Life · Thoughts

Perempuan juga manusia.

Happened this day. Baru kali ini dalam hidup saya, keberadaan saya sebagai manusia sangat tidak dihargai hanya karena jenis kelamin saya dan “kedudukan” sebagai perempuan. Saya mengikuti sebuah wawancara untuk sebuah posisi. Ternyata, status saya yang perempuan dan lajang menjadi masalah besar untuk institusi tersebut. Berulang kali saya ditanyakan, bagaimana kalau saya menikah dengan pria yang bekerja atau berdomisili di luar kota tempat institusi tersebut berada. Berulang kali juga saya menjawab bahwa karena sampai saat ini tidak ada calon dan tidak ada juga yang mendekati, dan apabila saya diterima di institusi tersebut, maka komitmen pertama saya adalah pada institusi tersebut. Ternyata jawaban saya tidak membuat yakin, karena menurut pewawancara, seringkali peserta menjawab seperti itu tapi pada kenyataannya berbeda. Peserta wanita yang diterima kemudian menikah, ikut kemana suami pergi.

Sampai akhirnya saya kembali ditanya pertanyaan yang sama, dan saya menjawab :

Perkenalan antara laki-laki dan perempuan, apalagi dengan tujuan pernikahan, tidak serta merta harus diterima. Ada proses kompromi dan negosiasi. Seandainya saya diterima di institusi ini, komitmen awal saya adalah di sini. Apabila yang bersangkutan tidak bisa menerima komitmen saya, maka sebaiknya tidak jadi saja.

Yang kemudian dijawab oleh pewawancara : Kalau begitu Anda bersedia mengorbankan hidup anda untuk institusi ini?

Saya membalasnya dengan : Maaf, tapi dengan mengikuti keinginan orang tersebut, pindah kerja, sementara saya sudah berkomitmen untuk membaktikan keilmuan saya, bukankah itu tidak adil untuk saya?

Dan saya menjadi amat sangat marah.

Apa tidak bisa, perempuan diposisikan sebagai manusia yang memiliki keinginan untuk berkarya tanpa harus dicocok hidungnya bak kerbau oleh pasangan hidupnya?

Apa tidak bisa perempuan punya bargaining position yang lebih tinggi sehingga tidak harus menyembah-nyembah dan nurut pada pasangan atau calon pasangan hidupnya?

Apa tidak boleh perempuan bilang : saya tidak mau menikah dengan Anda kalau Anda tidak mengikut “my term and condition?”

Kenapa perempuan selalu saja dinilai atas dasar apa yang bisa ia perbuat dengan kelamin dan keberserahan dirinya pada keluarga saja? Kenapa yang “boleh” semena-mena mengambil keputusan adalah pria?

Saya muak sekali dengan budaya perempuan harus nurut pada suami, mengurus keluarga dan sebagainya. Untuk apa perempuan disekolahkan tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya?

Saya merasa amat sangat marah dengan pertanyaan tentang status perkawinan dan apa yang akan terjadi kalau saya menikah. kalau memang institusi tersebut takut akan terulang kejadian dimana karyawannya kabur setelah menikah, buat saja kontrak tertulis bahwa tidak boleh mutasi kerja selama sekian tahun, atau bersedia tidak menikah selama sekian tahun. Tidak salah. Beberapa instansi lain juga melakukan hal serupa. Kenapa jadi peserta yang berjenis kelamin perempuan yang dilecehkan seperti itu?

Entah kenapa saya merasa, ini seperti perempuan lain yang berzina, kami-kami yang tidak tahu apa-apa yang dituduh pelacur, hanya karena jenis kelaminnya sama.

-ditulis masih dalam keadaan marah meskipun tidak semarah beberapa jam yang lalu-

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan juga manusia.

  1. Halo Brain Maze, begitulah hidup. Nanti jikalau Anda sudah menikah tetapi belum punya anak, ketika wawancara pekerjaan, akan ditanya rencana kapan punya anak dan berapa anak yang Anda mau. Lagi-lagi karena perusahaan menghitung cuti hamil dan kemungkinan berhenti kerja karena punya anak.

