Thoughts

Kemandirian perempuan

Kebanyakan perempuan, semakin beranjak dewasa, keinginan untuk memiliki keluarga sendiri akan meningkat (minimal tidak padam). Berbeda dengan saya. Semakin usia saya bertambah, meskipun kadangkala ada kebutuhan untuk berpartner, saya justru semakin ragu akan lembaga yang disebut keluarga. Banyak hal yang membuat ragu. Yang paling utama adalah hubungan dengan pasangan hidup.

Banyak teman perempuan yang sudah menikah. Beberapa dari mereka nampak bahagia, entah bahagia secara nyata atau hanya pura-pura. Beberapa dari mereka nampaknya setelah menikah bukannya semakin cerdas, tapi semakin naif dan tidak bisa berpikir. Saya bergidik ngeri membayangkan kehidupan pernikahan macam apa yang bukannya membuat seseorang menjadi lebih baik, tapi IQnya mungkin menurun.

Yang paling membuat saya takut, khawatir, dan semakin ragu adalah kemandirian perempuan saat memasuki dunia pernikahan. Banyak yang tetap mandiri, saya patut acungkan jempol bagi para perempuan tersebut. Namun, saya juga melihat beberapa dari mereka yang kehilangan kemandiriannya setelah menikah. Oh, ini bukan tentang pergi ke pasar/mall/mengantar anak sekolah sendiri. Bukan. Ini tentang kemandirian dalam mengambil keputusan.

Agama saya mengajarkan wanita harus mengikuti perkataan suaminya. Yang ekstrim sampai bilang wanita diam di rumah saja, mengurus rumah tangga dan anak.

Apa iya dalam mengambil keputusan yang jelas-jelas berhubungan langsung dengan kesehatan-kebahagiaan perempuan itu sendiri perlu izin suami? Apa perempuan tidak punya otak? Atau otaknya diberangus setelah ijab kabul selesai dilaksanakan?

Mengapa untuk melakukan suatu tindakan, yang jelas-jelas bukan tindakan melenceng, harus minta izin? Apa sebegitu rendahnya kemampuan istri dalam mengambil keputusan sehingga kepala keluarga harus memveto keputusan tersebut?

Melihat contoh-contoh pernikahan di sekitar saya, dan betapa perempuan menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya oleh pasangan hidupnya, membuat saya berpikir berjuta-juta kali tentang pernikahan dan keluarga.

Yang lebih membuat sedih adalah sebagian besar perempuan terus melaksanakan tradisi ini hanya karena tradisi ini sudah beratus tahun dijalankan, hanya karena “agama” menyuruh seperti itu, hanya karena “rasa hormat” pada suami.

Apakah Anda menghormati diri Anda untuk memberi kepercayaan lebih tinggi pada diri Anda sendiri untuk mengambil suatu keputusan?

Apakah Anda tidak merasa terhina dan marah pada diri sendiri karena merendahkan kemampuan Anda dalam menganalisis suatu masalah serta mempertimbangkannya dalam pengambilan keputusan?

Advertisements

6 thoughts on “Kemandirian perempuan

  1. Jumlah manusia di bumi sudah 6 M, dan tidak semua cukup dikasih makan dengan sumber daya yang ada. Jika memang merasa belum perlu turun tangan untuk mencegah kepunahan spesies kita, itu alasan yang cukup bisa diterima oleh pemilik Bumi.

    Manusia bersukaria melakukan reproduksi tanpa berpikir soal sumber daya penunjang kehidupan mereka ( kita), ada pula yang bersuka ria berkopulasi tapi tak mau reproduksi, ada yang menambah jumlah, ada yang mereduksi, itu bisa terjadi tanpa perlu campur tangan manusia- manusia muda produktif, yang ogah terlibat memenuhi bumi.

    Manusia belum akan punah, tak perlu turun tangan lah ya.

    1. Titik beratnya bukan di reproduksinya sih, tapi tingkat kemandirian berpikirnya. Kenapa membodohi diri sendiri hanya karena berganti status dari lajang menjadi menikah. Seperti menyia-nyiakan apa yang sudah dipelajari di sekolah. Kalau tidak sekolah, bolehlah merasa tidak kompeten untuk mengambil keputusan. Ini sudah sekolah, bertahun-tahun, ada yang sampai sarjana pula, atau malah lebih tinggi. Kok mau begitu sudah menikah, keputusannya diveto oleh pihak laki-laki atas dasar keharusan mengikuti perkataan suami demi mendapat pahala?

      Nggak masuk di logika saya -___- Seperti kebodohan yang diturunkan turun menurun.

  2. betul…saya punta teman yg setelah menikah semua-muanya kehiduannya cuma masalah suami aja, tiap ngobrol selalu bawa “suami aku gini..gini…” dan isi omongannya yg sarjana S1 itu hanya sekitar dapur, dan kasur….you know, sex etc…that’s it…no ‘smart’ conversation. Setiap ngobrol ngga erhitung berapa kali nyebut ‘suami’….dan tanpa suaminya dia bukan apa-apa…bilangnya udah enak, udah ada yg nafkahin ngapain lagi pusing-pusing…. tampaknya ‘mengejek’ lajang spt saya, hihihi….(dalam hati saya bilang ga perlu pake toa utk bilang kenapa saya belum menikah, yg pdkt ke saya juga banyak, hihihi tp saya yg belum yakin)
    So pity on her and so shallow…

    1. Ya, dan amat jarang yang benar-benar bisa diajak diskusi. I do really hope women won’t just bend into society’s opinion and stand up to what they think and feel. Well, that’s a hope

  3. semoga kita menemukan soulmate yang bisa menjadi partner,suami,kakak, ayah (beli satu dapat banyak) 😆

    aamiin

    klo aku sendiri, masih enjoy dengan diri sendiri dan jalan-jalan euy, kendali masih di diri sendir :D,heheheheheh

    1. Amin ^^ Nggak apa-apa, Ric, nikmati saja waktu dan kesempatan yang ada untuk membuat dirimu nyaman dan bahagia. Suatu saat, kalau Mr. Right datang, mudah-mudahan dia membuat kenyamanan dan kebahagiaannya berlipat ganda 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s