Life

Ospek yang kebablasan (lagi)

Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, membaca berita dan melihat foto tentang ospek yang sudah melanggar hak asasi manusia. Saya trauma, marah, muak, bahkan terpikir apa sebaiknya tidak usah punya anak saja sekalian. Tidak pernah terbesit dalam benak saya, apa jadinya anak saya bila masuk ke sistem pendidikan yang bukan hanya TIDAK mendidik perilaku tapi juga MENDUKUNG pelanggaran hak manusia seperti itu.

Untuk apa junior-junior itu ditendang, dipukuli?

Untuk apa junior-junior itu dibatasi asupan nutrisinya dengan membatasi jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi saat “diklat”?

Untuk apa junior-junior perempuan itu dilecehkan secara seksual entah oleh senior laki-laki atau perempuan?

dan yang paling membuat saya tidak habis pikir :

UNTUK APA ANDA NURUT PERINTAH SENIOR ANDA KALAU JELAS-JELAS PERINTAH ITU SALAH?

 

Kemudian, saya jadi bertanya-tanya. Apa gunanya Ospek? Apa gunanya diklat yang modelnya seperti itu?

Membuat “anak-anak baru” lebih tangguh? (please, anak-anak yang mengikuti ospek ini, meski telah diospek, ketangguhannya tidak akan teruji sebelum dia benar-benar terjun ke masyarakat. Hidup di luar kampus lebih kejam daripada di kampus, tapi tidak ada cerita kalau tidak nurut sama bos kemudian ditendang ramai-ramai oleh direksi perusahaan)

Membuat “anak-anak baru” mengerti tentang solidaritas? (yeah, right! Ini yang namanya mengajarkan gotong royong ya? Kakak kelas gotong royong menyiksa dan melecehkan adik kelas. Kakak kelas gotong royong melanggar hak asasi manusia adik kelasnya. Sementara itu, adik kelas juga gotong royong membiarkan kakak kelas berbuat salah. Pihak sekolah/universitas gotong royong menutup mata terhadap kesalahan anak didiknya. Bagus! Negara ini memang sangat menjunjung tinggi gotong royong, dalam kesesatan)

Membuat “anak-anak baru” paham posisinya sebagai junior dan menghargai senior? (Yang namanya penghargaan dan rasa percaya itu tidak mendadak didapat, tapi harus diusahakan. Anda ingin dihargai? Sudah berbuat apa sehingga Anda pantas dihargai? Anda ingin dihormati? Apakah perilaku Anda cukup terhormat untuk mendapatkan timbal balik seperti itu?)

Semua orang ribut masalah Pekan Kondom Nasional. Ribut masalah Obat halal/haram. Ribut masalah korupsi. Berapa persen warga negara ini yang ribut tentang masa depan generasi muda yang konon katanya akan menjadi tumpuan bangsa?

Pernahkah Anda berpikir bahwa perilaku biadab yang terjadi pada saat ospek/diklat itu akan menghasilkan gangguan jiwa pada mereka yang mengalaminya?

Pernahkah Anda berpikir bahwa senior yang berperilaku seperti itu, yang ikut tertawa-tertiwi, yang merencanakannya adalah orang-orang yang mentalnya sebenarnya terganggu? Mungkin calon pembunuh atau pemerkosa?

Apakah Anda tidak ngeri bahwa anak-anak yang mengalami hal tersebut akan semakin menarik diri dari lingkungannya? Rasa percayanya terhadap komunitas akan menurun?

Apa Anda mau anak Anda dididik dalam sistem pendidikan yang mendiamkan hal seperti ini?

 

Advertisements

2 thoughts on “Ospek yang kebablasan (lagi)

  1. Ini udah seperti masalah bertahun-tahun tapi kenapa orang-orang diam saja. Padahal feedback di masyarakat udah jelas ya. Gak satu pun dari hasil ospek itu mendekati Nelson Mandela. Kenapa melanjutkan budaya aneh seperti ini ya? Kita semua perlu mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan yang dilumrahkan sebenarnya. Ada faedah atau gak sih?

    1. Benar, krn apa yg dianggap kebiasaan,dan dilakukan tanpa banyak tanya, justri hrs dipertanyakan. Apakah kebiasaan itu benar dan berfaedah? >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s