Life

Sabar

Dulu, jaman saya masih kuliah, saya benci sekali dengan mahasiswa-mahasiswa yang idealismenya berlebihan. Saya selalu bilang kalau di dunia nyata, idealisme mereka akan terbanting, dan dugaan saya (yang biasanya tepat) idealisme mereka ini akan lenyap entah kemana. Terhempas entah ke lautan mana. Saya sendiri bukan orang yang idealis, saya lebih praktis. Jadi, dulu saya pikir, saya akan baik-baik saja begitu terjun ke dunia nyata.

Ternyata saya salah.

Saya terlalu naif untuk mengikuti arus dunia nyata ini. Ternyata saya terlalu idealis untuk dunia orang dewasa yang saya terjun di dalamnya ini. Saya selalu berbenturan dengan kondisi-kondisi tertentu yang tidak masuk ke dalam standar moral saya. Saya sulit menyesuaikan diri dengan alur dunia kerja yang kotor. Kotor menurut versi saya. Kotor menurut standar moral saya.

Orangtua saya berpesan agar saya mengikuti arus, agar saya menjalani saja. Tapi, hati saya berontak. Saya tidak mau ikut sesuatu yang salah. Sayangnya saya pengecut. Karena saya masih butuh uang. Karena uang juga saya terjun. Karena uang saya mencemplungkan diri. Dan karena uang saya sulit untuk berenang ke tepian dan menyingkir.

Kata sahabat baik saya, sabar. Kata kekasih saya, sabar.

Mungkin Tuhan juga ingin saya sabar.

Tapi, saya tidak tahu, sabar untuk apa. Sabar hingga sampai kemana saya berenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s