    Menyebalkan memang dan kalau mau diubah, tidak tahu mulai darimana karena kultur di dunia begitu, bahkan di negara yang konon menghargai persamaan hak wanita dan pria.

  2. copas dr status darwis tere liye:
    *Pengorbanan seberapa banyak?
    Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali?
    Kenapa? Karena dia membesarkan anak2?
    Bukan itu jawabannya, karena banyak orang
    yang bisa membesarkan anak2 sama baiknya
    dgn mereka, baby sitter misalnya, dibayar.
    Karena dia mendidik anak2? Bukan. Karena toh
    juga banyak yang bisa mendidik anak2 lebih
    baik, guru, trainer, instruktur misalnya.
    Semakin profesional, semakin jago–meski
    semakin mahal bayarnya.
    Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali?
    Jawabannya adalah: karena mereka
    mengorbankan hidup mereka demi orang2 di
    sekitarnya berkembang. Pengorbanan, itulah
    kata kuncinya.
    Sungguh, tidak terbilang ibu rumah tangga yang
    bisa saja jadi wanita karir, bisa menggapai CEO,
    direktur, tapi dia memilih menjadi ibu rumah
    tangga di rumah saja. Tidak terbilang ibu rumah
    tangga yang bisa jadi profesor, doktor, jadi
    apapun yang mereka mau karena pintar dan
    brilian. Tidak terbilang dari mereka yang bisa
    jadi Presiden, Menteri, astronot, dokter, artis,
    apapun itu, tapi ketika mereka memilih
    menghabiskan waktu menjadi ibu rumah
    tangga, mereka telah mengambil langkah yang
    amat mulia: mengorbankan hidup mereka demi
    membesarkan dan mendidik anak2nya,
    mendukung suaminya dari belakang, menjadi
    orang dibalik layar. Mereka mengorbankan
    hidupnya agar orang disekitar berkembang.
    Kenapa menjadi guru itu amat mulia? Juga sama
    rumusnya, karena guru2 terbaik, hei, sejatinya
    guru2 terbaik ini bisa sukses kalau dia mau jadi
    pengusaha, mau jadi insinyur, tapi mereka
    memilih mengajar dengan kesadaran penuh,
    dengan kecintaannya. Mereka mengorbankan
    hidupnya dengan cukup menjadi guru saja,
    mendidik anak2, agar anak2 ini berkembang
    baik, menjadi kebanggaan. Tahu resikonya,
    tidak akan kaya raya dengan jadi guru. Jalan
    yang dia pilih. Itulah kenapa guru amat mulia.
    Disekitar kita, banyak sekali jenis pengorbanan
    yang indah. Sebatang lilin membiarkan
    tubuhnya meleleh demi terang sekitar. Seorang
    Ibu rela hidup-mati demi melahirkan anak
    tersayang. Seorang Ibu rela tidak beli baju demi
    anak2nya beli baju. Tidak tidur demi anak2nya
    tidur. Pengorbanan2 yang mengharukan. Dan
    kita, Kawan, selalu bisa mengambil jalan itu,
    jalan pengorbanan. Bersedia menukar hidup
    kita demi kebahagiaan orang2 yang kita sayangi.
    Ketahuilah, semakin lapang hati kita
    memilihnya, semakin lega, maka semakin indah
    jalan pengorbanan itu. Dilakukan penuh
    kesadaran, dilakukan penuh ihklas dan tulus.
    Biarlah, biarlah orang2 yg kita cintai
    berkembang, orang2 menggapai cita2, mimpi2
    terbaiknya, kita memutuskan menjadi jalan
    terbaik bagi mereka, men-support, mendukung.
    Nama kita boleh jadi tidak akan diukir di
    prasasti, nama kita boleh jadi tidak akan diingat
    siapapun. Tapi kita akan selalu mengukir,
    mengingat ketulusan pengorbanan yang kita
    lakukan. Itulah kenapa Ibu rumah tangga amat
    mulia dan spesial. Mereka adalah pahlawan
    dalam sebuah pertempuran besar egoisme,
    keinginan diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s