memenuhi ruangan. Bahkan tokoh samping dalam novel-novelnya pun sangat “Laki”! ceritanya begitu mengalir sampai-sampai gw tak sadar alur ceritanya bolak-balik antara masa kini dan masa lalu. Maju-mundur-maju-mundur. Seperti senggama, kopulasi.(meskipun gw belum pernah melakukan kopulasi). Mungkin disengaja, mungkin juga tidak. Tapi tidak ada rasa bingung saat membacanya. Gw bahkan tidak menghentikan bacaan gw dan kembali ke beberapa halaman sebelumnya untuk memastikan alur cerita. Edan!

Hal yang sama gw temukan juga di “Seperti dendam, rindu harus dibalas tuntas.” Novel ini lebih gila lagi. Lebih intens. Novel ini membuat gw naksir dengan Ajo Kawir, membuat gw merasakan kesedihannya, membuat gw merasakan rasa bersalah yang dimiliki Si Tokek, kagum akan perjalanan hidup Ajo Kawir, dan simpati dengan Iteung. Novel ini lebih edan. “Lelaki Harimau” berhasil membuat gw naksir berat dengan Margio, simpati dan paham dengan Nuraeni, kesal luar biasa namun tak sampai membenci Anwar Sadat dan Komar bin Syueb; namun “Seperti dendam, rindu harus dibalas tuntas” berhasil membuat gw mencintai seluruh tokohnya.

Beberapa hari kemudian gw mencari “Corat-coret di toilet”, kumpulan cerpen milik sang penulis yang membuat gw terbahak-bahak membaca cerita-ceritanya, dan gw ingin sekali memiliki “Cantik itu luka” yang ternyata sudah habis dan entah kapan akan dicetak lagi (kalau ada yang punya dan ingin melepaskannya, gw bersedia membeli. Kalau ada 2 eksemplar lebih bagus karena yang satunya untuk Danz).

Sepertinya gw akan menanti karya-karya E.K selanjutnya. Seperti Ajo Kawir yang menanti Iteung pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s