Life

Cukup

Hari Minggu yang lalu saya bertemu dengan teman-teman semasa kuliah dulu. Kami nongkrong di Monas, tidur-tiduran di bawah pohon sampai panas matahari terlalu menyengat untuk bisa ditoleransi. Lalu, kami memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalan ke Festival Palang Pintu di daerah Kemang. Sebelum ke tempat tujuan,kami mampir di Blok M Square untuk makan dan shalat. Selagi makan, kami berbincang-bincang tentang berbagai topik (seperti biasa, kalau kami berkumpul, topik bahasan betul-betul luas, seluas Indonesia Raya) mulai dari berjalan-jalan keliling kota, bahkan ke luar negeri sampai urusan biaya hidup. Di antara kami bertiga, satu teman saya ini, sebut saja dia Kumbang,  paling unik. Pokoknya dia tidak akan pernah khawatir tentang kondisi finansialnya. Maksudnya kalau kepepet, ya udah, nanti juga ada rezekinya. Bahkan, sewaktu dia melakukan perjalanan ke Singapura-Malaysia-Thailand, dia dan rekan seperjalanannya kepepet kehabisan uang, eh tiba-tiba ada donatur dadakan yang membiayai makan dan penginapan. Beda dengan saya dan teman saya (sebut saja dia Laba-laba) yang satu lagi, yang selalu khawatir tentang kondisi finansial kami.

 Kesimpulan yang saya nyatakan dengan lantang adalah :

Beda emang orang yang berpikiran positif dan negatif. Kalau orang-orang kayak dia (sambil nunjuk teman saya  si Kumbang), uangnya tinggal 10 ribu aja akan komentar, “Alhamdulillah, ada 10 ribu, masih bisa makan.” Kalau kita (nunjuk diri sendiri dan Laba-laba), sisa uang tinggal 100 ribu aja bakalan mikir, “Anjrit, 100 ribu lagi. Besok makan apa?”

 Semuanya tentang cara berpikir. Cukup atau tidak cukup. Bisa atau tidak. Juga tentang kepercayaan pada Tuhan (untuk yang percaya pada Tuhan). Kalau sedang terjepit finansial akan diberikan bantuan atau kira-kira akan diberikan bantuan. Kalau kami yang beragama Islam ada suatu ungkapan (apa hadist, apa ayat ya?) bahwa Tuhan itu mengikuti prasangka hambaNya.

 Kalau sudah berpikir tidak cukup, diberikan uang 1 M juga, nggak akan cukup-cukup. Tapi, kalau disyukuri, dan yakin itu rejeki kita, berharap akan dicukupkan kebutuhan-kebutuhan kita (sambil tentu saja berusaha ya), insya Allah akan dicukupkan, dan hidup juga bisa lebih tenang karenanya.

 Saya menulis ini bukan untuk menasehati siapa-siapa selain diri saya sendiri, karena saya ingin merubah pola pikir dari saya yang sekarang menjadi seperti si Kumbang.

 

^^

Advertisements

One thought on “Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s