Life

Selamat jalan, Pak Sigit.

image

Minggu pagi (29/12/2013), seperti kebiasaan saya saat bangun pagi dan goler-goler, saya membuka akun media sosial yang saya miliki dan melihat ada notifikasi posting baru di grup Ikatan Alumni, yang ditulis oleh dosen saya, memberitahukan ada kabar duka bahwa dosen Farmasi ada yang meninggal. Awalnya saya pikir, yang meninggal adalah dosen senior yang saya sudah tidak kenal. Ingin tahu, saya buka posting tersebut, dan alangkah kagetnya saya ketika saya membaca bahwa yang meninggal adalah dosen yang usianya masih muda, yang ramah pada mahasiswa, dan menginspirasi banyak mahasiswa. Beliau adalah Dr. Joseph Iskendiarso Sigit, Apt.

image

Pagi itu saya bengong sambil berbaring. Saya tidak percaya beliau, yang masih muda (usianya 44 tahun), meninggal dunia. Terakhir kali saya bertemu beliau adalah di Workshop yang diadakan Sekolah Farmasi dua pekan yang lalu. Kami sempat bicara sebentar, tentang workshop, tentang proses saya sedang melamar cpns dosen.

image

Pak Sigit yang saya ingat adalah dosen yang tidak mengenal batas ruang dan usia. Saya bisa berdiskusi apapun dengan beliau, dimanapun kami bertemu. Entah saat sedang duduk-duduk santai di ruang gelap (yang tidak gelap sama sekali) di farmakologi; entah di lorong. Topiknya sangat bervariasi. Materi kuliah, perkembangan terkini di dunia farmasi, keinginan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Saya ingat sekali beliau menawarkan katalog universitas di Jerman pada saya dan teman saya, Irvani, apabila kami benar-benar ingin melanjutkan sekolah ke Jerman.

Saya ingat sekali, saya dengan nelangsa cerita tentang perkembangan thesis saya (padahal beliau bukan pembimbing saya, tapi saya selalu curhat tentang thesis saya pada beliau), dan komentar ringan beliau yang memberi saya harapan untuk maju. Saya ingat, ketika saya benar-benar nelangsa dengan thesis saya, beliau bilang, “Tidak ada hasil itu adalah hasil!” Saya ingat melalui beliau juga saya mendapat kesempatan bekerja di Jakarta walau sesaat, dan beliau berpesan “Kamu pelajari apa yang ada di situ, nanti gunakan, kembangkan.”

Seperti yang adik kelas saya tulis di akun facebooknya, hal yang pertama kali diingat dan akan selalu diingat oleh kami, mahasiswanya, adalah rumus CO (cardiac output) = SV (stroke volume) x HR (heart rate). rumus yang akan selalu diingat setiap kali kami mendengar kata hipertensi. Rumus yang menjadi pegangan utama saya setiap kali saya menjadi asisten praktikum farmakologi. Beliau selalu berusaha mempermudah mahasiswanya dalam belajar, dan kami merasakan kemudahan itu.

Pak Sigit pergi tiba-tiba. Mungkin menurut Tuhan, tugas beliau sudah selesai di dunia ini.

image

Selamat jalan, Bapak. Selamat berbahagia di pangkuan-Nya. Mudah-mudahan, kami yang masih berada di dunia ini bisa menyelesaikan tugas kami sebaik mungkin, bisa melanjutkan apa yang telah Bapak mulai. Sampai berjumpa lagi Bapak 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Selamat jalan, Pak Sigit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s